Chapter Six
Surat di Balik Bingkai
POV: Alea
Setahun.
Haul pertama Kak Cel jatuh hari Kamis, di bulan yang sama ketika hujan di Cipularang membuat truk dari arah berlawanan kehilangan kendali.
Kami mengadakannya di rumah Tebet. Bukan di Cipete. Mama Kak Cel yang memintanya. Di rumahnya, katanya di telepon, dengan suara yang masih serak setelah setahun. Di rumah yang dia cat sendiri bangkunya.
Aku datang pukul tiga sore dengan Raka dan Bintang. Bintang sudah tujuh bulan sekarang. Pipinya tembam, rambutnya tipis dan berdiri seperti bulu anak ayam, dan ia tertawa setiap kali melihat Melody, karena Melody selalu menyapanya dengan suara yang sangat serius, seperti menyapa kolega di rapat.
Selamat sore, Bintang.
Bintang tertawa sampai tersedak.
Rumah Tebet sudah penuh. Ibu-ibu kompleks yang dipimpin Bu Yati sedang menata kue di meja panjang di ruang tengah. Karpet sudah digelar sampai ke teras. Bang Togar dan istrinya membawa dua dandang nasi kuning. Bayu dan Laras menyusun kursi plastik. Pak Udin, yang sudah pensiun dari Trista bulan lalu, datang dengan peci baru dan kantong plastik berisi teh manis dalam botol, karena katanya teh manis harus ada di setiap acara, Neng, itu hukumnya.
Kak Shaf di dapur. Tentu saja Kak Shaf di dapur.
Ia memakai gamis abu-abu dan kerudung hitam, mencuci piring dengan gerakan yang cepat dan rapi, seperti ia mencuci piring di malam tahlilan pertama setahun lalu. Tapi kali ini ia tidak memecahkan gelas. Kali ini, ketika Melody berlari ke dapur dengan hoodie abu-abu dan menarik ujung gamisnya, Kak Shaf berhenti mencuci, mengeringkan tangannya, dan berjongkok.
“Kenapa, Sayang?”
“Tante Fila, Bintang udah datang.”
“Iya? Udah kamu sapa?”
“Udah.” Melody mengangguk serius. “Dia ketawa. Dia selalu ketawa.”
“Itu karena dia suka kamu.”
“Tante Fila,” kata Melody. Lalu ia berhenti. Menatap lantai. “Hari ini Mama ulang tahun?”
Dapur menjadi sunyi.
Kak Shaf menatapnya. Lalu menatapku di ambang pintu dapur.
“Bukan ulang tahun, Sayang,” kata Kak Shaf pelan. “Hari ini setahun Mama pergi. Semua orang datang buat doain Mama.”
Melody menatapnya.
“Mama denger?”
Kak Shaf tidak langsung menjawab. Ia menatap mata Melody. Mata datar yang persis mata ayahnya.
“Tante nggak tahu,” katanya jujur. “Tapi Tante percaya iya.”
Melody mengangguk. Seperti menerima jawaban itu sebagai laporan status yang valid.
Lalu ia berbalik dan berlari ke ruang tengah, ke Bintang, yang tertawa lagi ketika melihatnya.
Kak Shaf masih berjongkok di lantai dapur.
Aku berjalan ke sampingnya. Mengulurkan tangan. Membantunya berdiri.
“Kak,” kataku.
“Hmm.”
“Kakak udah bilang ke dia?”
Kak Shaf menatapku. Ia tahu siapa yang kumaksud. Sejak malam telepon itu, empat bulan lalu, kami tidak pernah membicarakannya lagi. Tidak sekali pun. Tapi setiap kali kami berdua di ruangan yang sama, kalimat itu ada di udara di antara kami, seperti wangi jahe yang dimasukkan paling akhir.
“Belum,” katanya.
“Kak...”
“Le.” Kak Shaf kembali ke bak cuci piring. Mengambil piring berikutnya. “Hari ini haul Celine.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan hari ini.”
Aku menatap punggungnya.
“Kapan, Kak?”
Ia tidak menjawab.
Ia mencuci piring itu. Lalu piring berikutnya. Lalu piring berikutnya.
Tahlilan dimulai setelah magrib.
Ruang tengah penuh. Teras penuh. Bahkan halaman depan, di bawah pohon mangga tetangga yang dahannya menjulur ke pagar, penuh orang yang duduk di karpet tambahan yang dibawa Pak Udin.
Kak Alfa duduk di depan. Di samping ustaz yang memimpin doa. Peci hitam. Baju koko putih. Ia sudah memotong rambutnya bulan lalu, dan mencukur janggutnya. Ia terlihat lebih seperti dirinya sendiri. Lebih seperti Kak Alfa yang dulu duduk di meja pojok lantai 17, dengan headphone tanpa musik.
Tapi lebih kurus. Masih lebih kurus.
Melody duduk di pangkuannya. Hoodie abu-abu di atas gamis kecil putih yang dibelikan Mama Kak Cel. Ia tidak mau melepas hoodie itu. Tidak hari ini. Tidak hari apa pun.
Papa dan Mama Kak Cel duduk di samping Kak Alfa. Papa Kak Cel memegang tasbih. Tangannya sudah tidak segemetar setahun lalu. Ia sudah mulai main catur lagi, kata Kak Alfa. Setiap Minggu. Dengan Kak Alfa. Ia selalu kalah, tapi ia selalu minta main lagi.
Kak Shaf duduk di barisan belakang. Di dekat pintu dapur. Seperti biasa. Selalu di tempat yang paling dekat dengan pintu keluar.
Aku duduk di sampingnya, dengan Bintang yang tidur di gendonganku.
Doa dimulai. Ratusan suara membaca bersama. Yaa Siin. Wal qur’aanil hakiim.
Aku membaca dengan suara pelan.
Di sampingku, Kak Shaf tidak membaca. Bibirnya bergerak, tapi tidak ada suara yang keluar. Matanya menatap lurus ke depan. Ke dinding ruang tengah.
Aku mengikuti arah tatapannya.
Di dinding ruang tengah, di atas televisi, ada bingkai kayu cokelat.
Bingkai yang dibuat Kak Cel sendiri, empat tahun lalu, dari kertas HVS kusut yang diratakan dengan buku tebal. Tabel dengan tinta biru. Tulisan tangan Kak Alfa yang kecil dan rapi.
TARGET: Celine Aurelia
Durasi: Seumur hidup
Taruhan: Siapa yang pertama bilang “menikahlah denganku”
Hadiah: Aku
Catatan: Rumah.
Digaris bawah dua kali.
Kak Shaf menatap bingkai itu sepanjang doa.
Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan.
Tapi aku melihat tangannya. Di pangkuannya. Mencengkeram ujung gamis abu-abunya sampai buku-buku jarinya memutih.
Kejadiannya pukul sembilan malam. Setelah semua tamu pulang.
Hanya tinggal kami. Kak Alfa, Melody, aku, Raka, Bintang, Kak Shaf, Bang Togar dan istrinya, Bayu dan Laras. Papa dan Mama Kak Cel sudah pulang ke Cipete, diantar sopir. Pak Udin pulang paling akhir, setelah memastikan semua botol teh manis habis.
Kami duduk di ruang tengah yang berantakan. Karpet yang belum digulung. Piring-piring kotor di meja panjang. Sisa nasi kuning di dandang.
Melody belum tidur. Ia menolak tidur. Ia bilang ia mau nunggu Mama dengerin doanya selesai.
Ia berlari keliling ruang tengah dengan Bintang. Atau lebih tepatnya, ia berlari keliling ruang tengah sementara Bintang, di gendongan Raka, tertawa histeris setiap kali Melody lewat.
“Melody,” kata Kak Alfa. “Pelan-pelan.”
“Iya, Papa!”
Melody tidak pelan-pelan.
Ia berlari lagi. Melewati sofa. Melewati meja panjang. Melewati televisi.
Kakinya tersandung ujung karpet yang terlipat.
Ia jatuh. Tidak keras. Ia jatuh ke depan, ke arah dinding, dan tangannya terulur untuk menahan diri, dan menahan dirinya di dinding di samping televisi.
Tepat di bawah bingkai kayu cokelat.
Bingkai itu bergoyang.
Paku yang menahannya, yang sudah empat tahun tertanam di dinding, yang dipasang Kak Cel sendiri dengan palu pinjaman Bu Yati, bergeser. Sedikit.
Lalu lepas.
Bingkai itu jatuh.
Ke lantai. Ke karpet. Dengan bunyi yang teredam.
Kacanya tidak pecah. Karpetnya terlalu tebal.
Tapi sandaran kayu di bagian belakang bingkai, papan tipis yang ditahan dengan paku-paku kecil, terlepas. Terbuka setengah.
Dan dari celah di antara sandaran kayu dan kertas HVS dengan tinta biru, sesuatu jatuh ke karpet.
Tiga amplop.
Ruang tengah membeku.
Melody, yang masih berlutut di karpet setelah jatuh, menatap tiga amplop itu dengan mata lebar.
Kak Alfa berdiri dari sofa.
Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Seperti mendekati sesuatu yang bisa meledak. Ia berlutut di karpet, di samping Melody, di depan bingkai yang terbuka.
Tiga amplop putih. Ukuran biasa. Ditutup dengan lem, bukan perekat. Di masing-masing amplop, tulisan tangan dengan tinta biru.
Tulisan tangan yang kukenali.
Bulat. Rapi. Sedikit miring ke kanan. Huruf a yang ditulis seperti angka 2, karena katanya itu lebih elegan. Tulisan yang ada di seratus delapan puluh issue GitHub. Tulisan yang ada di kartu ulang tahun yang ia berikan kepadaku setiap tahun, dengan stiker kucing di pojoknya.
Amplop pertama:
Untuk Mas. Kalau-kalau.
Amplop kedua:
Untuk Le. Kalau-kalau.
Amplop ketiga:
Untuk Shaf. Kalau-kalau.
Dan di bawah ketiga amplop itu, terselip di sudut bingkai, sehelai kertas kecil. Dilipat dua. Kak Alfa membukanya.
Ia membacanya. Lalu berhenti bernapas.
Lalu menyerahkannya padaku. Tanpa bicara. Tangannya gemetar.
Aku membacanya keras-keras, karena Kak Alfa tidak bisa.
Ditulis di malam ulang tahun kedua Melody. Habis nonton film sedih sama Shaf dan Le, terus Shaf bilang “kalau kita mati duluan, kita harus nulis surat buat orang-orang yang kita sayang, biar mereka nggak bingung.” Terus kami ketawa. Terus aku pulang dan nggak bisa tidur dan nulis tiga surat ini.
Aku sembunyiin di sini karena Mas nggak pernah nyentuh bingkai ini. Mas cuma natap. Tiap pagi. Jam lima lewat empat, sesudah baca log. Mas pikir aku nggak tahu.
Kalau surat ini nggak pernah ditemuin, bagus. Berarti aku masih di sini, dan suatu hari aku bakal ngakak bacain ini sendiri waktu kita udah tua.
Kalau ditemuin...
Maaf, Mas.
Bacain pelan-pelan.
— C.
Bang Togar menangis. Tentu saja Bang Togar menangis. Istrinya memeluknya dari samping.
Bayu menutup wajahnya dengan dua tangan. Laras mengusap punggungnya.
Raka memeluk Bintang lebih erat.
Aku menangis. Aku selalu menangis. Setahun ini aku menangis lebih banyak dari tiga puluh tahun sebelumnya digabungkan.
Kak Alfa tidak menangis.
Ia berlutut di karpet dengan amplop bertuliskan Untuk Mas di tangannya. Menatapnya. Tidak membukanya.
Melody menatap ayahnya. Lalu menatap amplop itu.
“Papa,” katanya. “Itu dari Mama?”
“Iya, Sayang.”
“Mama nulis surat?”
“Iya.”
“Buat Papa?”
“Iya.”
“Bukain,” kata Melody. “Bacain.”
Kak Alfa menatap anaknya lama.
“Nanti,” katanya.
Kata yang sama. Nanti. Seperti waktu Melody tanya apakah bangku miring di atap masih ada.
Melody tidak protes. Ia hanya menatap ayahnya. Lalu mengangguk.
Lalu ia mengambil amplop kedua dari karpet. Untuk Le. Berjalan ke arahku. Menyerahkannya.
“Tante Lea,” katanya. “Ini punya Tante.”
Aku menerimanya dengan tangan gemetar.
Lalu Melody kembali ke karpet. Mengambil amplop ketiga.
Untuk Shaf.
Ia menatap sekeliling ruang tengah.
Kak Shaf tidak ada.
Aku menemukannya di teras.
Duduk di lantai keramik. Di sisi kiri bangku putih kecil yang kosong. Lututnya ditekuk ke dada. Gamis abu-abu. Kerudung hitam yang sudah tidak rapi.
Ia tidak menangis.
Ia menatap ujung gang. Seperti Melody. Seperti setiap sore selama setahun.
Aku duduk di sampingnya. Pelan. Dengan amplop bertuliskan Untuk Le di pangkuanku.
“Kak,” kataku.
“Aku yang ngusulin,” katanya. Suaranya sangat datar. Seperti Kak Alfa. “Malam itu. Habis nonton film. Film Korea, yang ceweknya mati kena kanker terus ninggalin surat. Kita bertiga nangis. Terus aku yang bilang, kalau kita mati duluan, harus nulis surat.”
“Aku ingat, Kak.”
“Aku bercanda, Le.” Ia menatap ujung gang. “Aku bercanda. Aku nggak pernah nulis surat. Kamu nulis?”
“Nggak.”
“Dia nulis.” Kak Shaf tertawa. Pendek. Pecah. “Tentu aja dia nulis. Celine selalu nyelesaiin semuanya. Proposal, presentasi, kampanye. Seratus delapan puluh issue. Dia nggak pernah setengah-setengah.”
Ia berhenti.
“Aku nggak mau baca,” katanya.
“Kak...”
“Aku nggak mau baca, Le.” Suaranya pecah. Akhirnya. “Kalau aku baca, dan dia bilang jagain Mas, aku nggak bisa. Aku nggak bisa jagain dia kayak yang dia mau. Aku nggak bisa jagain dia kayak sahabat. Aku udah gagal dari awal. Aku udah gagal dari hari kedua puluh satu.”
Aku menatapnya.
“Dan kalau dia bilang,” lanjut Kak Shaf, lebih pelan, “kalau dia bilang hal lain. Kalau dia tahu. Kalau dia...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia menutup wajahnya dengan dua tangan.
Aku menatap amplop di pangkuanku. Untuk Le. Kalau-kalau.
Aku membukanya.
Kertas HVS. Dilipat tiga. Tulisan tangan bulat dan rapi dengan tinta biru, huruf a yang seperti angka 2.
Aku membacanya di bawah lampu teras yang dikerubungi laron, di samping Kak Shaf yang menutup wajahnya.
Le,
Kalau kamu baca ini, berarti aku udah nggak ada, dan kamu pasti lagi nangis. Berhenti dulu. Ambil tisu. Raka pasti bawa, dia kan baca panduan Bayu.
Udah?
Oke.
Le, makasih. Buat semuanya. Buat bekal telur dadar yang keasinan, yang bikin dia pertama kali bilang jujur ke seseorang dan kamu jadi orang pertama yang dia jujurin, bukan aku. Aku cemburu soal itu lama banget. Aku nggak pernah bilang.
Makasih udah ngasih tahu soal email Kaizen. Di tangga darurat. Waktu itu aku nggak bisa ngomong apa-apa. Aku cuma nangis. Tapi kalau kamu nggak bilang, aku nggak bakal pernah nulis issue pertama. Kamu yang mulai semuanya, Le. Bukan aku.
Sekarang aku minta tolong tiga hal.
Satu. Ikatin rambut Melody. Dia cuma mau diiket sama aku. Tapi kamu yang paling jago ngiket rambut di antara kita bertiga, jepit warna-warni kamu dulu itu legendaris. Iket dua. Pakai karet yang ada bolanya. Dia suka yang ada bolanya.
Dua. Telur dadar tiap Sabtu. Jangan keasinan. Atau keasinan dikit aja, biar Mas punya sesuatu buat dikomentarin.
Tiga.
Aku berhenti membaca.
Paragraf ketiga lebih panjang. Tulisannya lebih kecil, lebih rapat, seperti ditulis dengan tangan yang ragu.
Tiga. Le, ini yang paling penting, dan aku nggak tahu harus nulis ke siapa selain kamu.
Shaf sayang Mas.
Dari dulu. Aku nggak tahu dari kapan tepatnya. Mungkin dari pantry. Mungkin dari parkiran. Aku tahu pastinya waktu di Tokyo. Waktu Shaf ngasih tiket bulan madu dan bilang dia nulis nama Mas di belakang namaku. Matanya, Le. Aku lihat matanya. Itu mata orang yang ngelepas.
Aku tahu lagi waktu dia putus sama Danu dan bilang “Danu terlalu baik buat aku yang masih nyimpen sesuatu.”
Aku tahu dia nggak pernah bilang ke siapa-siapa. Nggak ke kamu. Nggak ke aku. Dia diem. Dia selalu diem soal hal yang paling penting, terus teriak keras-keras soal hal yang nggak penting biar kita nggak sadar.
Dan aku tahu Mas tahu. Mas selalu tahu. Mas cuma nggak pernah bilang, karena itu bukan rahasianya Mas.
Le, kalau aku pergi duluan, jangan biarin Shaf diem lagi.
Aku nggak minta dia gantiin aku. Nggak ada yang bisa gantiin siapa-siapa. Tapi Mas nggak boleh nunggu di teras sendirian. Mas udah nunggu di teras dari umur lima tahun. Melody juga nggak boleh.
Dan Shaf nggak boleh diem seumur hidup cuma karena dia pikir diem itu satu-satunya hadiah yang dia punya.
Kamu satu-satunya yang bisa maksa dia ngomong. Kamu yang dia peluk di toilet lantai 19. Kamu yang dia teriakin “Jepang masih punyaku” biar kamu nggak ngerasa bersalah.
Sekarang giliran kamu teriak ke dia.
Aku sayang kamu, Le. Kamu adik yang nggak pernah aku punya.
— Kak Cel
P.S. Kalau anakmu nanti laki-laki, jangan namain Bintang. Itu nama yang terlalu sering dipakai di sinetron. Kalau perempuan, boleh namain Celine. Bercanda. Jangan. Satu Celine di dunia udah cukup bikin repot.
Aku tertawa.
Di teras rumah Tebet. Di bawah lampu yang dikerubungi laron. Dengan surat dari sahabatku yang sudah setahun meninggal di tanganku, dan air mata yang jatuh ke kertas HVS dan membuat tinta biru di kata Bintang sedikit luntur.
Aku tertawa sampai menangis. Lalu menangis sampai tertawa lagi.
Kak Shaf menurunkan tangannya dari wajahnya. Menatapku.
“Le?”
Aku tidak bisa bicara.
Aku hanya menyerahkan surat itu padanya. Menunjuk paragraf ketiga.
Kak Shaf menatap kertas itu. Lalu menatapku. Lalu, perlahan, dengan tangan yang gemetar, ia mengambilnya.
Ia membaca.
Aku melihat matanya bergerak. Baris demi baris. Paragraf satu. Paragraf dua.
Paragraf tiga.
Shaf sayang Mas.
Kak Shaf berhenti.
Matanya berhenti di kalimat itu. Lama. Seperti ia membaca kalimat yang sama berulang-ulang dan tidak bisa memercayainya.
Lalu ia melanjutkan.
Aku tahu pastinya waktu di Tokyo.
Aku tahu dia nggak pernah bilang ke siapa-siapa.
Dan aku tahu Mas tahu.
Le, kalau aku pergi duluan, jangan biarin Shaf diem lagi.
Tangan Kak Shaf jatuh ke pangkuannya. Surat itu masih di jarinya.
Ia menatap ujung gang.
Ia tidak menangis.
Ia tidak bergerak.
Ia hanya duduk di lantai teras, di samping bangku putih kecil yang dicat oleh sahabatnya, dengan surat yang membuktikan bahwa selama enam tahun, satu-satunya orang yang ia lindungi dengan diamnya, sudah tahu.
Sudah tahu, dan tidak marah.
Sudah tahu, dan memintanya untuk tidak diam lagi.
“Dia tahu,” bisik Kak Shaf. Suaranya hampir tidak terdengar. “Le. Dia tahu.”
“Iya, Kak.”
“Dari Tokyo.”
“Iya.”
“Dan dia...” Kak Shaf menatap kertas di pangkuannya. “Dia nggak...”
“Dia nggak marah, Kak.” Aku menggenggam tangan Kak Shaf yang memegang surat itu. Dingin. Sangat dingin. “Dia sayang Kakak.”
Kak Shaf menatapku.
Lalu, akhirnya, wajahnya pecah.
Bukan seperti di pemakaman, ketika ia menangis dengan seluruh tubuhnya. Bukan seperti di teras setahun lalu, ketika Melody memanggilnya Mama dan Kak Alfa membentak. Wajahnya pecah pelan, dari dalam, seperti es yang retak di permukaan danau ketika musim berganti. Bibirnya bergetar. Matanya memerah. Air mata jatuh tanpa suara, satu, lalu dua, lalu tidak berhenti.
“Enam tahun,” isaknya. “Le. Enam tahun aku diem. Aku pikir aku jagain dia. Aku pikir aku jagain kalian berdua.”
“Kakak jagain kami, Kak.”
“Dia tahu dari Tokyo.” Kak Shaf menutup mulutnya dengan tangan. “Dia tahu waktu di nikahannya. Waktu aku pidato. Waktu aku ngasih tiket. Dia tahu dan dia tetep peluk aku. Dia tetep ngajak aku nonton film Korea. Dia tetep...”
Ia tidak bisa melanjutkan.
Aku memeluknya.
Di lantai teras. Di samping bangku putih kecil. Di bawah lampu yang dikerubungi laron.
Dan aku mengingat paragraf terakhir surat Kak Cel.
Sekarang giliran kamu teriak ke dia.
Aku melepaskan pelukanku. Memegang bahu Kak Shaf dengan dua tangan. Menatapnya.
“Kak Shafira Nadine,” kataku.
Suaraku keras. Lebih keras dari yang kurencanakan. Bu Yati di balik pagar sebelah berhenti menyiram tanaman.
“Enam tahun lalu, di grup chat, Kakak teriak Jepang masih punyaku. Keras banget. Biar aku sama Kak Cel nggak ngerasa bersalah.” Air mataku jatuh lagi. “Sekarang aku yang teriak.”
Kak Shaf menatapku. Matanya lebar.
“Kakak sayang Kak Alfa,” kataku. Keras. Di teras rumah Tebet. Di depan Bu Yati dan pohon mangga dan laron-laron. “Kakak sayang dia dari pantry. Kakak sayang dia waktu ngiket dasinya. Kakak sayang dia waktu dia pergi ke Tokyo. Kakak sayang dia waktu dia nikah sama sahabat Kakak. Kakak sayang dia sampai sekarang.”
“Le...”
“Dan Kak Cel tahu!” Suaraku pecah. “Kak Cel tahu, dan Kak Cel nggak marah, dan Kak Cel nulis surat biar Kakak berhenti diem. Jadi berhenti diem, Kak! Berhenti! Enam tahun itu udah cukup! Kak Cel udah izinin! Aku izinin! Melody nungguin Kakak tiap jam lima! Kak Alfa...”
Aku berhenti.
Karena pintu rumah di belakang kami terbuka.
Kak Alfa berdiri di ambang pintu.
Peci hitam sudah dilepas. Baju koko putih. Di tangan kanannya, amplop Untuk Mas. Masih tertutup.
Di tangan kirinya, menggandeng Melody.
Melody memegang amplop ketiga. Untuk Shaf. Di dadanya, seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.
Kak Alfa menatap kami. Menatap Kak Shaf.
Ia mendengar. Tentu saja ia mendengar. Aku berteriak cukup keras untuk didengar seluruh kompleks.
Kak Shaf membeku. Wajahnya putih. Air mata masih mengalir.
Melody melepaskan tangan ayahnya. Berjalan ke arah Kak Shaf, dengan hoodie abu-abu yang menyapu lantai keramik. Berhenti di depannya.
Mengulurkan amplop itu.
“Tante Fila,” katanya. “Ini dari Mama.”
Kak Shaf menatap amplop itu.
Untuk Shaf. Kalau-kalau.
Ia tidak mengambilnya.
Tangannya gemetar terlalu hebat.
Melody menunggu. Sabar. Lalu, ketika Kak Shaf tidak juga mengambilnya, ia meletakkan amplop itu di pangkuan Kak Shaf. Di atas surat untukku yang masih ada di sana.
Lalu ia naik ke bangku putih kecil. Duduk. Menatap ujung gang.
Lalu menatap Kak Shaf di sisi kirinya.
Lalu menatap ayahnya di ambang pintu.
“Papa,” katanya. “Duduk.”
Kak Alfa tidak bergerak.
“Papa,” ulang Melody. Lebih tegas. Dengan nada yang persis nada Kak Cel ketika ia menyuruh Kak Alfa makan di meja, bukan di depan laptop. “Duduk. Di situ.”
Ia menunjuk sisi kanan bangku putih.
Kak Alfa berjalan dari ambang pintu. Pelan. Duduk di lantai keramik. Di sisi kanan bangku putih. Seperti setiap sore selama setahun.
Dengan amplop Untuk Mas di tangannya.
Kak Shaf di sisi kiri, dengan amplop Untuk Shaf di pangkuannya.
Melody di tengah. Di bangku putih. Menatap ujung gang.
Aku berdiri. Pelan. Mundur ke ambang pintu.
Di belakangku, di ruang tengah, Bang Togar, Bayu, Laras, Raka, semuanya berdiri di balik jendela. Menatap teras. Tidak ada yang bicara. Bahkan Bintang, di gendongan Raka, diam.
Aku menatap tiga orang di teras rumah Tebet.
Seorang laki-laki dengan surat yang belum dibuka.
Seorang perempuan dengan surat yang belum dibuka.
Dan seorang anak empat tahun, di bangku putih yang dicat mamanya, menatap ujung gang.
Tidak ada mobil yang belok.
Tidak ada tin-tin.
“Mama,” kata Melody pelan, ke ujung gang. “Papa sama Tante Fila udah duduk. Mama denger?”
Angin bertiup. Dahan pohon mangga tetangga bergoyang. Satu daun jatuh di lantai teras, tepat di antara kaki Kak Alfa dan kaki Kak Shaf.
Melody menatap daun itu lama.
Lalu mengangguk. Satu kali. Seperti menerima jawaban.
“Mama denger,” katanya.
Aku menutup pintu pelan-pelan.
Aku tidak melihat apa yang terjadi di teras setelah itu.
Tapi pukul lima lewat empat pagi berikutnya, ketika aku terbangun untuk menyusui Bintang dan membuka ponsel karena kebiasaan baru yang tidak bisa kuhentikan, aku membuka repo zero-guard.
Issue hijau. Log baru. Hari ke-1.
Komentar terbaru. Dari pemilik repo. Pukul satu lewat dua belas pagi.
Minggu ke-246.
Setahun.
Suratnya ketemu. Bingkainya jatuh. Melody yang jatuhin. Nggak sengaja. Atau mungkin sengaja, dari kamu.
Aku belum buka punyaku.
Shafira juga belum buka punyanya.
Kami duduk di teras sampai jam dua belas. Melody tidur di bangku. Kami nggak ngomong apa-apa.
Tapi kami nggak pergi.
Cel, besok aku buka. Aku janji.
Di bawahnya, dua kata. Dari shafira.nadine. Pukul satu lewat lima belas.
Aku juga.
Aku menatap dua kata itu. Lalu menatap Bintang yang menyusu di pelukanku, matanya setengah tertutup, tangannya mencengkeram jariku.
“Bintang,” bisikku. “Tante Fila mau ngomong.”
Bintang tidak menjawab. Ia hanya menyusu.
Tapi aku bersumpah, dalam cahaya subuh yang masuk lewat jendela apartemen kami, ia tersenyum.