← Yang Menunggu di Teras

Chapter Five

Belum Janji Pergi

POV: Shafira


Aku tahu persis kapan perasaan itu bangun lagi.

Bukan di teras. Bukan di malam-malam membacakan buku kucing oranye. Bukan ketika ia duduk di lantai keramik di sisi kanan bangku putih dan aku di sisi kiri, dengan anak sahabatku di antara kami.

Aku bisa menahannya di teras. Aku sudah menahannya bertahun-tahun.

Perasaan itu bangun di aula PAUD Bintang Kecil.

Aku melihatnya dari balik kaca jendela mobil. Ia berdiri dari kursi plastik oranye, berjalan ke depan aula dengan dasi abu-abu miring di lehernya, dan berlutut di depan anaknya. Dan anaknya bilang besok mangkuk yang kedua buat Melody aja, biar nggak dibuang.

Dan aku melihat wajahnya.

Dari jauh. Lewat kaca. Lewat kacamata hitam yang kupakai supaya tidak ada yang mengenaliku.

Wajah yang tidak datar.

Wajah yang sama seperti di basement B2, enam tahun lalu, ketika ia bilang terima kasih, Shafira, tanpa Mbak, dan membungkuk dalam-dalam seperti orang Jepang membungkuk pada sesuatu yang mereka hormati.

Wajah yang membuatku jatuh cinta pertama kali, di pantry lantai 17, ketika ia berdiri di depan Bayu dan tidak membiarkanku menghinanya.

Aku menyalakan mesin dan pergi sebelum ada yang melihatku menangis.

Tapi Melody melihat.

Dan aku tahu, malam itu, di apartemen Senopati dengan bingkai foto yang masih kosong, bahwa aku tidak boleh duduk di teras itu lagi.


Dua minggu kemudian, rapat dewan yayasan.

Ruang rapat kecil di kantor kami di Kuningan. Lima anggota dewan. Proyektor yang menampilkan peta Indonesia dengan titik-titik merah: angkatan pertama di Jakarta, kedua di Bandung, ketiga di Yogyakarta, keempat di Makassar yang dipimpin Danu.

Titik kelima, yang baru, berkedip di Jawa Timur.

Surabaya. Angkatan kelima. Target: 40 perempuan dari keluarga prasejahtera. Butuh direktur program di lokasi selama minimal 2 tahun.

“Kami sudah wawancara tiga kandidat,” kata Pak Wira, ketua dewan, laki-laki tua yang dulu adalah donatur pertamaku. “Tidak ada yang cocok. Mereka bagus di kertas. Tapi tidak ada yang punya...” Ia mencari kata. “Api.”

Semua mata menatapku.

“Shafira,” kata Pak Wira. “Kamu yang membangun angkatan pertama dari nol. Dari uang tiket Jepang yang kamu batalkan. Kamu yang tahu caranya.”

Aku menatap titik merah yang berkedip di Surabaya.

Dua tahun.

Delapan ratus kilometer dari Tebet.

Dua tahun tidak duduk di lantai teras. Tidak membacakan buku kucing oranye. Tidak melihat laki-laki itu berlutut di depan anaknya.

Dua tahun untuk menguburnya lagi. Lebih dalam. Kali ini selamanya.

“Saya bersedia,” kataku.

Pak Wira tersenyum lebar. Anggota dewan lain bertepuk tangan.

“Kapan bisa mulai?”

“Akhir bulan,” kataku.

Dua minggu lagi.


Aku tidak memberi tahu siapa pun selama tiga hari.

Aku tetap datang ke Tebet. Setiap sore, pukul empat lewat lima puluh. Melepas sepatu di sudut teras. Duduk di sisi kiri bangku putih. Membacakan buku.

Ia sudah duduk di sisi kanan setiap hari. Ia tidak lagi menatap ujung gang. Ia menatap Melody. Kadang, ketika ia pikir aku tidak melihat, ia menatapku.

Aku pura-pura tidak melihat.

Di hari ketiga, Melody tertidur di pangkuanku di tengah buku gajah. Kepalanya di dadaku. Tangannya mencengkeram ujung blazer kremku.

Ia menatap kami berdua.

“Shafira,” katanya pelan.

“Hmm.”

“Hari Sabtu. Di PAUD. Kamu datang.”

Aku diam.

“Kenapa nggak masuk?”

Aku menatap rambut bergelombang Melody di dadaku. Rambut Celine. Wangi stroberi.

“Acaranya buat ayah,” kataku. “Aku bukan siapa-siapa di sana.”

“Melody yang pasang dasinya. Kamu yang ngajarin.”

“Itu tugas kecil.”

“Shafira.” Suaranya lebih pelan lagi. “Kamu nangis.”

Aku mengangkat kepala. Menatapnya.

Ia menatapku balik. Dengan mata yang membaca semua log. Yang membaca log printer di hari kedua dan tahu ia target. Yang membaca wajahku di pantry dan tahu apa yang kusimpan. Yang membaca semuanya.

“Aku mau ke Surabaya,” kataku.

Ia diam.

“Yayasan buka angkatan kelima,” kataku cepat. Terlalu cepat. “Butuh direktur di lokasi. Dua tahun. Aku yang paling cocok. Aku berangkat akhir bulan.”

Ia tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah.

Tapi aku melihat tangannya. Di atas lututnya. Mengepal.

“Dua tahun,” katanya.

“Iya.”

“Akhir bulan.”

“Sebelas hari lagi.”

Ia menatap Melody yang tidur di dadaku. Lama.

“Kamu udah bilang ke dia?”

“Belum.”

“Kapan?”

“Nanti.” Aku menunduk. “Aku nggak tahu caranya.”

Ia diam sangat lama.

Lalu ia berdiri. Dari lantai teras. Menatapku dari atas.

“Shafira,” katanya. “Kamu tahu aku nggak bisa minta kamu tinggal.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak punya kewajiban apa-apa ke kami.”

“Aku tahu.”

“Kamu udah kasih lebih dari yang...”

“Fa.” Aku mengangkat kepala. “Aku tahu.”

Ia menatapku.

“Tapi kamu tahu kenapa aku pergi,” kataku. Suaraku keluar sangat pelan. “Kamu satu-satunya orang di dunia yang tahu.”

Matanya bergerak. Sesuatu di sana. Sesuatu yang retak.

Ia tidak menjawab.

Ia mengulurkan tangan, mengangkat Melody dari pangkuanku dengan sangat hati-hati supaya tidak membangunkannya, dan membawanya masuk ke rumah.

Pintunya menutup.

Aku duduk di lantai teras sendirian, dengan buku gajah yang masih terbuka di halaman tujuh.


Alea menelepon malam itu.

Ia sudah tidak bekerja. Cuti melahirkan, mulai minggu lalu. Perutnya sudah sangat besar, kata Raka di grup. Dokter bilang tinggal dua minggu.

“Kak,” katanya. “Kakak mau ke Surabaya?”

Aku menutup mata.

“Kamu tahu dari mana?”

“Kak Alfa.” Suara Alea serak. “Dia telepon aku jam sembilan malam. Kak Alfa nggak pernah telepon aku jam sembilan malam. Kak Alfa nggak pernah telepon siapa-siapa. Dia cuma bilang satu kalimat terus tutup.”

“Kalimat apa?”

Alea diam sebentar.

“Shafira mau ke Surabaya. Aku nggak bisa minta dia tinggal. Kamu bisa.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kak,” kata Alea. Pelan. Sangat pelan. Bukan suara Alea yang manja, yang merengek Kak Shaf, Kak Shaf. Suara Alea yang lain. Yang ia pakai setelah SP2, setelah dipindahkan ke administrasi umum, setelah melaporkan dirinya sendiri ke Pak Hendra. Suara orang dewasa. “Kakak pergi karena Kak Alfa, kan?”

Aku tidak menjawab.

“Kak Shaf,” kata Alea. “Aku nggak bodoh. Dulu aku bodoh. Sekarang aku nggak.”

“Le...”

“Aku lihat Kakak di teras. Halaman tujuh. Tiap hari Kakak berhenti di halaman tujuh. Kucing yang berdiri di depan pintu, nggak tahu mau ngetuk atau pergi.” Alea menarik napas. “Aku lihat Kakak waktu Melody bilang Mama. Kakak nggak kaget. Kakak takut. Raka yang bilang.”

Aku menutup wajahku dengan tangan.

“Dan aku ingat,” kata Alea. “Waktu aku nangis di toilet lantai 19. Hari kesembilan belas. Habis ditolak. Kakak yang nemu aku. Kakak peluk aku. Terus besoknya Kakak teriak di grup Jepang masih punyaku. Keras banget.”

Ia berhenti.

“Aku pikir dulu Kakak jahat,” katanya. “Aku pikir Kakak nggak peduli aku sakit. Aku marah sama Kakak seminggu.”

Suaranya pecah.

“Tapi Kakak teriak keras-keras biar aku sama Kak Cel nggak ngerasa bersalah, kan? Biar kami pikir Kakak masih main. Biar kami nggak tahu Kakak juga...”

“Le.”

“Kakak juga, kan?”

Diam.

Diam yang panjang. Diam yang selama enam tahun menjadi satu-satunya hadiah yang bisa kuberikan kepada dua orang yang paling kucintai.

Aku tidak menjawab.

Tapi aku menangis. Keras. Di telepon. Di apartemen Senopati dengan bingkai foto kosong di dinding.

Dan Alea, di ujung telepon, dengan perut yang sudah sangat besar dan bayi yang akan lahir dua minggu lagi, menangis bersamaku.

Ia tidak bilang apa-apa lagi.

Ia tidak perlu.


Empat hari kemudian, Alea melahirkan.

Pukul tiga pagi. Rumah sakit di Rawamangun. Raka mengirim pesan ke grup Tim Melody dengan foto bayi merah kecil yang dibungkus selimut biru dan wajah yang keriput seperti kakek-kakek.

Raka: Lahir. Laki-laki. 3,2 kg. Alea sehat. Aku pingsan sekali.

Bang Togar: SELAMAT!!! AKU JADI OPUNG LAGI!!!

Bayu: Bang Togar, itu bukan cucu Abang.

Bang Togar: SEMUA ANAK DI GRUP INI CUCUKU, BAYU.

Bayu: Siap, Opung.

Raka: Namanya Bintang. Alea yang pilih.

Raka: Alea bilang biar ada yang nemenin Melody di langit. Soalnya Melody pernah bilang Mamanya di langit.

Grup sunyi.

Lalu satu pesan dari nomor yang jarang mengirim apa pun ke grup ini.

Alfa: Selamat, Raka. Selamat, Alea.

Alfa: Melody tanya boleh lihat Bintang. Besok sore boleh?

Raka: Boleh, Bang. Alea pasti seneng.

Alfa: Shafira ikut?

Aku menatap pesan itu.

Di grup. Di depan semua orang. Bang Togar, Bayu, Laras, Raka.

Shafira ikut?

Tiga titik muncul di bawah nama Bang Togar. Lalu hilang. Lalu muncul lagi. Lalu hilang lagi. Bang Togar, yang selalu mengetik dengan huruf kapital dan tanda seru, tidak tahu harus mengetik apa.

Aku mengetik.

Aku: Iya.

Satu kata. Lalu aku mematikan ponsel dan menatap koper besar yang sudah setengah terisi di sudut kamar.

Tujuh hari lagi.


Kamar rumah sakit, pukul empat sore.

Alea duduk bersandar di ranjang dengan Bintang di gendongannya. Wajahnya pucat dan lelah dan sangat bahagia. Raka di kursi di sampingnya, dengan lingkaran hitam di bawah mata dan senyum yang tidak bisa berhenti.

Melody masuk dengan menggandeng tangan ayahnya. Hoodie abu-abu, tentu saja. Ia berhenti di ambang pintu. Menatap bayi di gendongan Alea dengan mata lebar.

“Tante Lea,” bisiknya. “Adek bayinya udah keluar.”

“Udah, Sayang. Sini. Kenalan.”

Melody mendekat. Pelan. Seperti mendekati sesuatu yang bisa pecah. Ia berdiri di samping ranjang, menengadah, menatap wajah keriput di balik selimut biru.

“Kecil,” katanya.

“Iya. Nanti gede.”

“Namanya siapa?”

“Bintang.”

Melody menatap Bintang lama. Lalu ia mengulurkan jarinya. Telunjuk kecil yang terbungkus lengan hoodie abu-abu yang terlipat tiga kali.

Bintang, dalam tidurnya, menggenggam jari itu.

Melody membeku.

“Dia pegang,” bisiknya. “Tante Lea. Dia pegang Melody.”

“Iya, Sayang. Dia suka kamu.”

Melody menatap tangan kecil yang menggenggam jarinya. Lalu menatap Alea.

“Tante Lea,” katanya pelan. Sangat serius. “Mamanya Bintang jangan pergi, ya. Janji.”

Ruangan sunyi.

Alea menatap Melody. Air matanya langsung jatuh. Ke selimut biru. Ke pipi Bintang.

“Janji,” bisik Alea.

Aku berdiri di ambang pintu. Di belakang Alfa. Aku tidak masuk. Aku tidak bisa masuk.

Lalu Melody menoleh. Mencariku.

“Tante Fila,” katanya. “Sini. Lihat Bintang.”

Aku melangkah masuk.

Melody menatapku dengan mata datar yang persis mata ayahnya.

“Tante Fila juga janji,” katanya.

“Janji apa, Sayang?”

“Jangan pergi.”


Aku tidak menjawab.

Aku tidak bisa menjawab.

Ruangan rumah sakit menjadi sangat sunyi. Bahkan Bintang berhenti bernapas keras-keras dalam tidurnya.

Alea menatapku dari ranjang. Raka menatap lantai. Alfa tidak menatapku sama sekali. Ia menatap anaknya.

Melody menunggu. Sabar. Dengan jari yang masih digenggam bayi berumur satu hari.

“Tante Fila?”

“Melody,” kataku. Suaraku pecah. “Tante mau kerja di Surabaya.”

Melody mengerjap.

“Surabaya itu di mana?”

“Jauh.”

“Kayak Mama?”

Aku tidak bisa bernapas.

“Bukan,” kataku cepat. “Bukan kayak Mama. Tante pulang. Tante bisa telepon. Tante bisa...”

“Kapan pulang?”

Aku membuka mulut.

Dua tahun.

Aku menatap wajah anak ini. Anak yang menunggu di teras setiap jam lima sore selama lima bulan. Anak yang pernah bertanya Mama kapan pulang di pemakaman, dan dijawab dengan jujur oleh ayahnya.

Aku tidak bisa bilang dua tahun kepada anak ini.

Dan aku tidak bisa berbohong.

Aku tidak menjawab.

Melody menatapku lama. Lalu, perlahan, ia melepaskan jarinya dari genggaman Bintang. Bintang merengek pelan dalam tidurnya.

Melody turun dari kursi kecil di samping ranjang. Berjalan ke ayahnya. Memeluk kakinya. Menyembunyikan wajahnya di celana jins ayahnya.

Ia tidak menangis.

Itu yang paling menakutkan.

Ia tidak menangis sama sekali.


Hari Sabtu. Enam hari sebelum berangkat.

Aku tidak datang ke Tebet. Tidak ada jadwal piket hari Sabtu untukku. Aku di apartemen, mengepak buku-buku ke dalam kardus.

Pukul lima lewat dua puluh, ponselku bergetar.

Bu Yati (tetangga Mas Alfa): Neng Shafira, maaf ganggu. Ini Bu Yati.

Bu Yati: Melody di teras dari jam 4. Duduk di bangku putih. Pakai hoodie.

Bu Yati: Biasanya dia nunggu Mamanya. Bu Yati tanya dia nunggu siapa.

Bu Yati: Dia bilang nunggu Tante Fila.

Bu Yati: Neng, hari ini Sabtu kan. Neng nggak jadwal ya?

Bu Yati: Tapi dia nggak mau masuk. Mas Alfa udah bujuk. Dia bilang Tante Fila pasti datang. Soalnya Tante Fila belum janji pergi.

Aku menatap pesan itu.

Soalnya Tante Fila belum janji pergi.

Ia tidak menangis di rumah sakit. Ia tidak menangis ketika aku bilang Surabaya. Ia hanya diam, dan pulang, dan sekarang duduk di bangku putih, menunggu, karena dalam logika anak tiga setengah tahun yang ayahnya tidak pernah berbohong, aku belum menjawab berarti aku belum pergi.

Pukul lima lewat tiga puluh.

Ponselku bergetar lagi. Bukan Bu Yati.

Alfa: Jangan datang.

Aku menatap pesan itu.

Alfa: Kalau kamu memang mau pergi, jangan datang sekarang. Biar dia belajar nunggu orang yang nggak datang. Aku belajar itu umur lima tahun. Dia bisa belajar umur tiga.

Alfa: Tapi kalau kamu datang

Pesannya berhenti di sana.

Tiga titik muncul. Lama. Hilang.

Muncul lagi.

Alfa: Kalau kamu datang, jangan bikin dia nunggu lagi.


Aku tidak ingat menyetir dari Senopati ke Tebet.

Aku ingat lampu merah di Semanggi. Aku ingat tidak berhenti di lampu merah itu. Aku ingat klakson dari tiga arah.

Aku ingat parkir di depan rumah kecil dengan pagar besi hitam. Pukul enam kurang tiga menit. Azan magrib baru mulai berkumandang dari masjid di ujung kompleks.

Aku ingat membuka pagar. Bunyinya berderit.

Melody di bangku putih. Hoodie abu-abu. Kakinya berayun. Menatap ujung gang.

Ia menoleh.

Ia menatapku.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak melompat. Ia tidak berteriak TANTE FILA. Ia hanya menatapku dengan mata datar, lama, seperti memastikan aku benar-benar ada.

Lalu ia berkata, dengan suara yang sangat kecil:

“Tante Fila telat.”

Aku jatuh berlutut di lantai teras.

Aku tidak melepas sepatu hak tinggiku. Aku tidak merapikan rok. Aku berlutut di lantai keramik abu-abu di depan bangku putih kecil dan memeluk anak itu, erat, terlalu erat, dan menangis ke hoodie abu-abu yang wangi sabun cuci murah dan sampo stroberi.

“Maaf,” isakku. “Maaf, Sayang. Tante telat. Maaf.”

Melody tidak menangis. Ia menepuk punggungku. Pelan. Dengan tangan kecil yang terbungkus lengan hoodie.

“Nggak apa-apa,” katanya. Dengan nada Celine. Persis. “Tante Fila udah datang.”

Di ambang pintu, ia berdiri.

Aku tidak tahu sejak kapan ia di sana. Mungkin sejak tadi. Mungkin sejak jam empat, sejak anaknya duduk di bangku putih dan bilang Tante Fila belum janji pergi.

Ia menatap kami.

Wajahnya tidak datar.

Aku mengangkat kepala dari bahu Melody. Menatapnya, dengan maskara luntur dan rambut berantakan dan sepatu hak tinggi yang masih terpasang.

“Aku nggak pergi,” kataku.

Ke Melody. Ke dia. Ke diriku sendiri.

“Aku nggak pergi.”

Melody menarik napas. Panjang. Seperti orang yang menahan napas selama berhari-hari.

Lalu, akhirnya, ia menangis.

Keras. Melengking. Tangis anak tiga setengah tahun yang selama enam hari tidak menangis, yang menahannya di rumah sakit, di mobil, di kamar, di bangku putih selama dua jam. Tangis yang pecah sekaligus, seperti bendungan yang jebol.

Aku memeluknya. Ia mencengkeram blazerku dengan dua tangan.

Alfa berjalan dari ambang pintu ke teras. Berlutut di lantai keramik. Di samping kami.

Ia tidak memeluk kami. Ia hanya meletakkan tangannya di punggung anaknya. Di atas hoodie abu-abu. Di samping tanganku.

Jari-jari kami bersentuhan.

Ia tidak menarik tangannya.

Aku juga tidak.


Malam itu, aku menelepon Pak Wira.

“Shafira? Ada apa malam-malam?”

“Pak,” kataku. “Saya minta maaf. Saya nggak bisa ke Surabaya.”

Hening di ujung telepon.

“Ada apa? Kamu sakit?”

Aku menatap jendela apartemenku. Lampu-lampu Jakarta. Di kejauhan, ke arah Kuningan, gedung tiga puluh dua lantai dengan titik merah kecil di puncak antenanya.

“Ada anak yang nunggu saya, Pak,” kataku. “Tiap jam lima sore.”

Pak Wira diam lama.

“Anakmu?”

Aku menatap titik merah itu.

“Bukan,” kataku. “Anak sahabat saya.”

“Oh.” Pak Wira menghela napas. “Saya mengerti.”

“Saya bisa bantu cari kandidat, Pak. Saya bisa terbang ke Surabaya seminggu sekali. Tapi saya nggak bisa tinggal di sana.”

“Shafira.” Suara Pak Wira melunak. “Kamu tahu kenapa saya jadi donatur pertamamu?”

“Karena proposal saya bagus, Pak.”

“Proposalmu jelek,” katanya. “Penuh salah ketik. Angkanya nggak masuk akal. Tapi di halaman terakhir, kamu tulis satu kalimat. Saya pernah jadi orang yang nggak dibela siapa pun. Saya mau jadi orang yang membela.”

Aku diam.

“Kalau ada anak yang nunggu kamu tiap sore,” kata Pak Wira, “kamu sedang membela. Surabaya bisa nunggu. Anak itu nggak.”

Ia menutup telepon.

Aku duduk di lantai apartemen, di antara kardus-kardus buku yang setengah terisi, dan tertawa dan menangis di saat yang sama.

Lalu aku membuka lemari pakaian. Laci paling bawah. Di bawah sweater-sweater yang tidak pernah kupakai.

Dasi biru tua. Digulung rapi. Masih di sana.

Aku tidak memakainya.

Tapi aku mengeluarkannya dari laci, dan meletakkannya di atas meja rias, di samping bingkai foto yang kosong.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku tidak menyembunyikannya.


Pukul lima lewat empat pagi berikutnya, aku bangun.

Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak pernah bangun jam segitu. Tapi tubuhku bangun sendiri, seperti tahu ada sesuatu yang harus dibaca.

Aku membuka ponsel. Repo zero-guard. Issue hijau.

Log baru. Hari ke-1.

Komentar terbaru. Dari pemilik repo. Dikirim pukul empat lewat lima puluh delapan. Enam menit lalu.

Minggu ke-218.

Dia nggak pergi.

Melody nangis dua puluh menit. Habis itu tidur. Pertama kali dia tidur nggak pakai hoodie. Dia bilang hoodienya basah, kena air mata Tante Fila.

Cel, aku pegang tangan Shafira. Nggak sengaja. Di punggung Melody. Aku nggak lepas.

Aku nggak tahu itu apa. Aku nggak tahu boleh atau nggak.

Aku nggak tahu harus bilang apa ke kamu.

Aku menatap tulisan itu.

Lalu aku mengetik di kotak komentar di bawahnya.

Lalu menghapusnya.

Lalu mengetik lagi.

Lalu menghapusnya lagi.

Akhirnya aku menulis dua kata. Dua kata yang sama seperti dulu. Dua kata yang kuhilangkan seminggu lalu, karena aku takut kalau aku menulisnya lagi, aku tidak akan bisa pergi.

Sudah kubaca.

Aku menekan tombol hijau.

Lalu aku menangis di kasur apartemen Senopati sampai matahari terbit, dengan dasi biru tua di meja rias dan bingkai foto kosong yang, untuk pertama kalinya, tidak terasa kosong.