Chapter Eight
Teriak
POV: Alfa
05:04 — Baca log.
Aku tidak mematikan alarm itu.
Aku duduk di meja kerja kecil di sudut kamar. Laptop tertutup. Di atasnya, amplop putih.
Untuk Mas. Kalau-kalau.
Sudah dua hari amplop itu di sana. Sejak bingkai jatuh di malam haul. Aku menatapnya setiap pagi pukul lima lewat empat, setelah membaca log server, setelah membaca issue hijau dan komentar-komentar sudah kubaca dari semua orang.
Kemarin, di atap, Shafira bilang ia sudah membaca suratnya.
Kemarin, di atap, Shafira bilang hal yang sudah kuketahui sejak hari keempat belas, tapi belum pernah kudengar dari mulutnya sendiri.
Kemarin, di atap, aku menggenggam tangannya dan memintanya jangan pergi.
Aku tidak tahu apakah aku berhak melakukan itu.
Aku tidak tahu apakah Celine akan...
Aku merobek ujung amplop itu.
Mas,
Kamu baca ini jam lima lewat empat. Aku tahu. Jangan bohong.
Kamu udah natap amplop ini berhari-hari. Mungkin seminggu. Kamu pasti nunggu sampai semua orang lain buka suratnya dulu, biar kamu tahu dulu apa yang aku tulis ke mereka sebelum kamu baca punyamu. Kamu selalu baca log orang lain dulu. Kamu nggak pernah baca log kamu sendiri.
Jadi aku yang bacain buat kamu.
Log Alfa Danuarta. Status: (tebakanku)
— Belum nangis. Dari hari pertama sampai hari ini.
— Masih masak sup ayam dua mangkuk.
— Masih bangun jam lima lewat empat, tapi nggak buka repo.
— Duduk di ruang kerja tiap jam lima sore, nggak sanggup ke teras.
— Berfungsi. Kerja. Ngiket rambut Melody. Jelek banget pasti.
— Nggak bisa teriak.
Benar, kan?
Aku berhenti membaca.
Aku menatap kertas itu. Tulisan tangannya. Huruf a yang seperti angka 2.
Ia tahu. Ia menulis ini tiga tahun lalu, dan ia tahu persis.
Mas, dengerin aku.
Aturan nomor sepuluh. Yang kamu tulis sendiri malam itu, habis kita masak sup ayam pertama di Kalibata. “Sesekali, teriak.”
Kamu belum pernah. Sekali pun. Di dapur Kalibata kamu ketawa. Di makam Ibu kamu nangis, tapi nggak teriak. Itu yang paling deket.
Kalau aku udah nggak ada, kamu harus teriak. Sekali aja. Buat aku.
Ke makamku. Bawa Melody. Bawa siapa pun yang kamu mau. Terus teriak. Sekeras-kerasnya. Biar aku denger. Aku pasti denger. Aku selalu denger kamu, bahkan waktu kamu diem.
Terus nangis. Nggak apa-apa. Anak pintar boleh nangis. Ibumu salah soal itu. Aku udah bilang ke Ibu waktu ziarah ke Purwokerto. Aku bilang, “Bu, anak Ibu boleh nangis. Aku yang izinin.” Kamu nggak denger, kamu lagi beli bunga di depan.
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Kedua.
Melody.
Jangan biarin dia nunggu di teras. Kamu udah janji. Di Tokyo. Aku denger.
Tapi kalau dia tetep nunggu, karena dia anakmu dan anakmu keras kepala, duduk di sebelahnya. Jangan di ruang kerja. Di sebelahnya. Di lantai, karena bangkunya kekecilan buat kamu.
Dan Mas, ada satu paragraf di bawah. Buat Melody. Bacain ke dia kalau dia udah empat tahun. Jangan lebih cepet. Jangan lebih lambat. Empat tahun.
Ketiga.
Ini yang paling susah.
Shaf.
Aku berhenti bernapas.
Aku tahu kamu tahu. Kamu selalu tahu. Dari pantry, kan? Dari hari dia lihat kamu berdiri buat Bayu. Kamu nggak pernah bilang ke aku karena itu bukan rahasiamu. Aku sayang kamu karena itu. Kamu satu-satunya orang di dunia yang bisa nyimpen rahasia orang lain tanpa pernah pakai buat apa-apa.
Kalau suatu hari dia bilang, dan aku udah nggak ada,
jangan pura-pura nggak baca.
Kamu boleh nggak jawab. Kamu boleh bilang belum siap. Kamu boleh butuh waktu setahun, dua tahun, lima tahun.
Tapi jangan pura-pura nggak baca, Mas. Dia udah diem cukup lama. Jangan bikin dia ngerasa ngomong ke tembok.
Dan kalau kamu nanya ke dirimu sendiri, “Celine bakal marah nggak?”, dengerin:
Nggak.
Aku nggak marah.
Aku yang milih dia. Dari semua orang. Kalau aku nggak bisa duduk di teras sama kalian, aku mau dia yang duduk. Karena dia sayang kamu waktu kamu belum jadi siapa-siapa. Karena dia pernah berdiri di depan lift dan ngiket dasimu dan ngitung denyut nadimu dan kamu biarin dia ngitung.
Kamu boleh sayang lagi, Mas.
Itu bukan berarti kamu berhenti sayang aku.
Hati bukan server. Nggak ada kapasitas maksimal. Nggak perlu hapus data lama buat nyimpen yang baru.
Aku tetep di sana. Di issue hijau yang nggak pernah kamu tutup. Di bangku putih yang aku cat. Di jahe yang dimasukin paling akhir.
Aku nggak ke mana-mana.
Aku cuma geser sedikit. Biar ada tempat.
Aku tidak bisa membaca lagi.
Kertas itu bergetar di tanganku. Penglihatanku buram.
Aku meletakkan kertas itu di meja. Menekan dua telapak tanganku ke mata.
Masih kering.
Masih kering.
Kenapa masih kering.
Aku menarik napas. Mengambil kertas itu lagi. Halaman terakhir.
Keempat.
Aku cinta kamu.
Yang ke berapa? Kamu yang ngitung. Aku nggak pernah ngitung. Aku cuma bilang.
Tapi kalau kamu mau tahu, aku hitung sekali. Satu malam, waktu kamu tidur, aku buka chat kita dari awal dan aku hitung semua “aku sayang kamu” dan “aku cinta kamu” yang aku kirim.
4.217.
Yang ke-4.218 aku simpen. Buat kamu bilang balik.
— C.
P.S. Paragraf buat Melody ada di balik kertas ini.
Aku membalik kertas itu.
Di baliknya, satu paragraf. Tulisan yang lebih besar. Lebih bulat. Seperti ditulis untuk dibaca anak kecil.
Aku membacanya. Dalam hati. Satu kali.
Lalu aku melipat kertas itu dan menyimpannya di saku kaosku.
4.218.
Aku membuka ponsel. Membuka chat dengan Celine. Pesan terakhir.
Aku cinta kamu. 4.218.
Malam itu. Delapan lewat empat puluh delapan. Ia membacanya. Dua centang biru. Lalu tiga titik yang hilang.
Ia menyimpan yang ke-4.218 untukku.
Dan aku mengirimnya. Tanpa tahu. Di malam terakhir. Di tol Cipularang, kilometer 97, dua puluh menit sebelum titik biru berhenti bergerak.
Ia membacanya.
Ia sempat membacanya.
Aku menatap layar ponsel.
Dan di kamar kecil di rumah Tebet, pukul lima lewat dua puluh pagi, sesuatu di dadaku, sesuatu yang sudah setahun tertutup rapat seperti server yang dikunci dari luar, retak.
Bukan hancur. Retak.
Satu garis kecil.
Tapi cukup untuk membuat napasku berhenti di tengah jalan, dan mataku, yang setahun kering, akhirnya terasa panas.
Tidak ada yang keluar.
Belum.
Pukul tujuh, Melody bangun.
Ia keluar dari kamarnya dengan hoodie abu-abu, menyeret ujungnya, rambut kusut, mata setengah tertutup. Duduk di kursi makan dengan bantal tambahan. Menunggu sarapan.
Aku meletakkan roti bakar dengan selai cokelat di depannya. Dan segelas susu.
Lalu aku duduk di seberangnya.
“Melody,” kataku.
“Hmm.” Ia mengunyah.
“Kamu umur berapa?”
Ia menatapku. Bingung. “Empat. Papa lupa?”
“Nggak.” Aku mengeluarkan kertas dari saku kaosku. Membukanya. Membalik ke halaman belakang. “Mama nulis surat buat kamu.”
Melody berhenti mengunyah.
“Buat Melody?”
“Iya. Mama bilang, bacain kalau Melody udah empat tahun.”
Melody menatap kertas itu. Lalu menatapku. Matanya lebar.
“Bacain, Papa.”
Aku menatap paragraf itu. Tulisan yang besar dan bulat.
Aku membacanya keras-keras.
Melody, ini Mama.
Kalau Papa bacain ini, berarti kamu udah empat tahun dan Mama udah nggak ada. Mama minta maaf. Mama nggak mau pergi. Mama pasti udah berusaha banget buat pulang jam lima. Tapi kadang ada hal yang nggak bisa dilawan, bahkan sama Mama yang keras kepala.
Mama mau kamu tahu tiga hal.
Satu. Mama sayang kamu. Dari waktu kamu masih sebesar biji wijen. Papa yang bilang biji wijen. Papa baca delapan belas artikel.
Dua. Papamu nggak bisa nyanyi, nggak bisa ikat dasi, dan nggak bisa ikat rambut. Tapi Papamu orang paling baik di dunia. Dia nggak pernah bohong. Kalau dia bilang sesuatu, percaya. Kalau dia diem, peluk dia. Dia diem karena sedih, bukan karena marah.
Tiga. Kalau suatu hari ada orang yang duduk di teras sama kamu, yang bacain kamu buku, yang nemenin kamu nunggu, kamu boleh sayang dia. Mama nggak marah. Mama malah seneng. Kamu boleh panggil dia apa aja yang kamu mau. Kamu yang pilih. Kamu pinter. Kamu pasti nemu nama yang pas.
Mama cinta kamu, Melody. Nggak pakai angka. Kebanyakan.
Mama.
Melody tidak menangis.
Ia menatapku. Lama. Dengan roti bakar setengah dimakan di tangannya.
“Papa,” katanya. “Mama bilang Papa diem karena sedih.”
“Iya.”
“Papa sedih?”
Aku membuka mulut.
Aturan nomor satu. Jangan bohong soal perasaan.
“Iya,” kataku. “Papa sedih.”
Melody meletakkan roti bakarnya. Turun dari kursi makan. Berjalan memutari meja. Naik ke pangkuanku.
Dan memelukku.
Di leher. Erat. Dengan tangan kecil yang terbungkus lengan hoodie abu-abu yang terlipat tiga kali.
“Mama bilang peluk,” katanya ke leherku.
Aku memeluknya balik.
Mataku panas. Sangat panas.
Masih tidak ada yang keluar.
“Papa,” kata Melody ke leherku. “Orang yang duduk di teras sama Melody.”
“Hmm.”
“Tante Fila.”
Aku diam.
“Mama bilang Melody boleh sayang,” kata Melody. “Melody udah sayang Tante Fila. Dari dulu.”
Ia mengangkat kepalanya. Menatapku dari jarak yang sangat dekat.
“Papa boleh juga?”
Aku menatap anakku.
Mata datar. Persis mataku. Tapi di baliknya, sesuatu yang bukan dari aku. Sesuatu yang dari Celine. Keberanian untuk bertanya hal yang tidak berani ditanyakan orang dewasa.
“Papa nggak tahu, Sayang,” kataku.
Itu jujur.
Melody menatapku lama.
“Mama bilang,” katanya pelan, dengan nada yang persis nada Celine, “kalau Papa nggak tahu, Papa harus cari tahu. Kayak baca log.”
Aku tidak tahu kapan Celine pernah mengatakan itu padanya.
Mungkin tidak pernah. Mungkin Melody hanya mendengarnya bertahun-tahun, setiap kali Celine menyuruhku berhenti menebak dan mulai bertanya.
“Iya,” kataku. “Papa cari tahu.”
Sabtu sore, aku menelepon Shafira.
Bukan pesan. Telepon.
Ia mengangkat di dering pertama.
“Fa?”
“Besok,” kataku. “Minggu pagi. Kamu sibuk?”
Diam di ujung telepon.
“Nggak,” katanya. “Kenapa?”
“Aku mau ke makam Celine,” kataku. “Bawa Melody.”
Diam lagi.
“Kamu ikut?”
Diam yang panjang. Aku mendengar napasnya. Tidak teratur.
“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya. Sangat pelan. “Itu... Fa, itu tempat kamu sama dia. Aku nggak...”
“Celine yang minta,” kataku. “Di suratku. Bawa Melody. Bawa siapa pun yang kamu mau.”
Aku berhenti.
“Aku mau kamu,” kataku.
Diam.
Aku mendengar sesuatu. Suara kecil yang tertahan. Seperti seseorang yang menutup mulutnya dengan tangan.
“Jam berapa?” bisiknya.
“Tujuh. Aku jemput.”
“Aku bisa nyetir sendiri...”
“Aku jemput,” kataku.
Pemakaman di belakang masjid kecil berkubah hijau di Cipete. Minggu pagi, pukul delapan.
Langit cerah. Pertama kalinya aku datang ke sini dan langitnya tidak mendung. Pohon kamboja sedang berbunga. Bunga-bunga putih dengan tengah kuning, jatuh di mana-mana, di jalan setapak, di nisan-nisan, di rumput yang baru dipotong.
Makam Celine di ujung. Di bawah pohon kamboja yang paling besar. Nisan dari batu granit abu-abu, dipilih oleh Papa Celine, karena katanya granit tidak luntur, seperti dia.
Celine Aurelia binti Hardjono Wiratmadja.
Di bawahnya, satu baris yang ditambahkan atas permintaanku. Kecil. Hampir tidak terlihat.
log_00:00
Melody berlari ke nisan lebih dulu. Hoodie abu-abu di atas gamis kecil putih. Ia berjongkok di depan nisan. Meletakkan tangannya di atas batu granit.
“Mama,” katanya. “Melody datang. Sama Papa. Sama Tante Fila.”
Shafira berdiri di belakangku. Gamis hitam. Kerudung hitam. Dan lipstik merah.
Ia memakainya. Di pemakaman. Di depan makam sahabatnya.
Aku menatapnya.
“Dia yang suruh,” kata Shafira pelan, melihat tatapanku. “Di surat. Pakai lipstik merah. Dia nggak bilang kecuali di pemakaman.”
Sudut bibirku bergerak. Sedikit.
“Itu memang kayak dia,” kataku.
Kami berjongkok di depan nisan. Aku di kiri. Shafira di kanan. Melody di tengah. Seperti di teras. Seperti bangku putih.
Shafira mencabuti rumput liar di sekitar nisan. Satu per satu. Aku menaburkan bunga. Mawar merah. Melati. Daun pandan.
Melody meletakkan sesuatu di atas nisan. Dari saku hoodie-nya.
Karet rambut dengan bola merah muda.
“Tante Lea yang iket,” kata Melody ke nisan. “Kata Tante Lea, Mama yang suruh. Pakai yang ada bolanya.”
Shafira menunduk. Bahunya bergetar.
Aku menatap karet rambut dengan bola merah muda di atas batu granit abu-abu.
Dan sesuatu di dadaku, yang retak satu garis tadi pagi, retak lagi.
Dua garis.
Tiga.
“Fa,” kata Shafira pelan. “Suratmu. Dia bilang apa?”
Aku tidak menjawab.
Aku berdiri.
Melody menatapku. Shafira menatapku.
Aku menatap nisan granit abu-abu. Nama yang diukir. log_00:00. Bunga kamboja yang jatuh di atasnya.
Ke makamku. Bawa Melody. Bawa siapa pun yang kamu mau. Terus teriak. Sekeras-kerasnya. Biar aku denger.
Aku menarik napas.
Pemakaman sepi. Hanya kami bertiga. Dan seorang penjaga makam tua di ujung jalan setapak, yang sedang menyapu daun-daun kering.
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Aku mencoba lagi.
Tidak ada.
Tiga puluh lima tahun. Aku tidak pernah tahu caranya. Di dapur Kalibata, yang keluar adalah tawa. Di makam Ibu di Purwokerto, yang keluar adalah tangis tanpa suara.
Aku tidak tahu caranya.
Aku berdiri di depan makam istriku dengan mulut terbuka dan tidak ada suara yang keluar.
Lalu sesuatu menyentuh tanganku.
Tangan kecil. Terbungkus lengan hoodie abu-abu.
Melody. Berdiri di sampingku. Menatapku dari bawah.
“Papa mau teriak?” tanyanya.
Aku menatapnya. “Kok kamu tahu?”
“Mulut Papa kebuka. Tapi nggak ada suaranya.” Ia menggenggam tanganku lebih erat. “Kayak Melody kalau mau nangis tapi ditahan.”
Lalu ia menengadah. Ke langit. Ke dahan-dahan pohon kamboja.
Dan berteriak.
“MAMAAAAAAAA!”
Keras. Melengking. Suara anak empat tahun yang memenuhi seluruh pemakaman, memantul di dinding masjid, membuat burung-burung di pohon kamboja terbang semua.
Penjaga makam di ujung jalan setapak menjatuhkan sapunya.
Shafira menutup mulutnya dengan dua tangan.
Melody menarik napas. Lalu berteriak lagi.
“MAMAAAAAAAA! MELODY KANGEN!”
Ia menatapku. Matanya basah.
“Gitu, Papa,” katanya. “Gampang.”
Aku menatap anakku.
Lalu aku menengadah ke langit. Ke dahan-dahan pohon kamboja. Ke langit biru yang cerah, yang tidak mendung, yang untuk pertama kalinya tidak menahan apa pun.
Dan aku berteriak.
“CELINE!”
Suaraku pecah di ujung. Serak. Seperti mesin yang sudah lama tidak dinyalakan. Tidak seperti teriakan. Lebih seperti sesuatu yang dirobek.
Tapi keluar.
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun, keluar.
“CELINE!”
Lebih keras.
“KAMU BILANG PULANG JAM LIMA! KAMU BILANG BAWA SURABI! KAMU BILANG...”
Suaraku hilang. Tenggorokanku tercekik.
Dan air mata itu datang.
Bukan satu. Bukan pelan. Semuanya sekaligus. Setahun. Tiga puluh lima tahun. Anak lima tahun di teras Purwokerto. Anak sepuluh tahun dengan dagu berdarah. Anak tujuh belas tahun di dapur yang terlalu besar. Laki-laki dua puluh delapan tahun yang membaca aman di bawah namanya. Laki-laki tiga puluh empat tahun yang memasukkan tubuh istrinya ke liang lahat dan merasakan betapa ringannya.
Semuanya keluar.
Aku jatuh berlutut di depan nisan granit abu-abu. Di atas bunga-bunga kamboja yang berjatuhan. Dan menangis seperti aku tidak pernah menangis. Keras. Dengan suara. Dengan seluruh tubuh. Membungkuk sampai dahiku hampir menyentuh tanah.
“Maaf,” isakku ke nisan. “Maaf, Cel. Aku nggak baca log malam itu. Aku duduk di ruang tengah dan aku nggak baca. Titik birumu berhenti dan aku nggak... aku nggak...”
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku.
Lalu sesuatu melingkar di punggungku.
Lengan. Dari belakang. Memelukku.
Bukan lengan kecil. Lengan perempuan dewasa. Gamis hitam. Wangi yang bukan kayu manis. Wangi yang lain. Wangi melati dan sesuatu yang tajam, seperti jahe.
Shafira.
Ia berlutut di belakangku. Memelukku dari belakang. Dahinya menempel di punggungku. Lengannya melingkar di dadaku, erat, seperti menahan sesuatu yang bisa runtuh.
Ia tidak bicara.
Ia hanya memelukku. Sementara aku menangis di depan makam sahabatnya.
Lalu lengan kecil. Dari depan. Melody, yang naik ke pangkuanku dan memeluk leherku, dan menangis juga, keras, dengan wajah di bahuku.
Kami bertiga berlutut di depan makam Celine.
Di bawah pohon kamboja yang bunganya berjatuhan.
Dan aku menangis sampai tidak ada lagi yang bisa keluar.
Aku tidak tahu berapa lama.
Ketika akhirnya tangisku berhenti, matahari sudah lebih tinggi. Penjaga makam sudah pergi. Burung-burung sudah kembali ke pohon kamboja.
Melody tertidur di pangkuanku. Kelelahan. Wajahnya masih basah. Tangannya masih mencengkeram kaosku.
Shafira masih di belakangku. Masih memelukku. Dahinya masih di punggungku.
“Shafira,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. Habis.
“Hmm.”
“Kamu nangis juga.”
“Iya.”
“Punggungku basah.”
“Iya.” Ia tertawa kecil. Basah. “Maaf. Lipstiknya juga pasti nempel.”
Aku menatap nisan granit abu-abu.
Hati bukan server. Nggak ada kapasitas maksimal.
Aku cuma geser sedikit. Biar ada tempat.
Aku meletakkan tanganku di atas lengan Shafira yang melingkar di dadaku.
Ia berhenti bernapas.
“Suratku,” kataku pelan. “Kamu tanya tadi dia bilang apa.”
“Iya.”
“Dia bilang, kalau kamu ngomong, jangan pura-pura nggak baca.”
Diam.
“Kemarin di atap kamu ngomong,” kataku. “Aku bilang aku belum bisa jawab.”
“Aku tahu.”
“Aku masih belum bisa jawab, Shafira.”
“Aku tahu, Fa.”
“Tapi aku baca,” kataku. “Aku udah baca. Aku nggak pura-pura.”
Lengannya di dadaku mengencang.
“Dan aku baru nangis,” kataku. “Pertama kali. Setahun. Tiga puluh lima tahun, mungkin.”
Aku menarik napas.
“Kamu yang meluk aku waktu aku nangis,” kataku. “Di depan dia.”
Shafira tidak menjawab. Tapi aku merasakan sesuatu yang hangat jatuh di punggungku lagi. Dan lagi.
“Dia pasti lihat,” bisik Shafira ke punggungku. “Dia pasti marah aku meluk suaminya di depan makamnya.”
“Nggak,” kataku.
“Kok kamu tahu?”
Aku menatap karet rambut dengan bola merah muda di atas nisan. Bunga kamboja yang jatuh di sampingnya.
“Dia nulis,” kataku. “Aku yang milih dia. Dari semua orang.”
Shafira berhenti bernapas.
Lalu ia memelukku lebih erat. Dan menangis lagi. Tanpa suara. Ke punggungku.
Aku membiarkannya.
Di pangkuanku, Melody bergumam dalam tidur.
“Mama denger,” gumamnya.
Dua minggu kemudian.
Senin pagi. Pukul delapan kurang dua menit. Kantor Kaizen Labs di lantai 16 Trista Tower.
Masih kosong. Hanya aku, Pak Bambang Junior si kaktus, dan suara AC ruang server.
Pintu kaca terbuka.
Aku tidak menoleh. Aku sedang membaca log.
Langkah sepatu hak tinggi. Tajam. Percaya diri. Bukan langkah yang kukenal dari tiga tahun terakhir. Langkah yang lebih lama. Langkah dari pantry lantai 17.
Lalu seseorang duduk di mejaku.
Di mejaku. Bukan di kursi.
Aku mengangkat kepala.
Shafira.
Blazer merah marun. Rok pensil hitam. Rambut panjang digerai, bergelombang di ujung. Lipstik merah. Merah yang dulu membuat laki-laki menunduk di lift.
Ia menyilangkan kaki. Rok pensilnya tertarik ke atas lutut.
Lalu ia mencondongkan tubuh. Mengulurkan tangan. Merapikan kerah kaos navyku.
Kerah yang tidak berantakan.
Jari-jarinya tidak langsung turun.
“Kerahmu miring,” katanya.
“Nggak.”
“Sekarang miring.” Ia menariknya sedikit, sengaja, lalu merapikannya lagi. “Tuh. Harus aku benerin.”
Aku menatapnya.
Itu kalimat yang dulu. Tapi bukan dari Celine. Celine mengambilnya dari Shafira. Shafira yang pertama kali duduk di mejaku, di hari ketiga, dan merapikan kerahku, dan bilang kerahku miring.
Shafira yang mengajari Celine cara menggoda.
Sekarang gurunya kembali.
“Shafira,” kataku.
“Hmm?”
“Kamu ngapain?”
Ia tersenyum. Senyum yang tidak kulihat selama bertahun-tahun. Senyum Shafira yang dulu. Yang berbahaya. Yang membuat direktur PT Sumber Makmur tanda tangan kontrak.
“Celine bilang jangan diem,” katanya. “Aku nggak diem.”
Ia mencondongkan tubuh lebih dekat. Wajahnya sekarang hanya sejengkal dari wajahku. Wangi melati dan jahe.
“Dua minggu lalu kamu bilang kamu masih belum bisa jawab,” bisiknya. “Oke. Aku nggak minta jawaban.”
“Terus?”
“Aku cuma mau kamu inget,” bisiknya, “kalau dulu, sebelum Celine, sebelum Alea, sebelum siapa pun, aku yang pertama duduk di mejamu.”
Ia menyentuh daguku. Dengan ujung jari. Pelan.
“Aku yang pertama ngiket dasimu,” bisiknya. “Aku yang pertama cium pipimu. Di basement B2. Kamu bilang utangnya lunas.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak pernah lunas, Fa,” bisiknya. “Aku cuma pura-pura.”
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak akan kucatat di log mana pun.
Ia melihatnya. Aku tahu ia melihatnya. Ia menurunkan tangannya dari daguku, pelan, ke dadaku. Telapak tangannya di atas jantungku. Diam di sana.
Seperti di pantry lantai 17, hari keempat belas. Tangannya di dadaku, menghitung.
“Seratus delapan,” bisiknya.
Aku tidak menjawab.
“Hari ketiga, waktu aku ngiket dasimu, seratus dua belas,” bisiknya. “Sekarang seratus delapan. Turun empat.”
Ia tersenyum. Berbahaya.
“Aku harus kerja lebih keras.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku meletakkan tanganku di atas tangannya yang ada di dadaku. Menahannya di sana.
Ia berhenti tersenyum. Napasnya berubah.
“Shafira,” kataku.
“Hm... hmm?”
“Hari ketiga, seratus dua belas,” kataku pelan. “Karena kamu ngitung, dan aku tahu kamu ngitung, dan aku pura-pura nggak tahu. Itu bukan karena kamu cantik. Itu karena aku takut ketahuan kalau aku tahu.”
Ia menatapku.
“Sekarang seratus delapan,” kataku, “karena aku nggak takut lagi.”
Aku menekan tangannya sedikit lebih kuat ke dadaku.
“Tapi tunggu sepuluh detik,” kataku.
Ia menunggu. Tangannya di dadaku. Tanganku di atas tangannya.
Aku menatapnya. Langsung. Tidak berkedip. Dari jarak sejengkal.
Lima detik.
Tujuh.
Sepuluh.
Di bawah telapak tangannya, aku tahu persis apa yang terjadi. Aku tidak perlu menghitung.
Matanya melebar.
“Seratus... dua puluh...” bisiknya.
“Kamu nggak perlu kerja lebih keras,” kataku. “Kamu cuma perlu duduk di mejaku lebih lama.”
Shafira Nadine, yang dulu membuat laki-laki menunduk di lift, yang mengikat dasi dengan simpul Windsor sambil menghitung denyut nadi, yang tertawa paling keras di pantry lantai 19, membeku di atas mejaku.
Lalu wajahnya berubah merah. Dari leher. Sampai ke ujung telinga. Sampai warnanya hampir sama dengan lipstiknya.
Pintu kaca terbuka.
“Bang, aku bawa gorengan dari bawah, Bang Togar nitip...”
Bayu.
Ia berdiri di ambang pintu kaca dengan kantong plastik gorengan di tangan. Menatap kami. Shafira di atas mejaku. Tangannya di dadaku. Tanganku di atas tangannya. Wajah Shafira yang merah seperti tomat.
Kantong gorengan jatuh ke lantai. Bakwan berhamburan.
“Ma... Mbak Shafira?” bisik Bayu. “Mbak... Mbak di meja Bang Alfa?”
Shafira turun dari mejaku dengan sangat elegan. Merapikan rok pensilnya. Merapikan blazer merah marunnya. Mengambil tasnya.
“Pagi, Bayu,” katanya. Suaranya tenang. Wajahnya masih merah.
“Pa... pagi, Mbak.”
Shafira berjalan ke pintu kaca. Melewati Bayu. Melewati bakwan-bakwan di lantai.
Di ambang pintu, ia berhenti. Menoleh padaku.
“Jam dua belas,” katanya. “Atap.”
“Iya.”
“Bawa dua roti lapis. Bukan satu.”
Ia pergi.
Bayu menatapku. Mulutnya terbuka.
“Bang,” bisiknya. “Bang. BANG.”
“Pungut bakwannya, Bay.”
“Bang, Mbak Shafira...”
“Pungut, Bay.”
Bayu memungut bakwan dengan tangan gemetar. Lalu berhenti. Menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Bang,” katanya. Suaranya pecah. “Abang senyum.”
Aku menyentuh wajahku.
Ia benar.
Aku tidak sadar.
“Panduan v10,” bisik Bayu, seperti orang yang menemukan wahyu. “Aku harus nulis panduan v10.”
“Judulnya?”
Bayu menatapku. Air matanya jatuh ke bakwan.
“Cara Jatuh Cinta Lagi,” katanya. “Bab satu: Biarin dia duduk di meja Abang.”
Malam itu, di teras rumah Tebet, Melody duduk di bangku putih dan menatap ujung gang.
Shafira di sisi kiri. Aku di sisi kanan.
Buku kucing oranye sudah selesai dibaca. Azan magrib sudah lewat. Lampu jalan sudah menyala.
Melody tidak masuk ke rumah.
Ia menatap Shafira. Lalu menatapku. Lalu menatap Shafira lagi.
“Papa,” katanya. “Tadi Om Bayu telepon Tante Lea. Tante Lea telepon Opung Togar. Opung Togar telepon Oma Cipete. Oma Cipete telepon Melody.”
Shafira tersedak.
“Oma bilang,” lanjut Melody dengan wajah sangat serius, “Tante Fila duduk di meja Papa. Kayak Mama dulu.”
Aku menatap anakku.
“Oma bilang apa lagi?”
“Oma bilang akhirnya.” Melody mengerutkan dahi. “Akhirnya itu apa, Papa?”
Aku tidak menjawab.
Shafira menutup wajahnya dengan dua tangan.
Melody menatap kami berdua bergantian. Lalu, dengan gerakan yang sangat disengaja, ia turun dari bangku putihnya. Mengambil tangan kananku. Mengambil tangan kiri Shafira.
Lalu meletakkan tangan kami berdua di atas bangku putih yang kosong. Di tengah. Satu di atas yang lain.
“Gini,” kata Melody. “Kayak Melody pegang Bintang.”
Ia menatap kami.
“Papa sama Tante Fila jangan diem lagi,” katanya. “Mama yang bilang.”
Lalu ia masuk ke rumah. Meninggalkan kami di teras. Dengan tangan yang bertumpuk di atas bangku putih kecil yang dicat oleh Celine.
Shafira menurunkan tangannya dari wajahnya. Menatapku. Lalu menatap tangan kami di atas bangku.
Ia tidak menarik tangannya.
Aku juga tidak.
“Fa,” bisiknya.
“Hmm.”
“Anakmu jadi mak comblang.”
“Iya.”
“Umur empat tahun.”
“Dia belajar dari Bayu.”
Shafira tertawa. Pelan. Basah.
Lalu ia membalik tangannya. Telapak menghadap ke atas. Di bawah tanganku.
Jari-jarinya menekuk. Menyusup di antara jari-jariku.
Kami duduk di teras rumah Tebet. Di dua sisi bangku putih yang kosong. Dengan tangan yang bertaut di atasnya.
Di ujung gang, tidak ada mobil yang belok.
Tapi untuk pertama kalinya, tidak ada yang menunggu.