Chapter Four
Log yang Tidak Dibaca
POV: Alfa
Bang Togar datang hari Kamis, pukul sembilan malam, tanpa memberi tahu.
Ia tidak mengetuk. Ia menekan bel tiga kali, panjang-panjang, seperti orang yang mengantar paket yang sangat terlambat. Ketika aku membuka pintu, ia berdiri di teras dengan kantong plastik berisi martabak manis di satu tangan dan laptop kantor di tangan lain.
Di belakangnya, Haruto Mori.
Dengan kemeja yang disetrika rapi dan koper kecil beroda. Langsung dari bandara, kelihatannya. Ia membungkuk ketika melihatku. Tidak sedalam di pemakaman. Tapi lama.
“Alfa-san.”
“Mori-san,” kataku. “Kamu nggak bilang mau ke Jakarta.”
“Togar-san bilang kalau saya bilang dulu, kamu akan menolak.” Haruto menegakkan tubuh. “Jadi saya tidak bilang.”
Aku menatap Bang Togar.
Bang Togar mengangkat kantong martabak. “Keju cokelat. Kesukaan anakmu, kata Bayu.”
“Melody udah tidur, Bang.”
“Bagus. Ini urusan orang dewasa.” Ia melangkah masuk tanpa izin, melepas sepatunya di ambang pintu, dan berjalan ke ruang tengah seperti rumahnya sendiri. “Mori-san, masuk. Lepas sepatu. Di sini kita lepas sepatu juga, sama kayak di Jepang. Bedanya, di sini nggak ada yang bungkuk-bungkuk.”
Haruto melepas sepatunya. Lalu membungkuk lagi ke arah rak sepatu, entah kenapa.
Mereka duduk di sofa ruang tengah. Aku duduk di kursi plastik lipat di depan mereka. Martabak di atas meja, belum dibuka.
Bang Togar membuka laptopnya. Memutarnya menghadapku.
Dashboard monitoring Kaizen Jakarta. Grafik insiden lima bulan terakhir.
Garis merah yang naik. Pelan, lalu tajam.
“Lima bulan,” kata Bang Togar. “Sebelum Celine pergi, insiden di sistem yang kau pegang rata-rata dua per bulan. Semuanya kau tangani sebelum klien sadar. Sekarang sebelas per bulan. Tiga bulan terakhir, dua di antaranya sampai ke klien.”
Aku menatap grafik itu.
“Bulan lalu,” lanjut Bang Togar, “ada alert jam tiga pagi. Sistem pembayaran Trista. Kau yang on-call. Kau nggak angkat. Bayu yang angkat jam empat, setelah alert-nya bunyi empat puluh kali.”
“Aku lagi...”
“Kau lagi duduk di dapur,” kata Bang Togar. Suaranya tidak keras. Itu yang aneh. Bang Togar yang selalu berteriak, sekarang bicara pelan. “Bayu bilang. Dia telepon kau sepuluh kali. Akhirnya dia ke sini jam lima pagi. Kau duduk di dapur, di depan dua mangkuk sup. Satu udah dingin.”
Aku diam.
Haruto meletakkan kedua tangannya di lututnya. Duduk tegak, seperti di rapat Senin pagi.
“Alfa-san,” katanya. “Saya tidak datang untuk memecat Anda.”
“Aku tahu.”
“Saya datang karena Togar-san mengirim saya pesan dua minggu lalu.” Haruto menatapku. “Pesannya hanya satu kalimat. Anak saya tidak baca log lagi.”
Aku menatap Bang Togar.
Bang Togar menatap martabak.
“Lima belas tahun aku kerja di IT,” katanya ke martabak. “Empat tahun aku jadi atasanmu di lantai 17. Kau tahu satu hal yang aku tahu soal kau, dari hari pertama kau masuk?”
Aku tidak menjawab.
“Kau baca log,” kata Bang Togar. “Tiap pagi. Jam lima lewat empat, sebelum orang lain bangun. Semua log. Server, printer, akses pintu, CCTV, booking ruang rapat. Kau baca semuanya. Bukan karena disuruh. Karena itu caramu tahu dunia ini masih jalan.”
Ia mengangkat kepalanya. Matanya merah.
“Bayu bilang alarm jam lima lewat empat di HP-mu masih bunyi,” katanya. “Tiap pagi. Dan kau matiin. Lima bulan. Nggak pernah dibuka.”
Hening.
Di kamar sebelah, Melody bergumam dalam tidur. Lalu diam lagi.
“Bang,” kataku. “Aku nggak bisa.”
“Nggak bisa apa?”
“Baca.” Aku menatap laptopku di meja makan. Tertutup. Sudah lima bulan tertutup, kecuali untuk pekerjaan yang paling mendesak. “Kalau aku buka repo, di paling atas ada issue. Hijau. Open. Dia nulis tiap minggu. Seratus enam puluh tiga minggu. Foto Melody. Kalimat-kalimat pendek.”
Aku berhenti.
“Komentar terakhirnya tiga hari sebelum Cipularang,” kataku. “Kalau aku buka, aku harus lihat itu. Dan aku harus lihat kotak komentar di bawahnya. Kosong. Nunggu minggu ke-195.”
Bang Togar diam.
“Nggak ada minggu ke-195, Bang,” kataku. “Nggak akan pernah ada.”
Haruto yang bicara pertama.
“Alfa-san,” katanya pelan. “Boleh saya cerita sesuatu?”
Aku mengangguk.
“Istri saya meninggal sebelas tahun lalu,” katanya.
Aku menatapnya.
Empat tahun aku bekerja dengannya. Aku tidak pernah tahu. Ia tidak pernah bilang. Tidak di rapat, tidak di makan malam di Nakameguro, tidak di pernikahanku ketika ia bilang semoga tidak ada bug.
“Kanker,” lanjut Haruto. Datar. Seperti membacakan laporan. “Delapan bulan dari diagnosis. Kami tidak punya anak. Saya pikir itu lebih mudah. Tidak ada yang harus saya jelaskan kepada siapa pun.”
Ia menatap tangannya sendiri di lututnya.
“Selama dua tahun setelah itu, saya bekerja delapan belas jam sehari,” katanya. “Saya membangun Kaizen dari tiga orang menjadi tiga ratus. Semua orang bilang saya hebat. Saya tidak pernah pulang sebelum tengah malam, karena di rumah ada piring kedua di rak yang tidak pernah saya pakai, dan saya tidak bisa membuangnya, dan saya tidak bisa melihatnya.”
Ruang tengah sangat sunyi.
“Suatu malam,” kata Haruto, “saya membaca forum keamanan. Ada seseorang dengan nama mr_zero yang menjawab pertanyaan dari seorang pemula. Pertanyaan bodoh. Semua orang lain mengejeknya. mr_zero menjawab dengan sabar, tiga paragraf, lalu menambahkan satu kalimat di akhir.”
Ia menatapku.
“Log yang belum dibaca tidak hilang. Dia cuma menunggu.”
Aku tidak ingat menulis kalimat itu. Itu pasti bertahun-tahun lalu. Sebelum Trista. Sebelum lantai 17.
“Malam itu saya pulang,” kata Haruto. “Saya mengambil piring kedua dari rak. Saya mencucinya. Saya memakainya untuk makan malam.” Ia diam sebentar. “Saya menangis seperti anak kecil. Tapi setelah itu, saya bisa pulang lebih awal.”
Ia membungkuk sedikit. Dari tempat duduknya.
“Dua tahun kemudian, saya mencari mr_zero untuk merekrutnya,” katanya. “Bukan karena dia jenius. Banyak orang jenius. Karena saya ingin berterima kasih kepada orang yang membuat saya mencuci piring.”
Bang Togar menangis. Tentu saja Bang Togar menangis. Tanpa suara, dengan bahu yang bergetar dan tangan yang mengusap mata dengan punggung tangan berkali-kali.
Aku tidak menangis.
Tapi aku berdiri. Berjalan ke meja makan. Mengambil laptopku.
Kembali ke kursi plastik lipat. Membukanya.
Tanganku gemetar. Mereka berdua melihatnya. Tidak ada yang bilang apa-apa.
GitHub. Repo zero-guard. Tab Issues.
Di paling atas. Hijau. Open.
Log baru. Hari ke-1.
Aku membukanya.
Foto pertama. Dua garis merah muda di atas wastafel marmer putih di hotel di Tokyo. Kali ini aku yang tahu duluan.
Lalu komentarku. Sudah kubaca. Status: Open. Selamanya. Assignee: Ayah.
Lalu komentar-komentarnya. Satu setiap minggu.
Minggu ke-12. Mual. Mas bikinin sup ayam jam 2 pagi. Jahenya kebanyakan. Aku nggak bilang.
Minggu ke-20. Dia nendang waktu Mas ngomong. Cuma waktu Mas ngomong. Aku cemburu.
Minggu ke-38. Lahir. 3,1 kg. 49 cm. Mas nangis. Mas bilang nggak. Mas bohong. Aturan nomor satu dilanggar. Aku maafin.
Aku berhenti di sana.
Aku tidak ingat menangis waktu Melody lahir. Aku ingat memegangnya. Aku ingat beratnya, yang terasa lebih berat dari tiga koma satu kilogram. Aku ingat Celine tertawa di ranjang rumah sakit, pucat, berkeringat, rambut menempel di dahi, dan bilang Mas, kamu nangis.
Aku bilang tidak.
Aku menggulir. Terus. Minggu demi minggu.
Minggu ke-90. Ulang tahun pertama. Dia makan krim, bukan kuenya. Mas motret 400 foto. Aku hitung.
Minggu ke-100. Kata pertama: “Ayam.” Bukan Mama. Bukan Papa. Ayam. Karena sup. Mas bangga banget, aku kesel.
Minggu ke-150. Dia duduk di bangku putih yang aku cat. Nungguin aku pulang. Tiap jam lima. Bu Yati bilang dia udah di situ dari jam setengah lima. Aku klakson dua kali. Tin-tin. Dia lari ke pagar teriak MAMAAA. Itu bagian paling enak dari hariku.
Aku berhenti lagi.
Napasku tidak teratur. Bang Togar dan Haruto diam di sofa.
Aku menggulir sampai ke paling bawah.
Minggu ke-194. Melody bisa bilang “Papa jelek” dengan lancar. Aku yang ngajarin. Maaf, Mas. Tapi lucu.
Dan di bawahnya, kotak komentar.
Kosong.
Kursor berkedip.
Minggu ke-195 sampai minggu ke-215. Dua puluh dua minggu. Kosong.
Aku menatap kotak itu lama.
Lalu tanganku bergerak ke keyboard.
Aku tidak tahu apa yang akan kutulis. Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi. Di sofa, Bang Togar menahan napas.
Akhirnya.
Minggu ke-216. Aku yang nulis sekarang. Aku nggak sebagus kamu.
Melody masih duduk di bangku putih tiap jam lima. Aku duduk di lantai di sebelahnya sekarang. Shafira duduk di sisi lain. Dia bacain buku kucing oranye tiap hari. Melody hafal semua halamannya.
Aku bentak dia sekali. Dia panggil Shafira “Mama”. Aku nggak tahu kenapa aku bentak. Aku minta maaf besoknya. Dia bilang “nggak apa-apa, Papa”. Pakai nada kamu. Persis.
Aku belum nangis. Kamu pasti bilang aku bohong. Mungkin iya.
Sup ayamnya masih aku masak. Dua mangkuk. Aku masih belum bisa berhenti.
Aku kangen kamu. Aku nggak ngitung lagi. Aku nggak tahu udah yang ke berapa.
Aku menatap tulisan itu.
Lalu menekan tombol hijau.
Komentar itu muncul di bawah komentar terakhirnya. Dua puluh dua minggu jaraknya. Tapi di layar, hanya beberapa sentimeter.
Aku menutup laptop.
Bang Togar sudah menutup wajahnya dengan dua tangan. Haruto menatap lantai. Matanya basah, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
Aku tidak menangis.
Tapi aku berdiri, berjalan ke dapur, dan membuka kulkas. Mengambil kotak martabak manis keju cokelat dari meja ruang tengah. Mengambil tiga piring dari rak.
Tiga.
Bukan dua.
Aku meletakkannya di meja makan.
“Bang,” kataku. “Mori-san. Makan.”
Bang Togar menatap tiga piring itu. Lalu menatapku. Lalu ia berdiri, berjalan ke meja makan, dan memelukku dari samping. Keras. Dengan lengan yang berat seperti palu.
“Kau ini,” katanya ke bahuku. Suaranya pecah. “Kau ini kenapa nggak pernah bilang kalau berat?”
“Aku lagi bilang, Bang.”
“Kurang keras!”
Haruto mengambil potongan martabak pertama. Menggigitnya. Mengunyah dengan wajah sangat serius.
“Togar-san,” katanya. “Ini sangat manis.”
“Itu martabak, Mori-san. Memang harus manis.”
“Di Jepang...”
“Di Jepang nggak ada martabak!”
Aku tidak tertawa. Tapi sesuatu di dadaku bergerak. Sedikit. Seperti server yang sudah lama mati dan tiba-tiba lampu indikatornya berkedip, sekali, hijau.
Pagi berikutnya, pukul lima lewat empat, alarm berbunyi.
05:04 — Baca log.
Aku tidak mematikannya.
Aku duduk di meja kerja kecil di sudut kamar. Membuka laptop. Membuka repo. Membaca komentarku sendiri dari semalam.
Di bawahnya, ada komentar baru.
Bukan dariku. Dari akun yang tidak kukenal.
h.mori: Sudah kubaca.
Lalu, di bawahnya:
togar.simanjuntak: SUDAH KUBACA. KENAPA HARUS PAKAI AKUN. AKU BIKIN AKUN JAM 2 PAGI. BAYU YANG AJARIN.
bayu.pradana: Sudah kubaca, Bang. 🥲
laras.w: Sudah kubaca.
alea.kinanti: Sudah kubaca, Kak. Aku nangis di kamar mandi. Raka bangun. Raka juga nangis.
Aku menggulir.
Satu komentar lagi. Paling bawah. Dikirim pukul empat lewat lima puluh pagi. Dua belas menit sebelum aku bangun.
shafira.nadine: Sudah kubaca.
Hanya itu. Dua kata. Tanpa emoji. Tanpa tambahan apa pun.
Aku menatap dua kata itu lama.
Pukul empat lewat lima puluh pagi. Ia bangun sebelum subuh, membuka repo yang tidak pernah ia buka, membaca komentar yang kutulis untuk istriku yang sudah meninggal, dan meninggalkan dua kata.
Tanpa apa pun lagi.
Seperti diamnya. Seperti enam tahun diamnya.
Aku menutup laptop.
Hari Jumat itu, Melody pulang dari PAUD dengan selembar kertas.
Ia menyerahkannya padaku di teras, pukul empat lewat lima puluh delapan, sebelum Shafira datang. Kertas fotokopi dengan gambar dasi warna-warni di pinggirnya.
UNDANGAN HARI AYAH
PAUD Bintang Kecil
Sabtu, pukul 08.00
Ayah diharapkan hadir memakai DASI! Ananda akan memasangkan dasi untuk Ayah sebagai kejutan!
(Mohon Ayah membawa dasi sendiri)
Aku membaca kertas itu.
Melody menatapku dari bangku putihnya.
“Papa punya dasi?” tanyanya.
“Punya.”
“Melody bisa pasang?”
Aku diam.
Aku punya dasi. Satu. Dasi kupu-kupu hitam yang dulu butuh dua puluh menit dan tujuh video tutorial untuk kuikat, yang ditemukan Bang Togar di balkon Hotel Mulia. Dan satu dasi biasa, abu-abu, yang dibeli Celine untuk akad nikah tapi akhirnya tidak dipakai karena Mama Celine memilihkan beskap.
Aku tidak pernah memakai dasi biasa. Aku tidak bisa mengikatnya.
Celine yang selalu bilang ia akan mengajariku. Nanti, Mas, kalau ada acara.
Tidak pernah ada acara.
“Papa nggak bisa ikat dasi,” kataku.
Melody menatapku. Lalu menatap kertas undangan. Lalu menatapku lagi. Wajahnya, yang datar seperti wajahku, berubah sedikit. Bibir bawahnya bergetar.
“Teman-teman Melody semua pakai dasi,” katanya. “Ayahnya semua.”
Pagar berderit.
Shafira masuk. Blazer krem, rok pensil, sepatu hak tinggi. Ia melepas sepatunya di sudut teras, seperti biasa, dan berjalan ke sisi kiri bangku putih.
Lalu berhenti. Menatap kertas di tanganku. Menatap wajah Melody.
“Kenapa?” tanyanya.
Melody menunjuk kertas itu. “Hari Ayah. Papa nggak bisa ikat dasi.”
Shafira mengambil kertas itu dari tanganku. Membacanya. Lama.
Lalu ia menatapku.
Sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang tidak bisa kubaca.
“Kamu punya dasi?” tanyanya.
“Abu-abu. Satu.”
“Ambil.”
Aku menatapnya.
“Ambil, Fa,” katanya. Lalu ia duduk di lantai teras, di depan bangku putih, berhadapan dengan Melody. “Melody. Mau belajar ikat dasi?”
Melody mengangguk cepat.
Aku mengambil dasi abu-abu dari laci paling bawah lemari. Masih di dalam kotaknya. Label harga masih tertempel. Celine membelinya di Pasar Mayestik, waktu ia memilihkan kemeja batik cokelat tua untuk makan malam pertama di rumah orang tuanya. Buat akad nanti, Mas, katanya waktu itu, sebelum ada lamaran, sebelum ada apa-apa. Jaga-jaga.
Aku membawanya ke teras.
Shafira mengambilnya. Membuka kotaknya. Melepas label harganya. Memegang dasi itu di tangannya, membiarkannya menjuntai, dan menatapnya sebentar dengan ekspresi yang aneh.
Lalu ia menatapku.
“Duduk,” katanya. “Di bangku. Kamu yang jadi ayahnya.”
Aku duduk di bangku putih kecil. Terlalu kecil. Lututku hampir menyentuh dagu.
Melody berdiri di depanku. Shafira berlutut di belakang Melody, tangannya memegang tangan kecil Melody.
“Ini namanya simpul Windsor,” kata Shafira. Suaranya pelan. “Simpul paling rapi. Paling susah. Tapi kalau udah bisa, nggak akan lupa.”
Ia melingkarkan dasi itu di leherku. Lewat tangan Melody. Jari-jari kecil itu di bawah jari-jari Shafira, menuntun kain abu-abu melewati kerah kaosku.
“Ujung yang lebar di kanan,” kata Shafira. “Lebih panjang. Yang kecil di kiri. Terus ujung yang lebar lewat atas, ke kiri.”
Melody mengikuti. Lidahnya terjulur sedikit di sudut bibir, konsentrasi.
“Terus naik lewat tengah. Lewat lubang di leher Papa.”
Jari Melody menyentuh leherku. Dingin dan kecil.
“Turun ke kanan,” kata Shafira. “Terus putar ke depan. Ke kiri lagi.”
Aku menatap Shafira. Ia tidak menatapku. Ia menatap dasi di tangan Melody, di leherku, dengan konsentrasi yang tidak pernah kulihat di wajahnya. Bukan konsentrasi Shafira di rapat dengan klien. Konsentrasi yang lain. Seperti orang yang mengingat sesuatu.
Dulu, di hari ketiga, di depan lift restoran lantai empat puluh enam, ia mengikat dasi biru tua di leherku dengan simpul Windsor. Sambil menghitung denyut nadiku diam-diam. Ia pikir aku tidak tahu.
Aku tahu.
“Naik lagi lewat tengah,” katanya. “Terus masukin ke lubang yang di depan. Pelan.”
Melody memasukkan ujung dasi itu. Menariknya. Simpulnya terbentuk. Miring. Sangat miring. Lebih mirip simpul tali sepatu daripada simpul Windsor.
“Tarik pelan-pelan,” kata Shafira. “Rapikan.”
Melody menarik. Simpul itu mengencang di leherku. Masih miring. Ujung yang lebar lebih pendek dari ujung yang kecil.
Melody mundur satu langkah. Menatap hasil karyanya.
Lalu menatap Shafira.
“Bagus?” tanyanya.
Shafira menatap dasi yang miring itu. Lalu menatapku. Untuk pertama kalinya sejak ia mulai mengajari.
Matanya berkaca-kaca.
“Bagus banget,” katanya. Suaranya pecah sedikit. “Paling bagus.”
Melody tersenyum. Senyum lebar. Senyum yang memperlihatkan gigi depannya yang kecil-kecil.
Lalu ia memelukku. Di leher. Dasi miring di antara kami.
“Papa ganteng,” katanya ke leherku.
Aku memeluknya.
Di atas bahu anakku, aku menatap Shafira. Ia masih berlutut di lantai teras. Tangannya di pangkuan. Menatap kami.
“Siapa yang ngajarin kamu?” tanyaku pelan.
Ia diam lama.
“Ayahku,” katanya. “Bukan. Aku yang ngajarin diriku sendiri. Buat ayahku. Waktu dia stroke. Tangannya nggak bisa gerak. Tiap pagi, dua tahun, aku yang ikat dasinya sebelum dia berangkat kerja.”
Aku tahu cerita itu. Ia menceritakannya padaku enam tahun lalu, di hari ketiga, di restoran lantai empat puluh enam, sesudah ia mengikat dasi di leherku. Ia bilang ia tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun di kantor.
“Ayahmu sekarang?” tanyaku.
“Meninggal. Empat tahun lalu. Waktu kamu sama Celine bulan madu.” Ia tersenyum kecil. “Aku nggak bilang ke siapa-siapa waktu itu. Nggak mau ganggu.”
Aku menatapnya.
Empat tahun lalu. Ia kehilangan ayahnya, dan tidak bilang ke siapa pun, karena tidak mau mengganggu bulan madu sahabatnya.
Aku tidak tahu.
Aku membaca semua log, dan aku tidak tahu.
“Shafira,” kataku.
“Hmm.”
“Maaf.”
“Buat apa?”
“Aku nggak tahu.”
Ia menatapku lama. Lalu berdiri. Merapikan rok pensilnya. Mengambil buku cerita kucing oranye dari tasnya.
“Kamu nggak perlu tahu semuanya, Fa,” katanya. “Ada yang sengaja nggak ditulis di log.”
Ia duduk di lantai teras di sisi kiri bangku putih. Membuka halaman pertama.
Melody melepaskan pelukannya dari leherku, naik ke pangkuanku di bangku putih yang terlalu kecil, dan menyandarkan punggungnya di dadaku.
“Dari awal, Tante,” katanya.
Dan aku duduk di sana, dengan dasi abu-abu yang miring di leherku dan anakku di pangkuan, mendengarkan perempuan yang mengajari anakku mengikat dasi dengan simpul yang ia pelajari untuk ayahnya yang sudah meninggal, membaca cerita tentang kucing oranye yang tersesat dan pulang karena ada yang menunggu.
Aku tidak melepas dasi itu sampai Melody tidur.
Sabtu pagi, PAUD Bintang Kecil.
Aula kecil dengan kursi-kursi plastik warna-warni. Dua puluh tiga ayah. Dua puluh tiga anak. Dua puluh tiga dasi.
Dua puluh dua ayah duduk dengan dasi di tangan, menunggu anak mereka memasangkannya.
Aku duduk dengan dasi yang sudah terpasang. Simpul Windsor yang miring. Ujung lebar yang lebih pendek dari ujung kecil. Aku tidak melepasnya sejak semalam. Aku tidur dengan dasi itu.
Guru PAUD, perempuan muda dengan kerudung kuning, berhenti di depanku.
“Pak, dasinya sudah dipasang? Nanti kejutannya...”
“Anak saya yang pasang,” kataku. “Kemarin. Dia latihan.”
Guru itu menatap simpul miring di leherku. Lalu menatap Melody di sampingku, yang duduk tegak dengan wajah sangat bangga.
“Melody yang pasang?”
“Iya, Bu Guru,” kata Melody. “Simpul Windsor. Paling susah. Tante Fila yang ajarin.”
Guru itu tersenyum. Lalu menatapku lagi. Lebih lama. Ia tahu. Semua guru di PAUD itu tahu. Mereka datang ke pemakaman. Mereka melihat Melody duduk sendirian di pojok kelas selama tiga bulan pertama, tidak mau bermain dengan siapa pun.
“Bagus sekali, Melody,” katanya. Suaranya sedikit bergetar. “Paling bagus di kelas.”
Acara berjalan. Anak-anak memasangkan dasi di leher ayah mereka. Semua dasi miring. Semua simpul salah. Semua ayah tertawa dan memotret.
Lalu setiap anak harus maju ke depan. Satu per satu. Mengatakan satu hal tentang ayahnya.
Ayahku jago main bola.
Ayahku suka nyanyi di kamar mandi.
Ayahku kerjanya di kapal. Pulangnya jarang.
Giliran Melody.
Ia berdiri di depan aula kecil. Hoodie abu-abu, karena ia menolak memakai seragam batik PAUD kalau tidak ada hoodie di atasnya. Lengannya terlipat tiga kali.
Ia menatapku.
“Papaku,” katanya.
Lalu berhenti. Lama.
Dua puluh dua ayah menatapnya. Dua puluh dua anak. Guru-guru.
“Papaku nggak bisa ikat dasi,” kata Melody.
Beberapa ayah tertawa kecil.
“Tapi Papaku masakin sup tiap malam,” lanjutnya. “Dua mangkuk. Satu buat Melody. Satu buat Mama.”
Tawa berhenti.
“Mama nggak makan,” kata Melody. “Mama udah nggak ada. Tapi Papa tetep bikinin.”
Aula sunyi.
Melody menatapku dari depan aula. Matanya datar. Persis mataku.
“Papaku sayang Mama,” katanya. “Papaku nggak pernah nangis. Tapi Melody tahu Papa sedih.”
Ia berhenti. Menatap lantai.
Lalu menatapku lagi.
“Papa,” katanya dari depan aula. “Besok mangkuk yang kedua buat Melody aja. Biar nggak dibuang.”
Aku tidak menangis.
Di aula PAUD Bintang Kecil, di depan dua puluh dua ayah dan dua puluh tiga anak dan guru-guru yang menutup mulut dengan tangan, aku berdiri dari kursi plastik oranye, berjalan ke depan aula, dan berlutut di depan anakku.
Dasi abu-abu yang miring menjuntai di antara kami.
“Iya,” kataku. “Besok mangkuknya buat Melody.”
Melody menatapku.
“Papa janji?”
“Papa janji.”
Ia memelukku.
Di belakangku, aku mendengar suara. Bukan satu. Banyak. Ayah-ayah yang berdeham. Seorang ayah di barisan belakang, laki-laki berbadan besar dengan kemeja kotak-kotak, yang tadi tertawa paling keras ketika anaknya memasang dasinya terbalik, sekarang menunduk dan mengusap matanya dengan punggung tangan.
Aku tidak menangis.
Tapi ketika aku berdiri, dengan Melody di gendongan, dasi miring di leherku, dan berjalan kembali ke kursi plastik oranye, aku melihat sesuatu di jendela aula.
Di luar. Di balik kaca. Di parkiran kecil PAUD Bintang Kecil.
Mobil abu-abu yang mesinnya berisik.
Di kursi pengemudi, seseorang dengan kacamata hitam besar. Duduk diam. Tidak keluar.
Ia tidak ada di jadwal piket. Hari Sabtu bukan jadwalnya. Ia tidak diundang. Acara ini hanya untuk ayah.
Tapi ia di sana.
Ketika ia melihatku menatapnya lewat jendela, ia menyalakan mesin. Mobil abu-abu itu mundur dari parkiran dan pergi.
Aku menatap tempat parkir yang kosong lama.
Lalu Melody menarik dasiku.
“Papa,” katanya. “Tante Fila tadi di luar.”
“Kamu lihat?”
“Melody lihat dari depan. Waktu Melody ngomong.” Ia menatap jendela. “Tante Fila nangis.”
Aku tidak menjawab.
“Kenapa Tante Fila nggak masuk?” tanya Melody.
Aku menatap jendela kosong.
Ada yang sengaja nggak ditulis di log.
“Papa nggak tahu, Sayang,” kataku.
Itu jujur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar tidak tahu.
Malam itu, aku memasak sup ayam.
Jahe paling tua. Satu pukulan. Masukkan paling akhir.
Aku mengambil dua mangkuk dari rak.
Mangkuk pertama untukku. Mangkuk kedua untuk Melody, dengan sendok kecil bergambar kucing oranye yang dibelikan Shafira minggu lalu.
Melody duduk di kursi makan dengan bantal tambahan supaya cukup tinggi. Memakan supnya pelan-pelan. Meniup setiap sendok, seperti yang diajarkan Celine.
“Enak, Papa,” katanya.
“Jahenya kebanyakan?”
Ia mencicipi lagi. Serius. Mengerutkan dahi seperti juri lomba masak.
“Pas,” katanya.
Aku menatapnya.
Lalu aku mengambil ponsel. Membuka repo. Issue hijau. Kotak komentar di bawah komentarku dari semalam, di bawah Sudah kubaca dari semua orang.
Minggu ke-216, bagian dua.
Mangkuk kedua udah ada yang makan. Dia bilang jahenya pas. Dia bohong. Jahenya kebanyakan. Tapi dia nggak mau aku sedih.
Dia belajar itu dari kamu.
Hari ini dia ikat dasiku. Simpul Windsor. Miring banget. Aku tidur pakai dasi itu.
Shafira yang ngajarin dia. Shafira juga datang ke PAUD. Duduk di mobil. Nggak masuk. Nangis, kata Melody. Terus pergi.
Aku nggak tahu kenapa.
Cel, kamu pasti tahu. Kamu selalu tahu hal-hal yang aku nggak bisa baca.
Aku menekan tombol hijau.
Pukul lima lewat empat pagi berikutnya, ketika alarm berbunyi dan aku membuka laptop, ada komentar-komentar baru di bawahnya. Bang Togar dengan huruf kapital. Bayu dengan emoji menangis. Alea dengan paragraf panjang yang separuhnya permintaan maaf karena menangis lagi.
Tapi tidak ada komentar dari shafira.nadine.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis sudah kubaca.
Aku menatap ruang kosong di tempat yang seharusnya ada dua kata itu.
Dan sesuatu di dadaku, yang semalam berkedip hijau satu kali, sekarang berkedip lagi.
Kali ini kuning.
Peringatan.