Chapter Two
Teras
POV: Shafira
Tiga bulan setelah pemakaman, aku mulai datang setiap sore.
Bukan karena ada yang meminta. Tidak ada yang meminta. Alfa tidak pernah meminta apa pun dari siapa pun. Aku tahu itu sejak hari ketiga, waktu aku menulis nomorku di telapak tangannya di pantry lantai 17, dan ia tidak pernah menghubunginya kecuali untuk urusan kerja.
Aku datang karena Alea menelepon, Selasa malam, dengan suara yang pecah.
“Kak,” katanya. “Bu Yati telepon aku. Tetangga sebelahnya Kak Alfa.”
“Kenapa?”
“Melody.” Alea menarik napas. “Tiap jam lima sore, dia duduk di teras. Di bangku putih yang dicat Kak Cel. Nunggu Kak Cel pulang. Tiap hari, Kak. Tiga bulan. Hujan juga. Bu Yati bilang kemarin hujan deras dan dia tetap duduk di sana, basah, sampai magrib.”
Aku diam.
“Kak Alfa di mana?” tanyaku akhirnya.
“Di dalam. Kerja.” Alea terisak. “Bu Yati bilang Kak Alfa pulang jam empat, setengah lima, terus langsung masuk ruang kerja. Pintunya ditutup. Melody di teras sendirian sampai Bu Yati nggak tega dan nemenin dari balik pagar.”
“Dia nggak tahu?”
“Dia tahu, Kak.” Suara Alea semakin pecah. “Bu Yati bilang kadang Kak Alfa keluar. Berdiri di pintu. Lihat Melody. Terus masuk lagi. Kayak... kayak dia nggak bisa.”
Aku menatap dinding apartemenku di Senopati. Dinding putih yang kosong. Bingkai foto yang dulu berisi fotoku dengan Danu di warung pecel lele pinggir jalan, yang sekarang kosong, karena aku belum tahu harus mengisinya dengan apa.
“Le,” kataku. “Kamu kerja sampai jam berapa?”
“Lima. Tapi aku hamil, Kak, dokter bilang aku nggak boleh capek, Raka nggak ngizinin aku nyetir jauh habis kerja...”
“Aku bisa,” kataku.
Alea diam.
“Kantorku di Kuningan,” kataku. “Tebet dua puluh menit. Aku bisa sampai jam lima kurang.”
“Kak Shaf...”
“Bilang ke Bu Yati,” kataku. “Mulai besok, ada yang nemenin Melody di teras.”
Hari pertama, aku sampai pukul empat lewat lima puluh dua.
Rumah kecil di Tebet. Pagar besi hitam setinggi dada. Pohon mangga tetangga yang dahannya menjulur ke halaman belakang. Teras sempit dengan lantai keramik abu-abu, dan di sudutnya, bangku kayu kecil yang dicat putih, catnya mulai mengelupas di kaki-kakinya.
Melody sudah di sana.
Hoodie abu-abu. Aku tahu hoodie itu. Semua orang di Trista Tower tahu hoodie itu. Hoodie yang dipinjam Alea dan tidak dikembalikan, yang disimpan Bang Togar enam bulan di laci, yang dipakai Celine di jembatan Meguro dan di foto yang disukai empat ribu orang.
Sekarang dipakai anak tiga tahun. Ujungnya jatuh sampai ke mata kaki. Lengannya, dengan tiga lipatan, masih menjuntai melewati jarinya.
Ia duduk tegak. Kakinya berayun. Matanya menatap ujung gang.
Aku membuka pagar. Bunyinya berderit.
Melody menoleh. Matanya datar. Persis matanya. Mata yang di hari kedua menatapku di lift dan tidak membeku, tidak gugup, tidak takut, hanya melihat.
“Tante Fila,” katanya.
Ia tidak bisa mengucapkan Shafira. Sejak umur satu setengah tahun, ia memanggilku Tante Fila. Celine bilang itu karena aku terlalu rumit untuk diucapkan. Aku bilang itu karena Melody pintar, tahu nama mana yang perlu disederhanakan.
“Halo, Melody.”
“Tante Fila ngapain?”
Aku menatap bangku putih kecil. Lalu menatap lantai teras di sampingnya.
Aku memakai rok pensil. Blazer krem. Sepatu hak tujuh senti yang kubeli di Singapura bulan lalu. Aku baru selesai rapat dengan donatur dari perusahaan teknologi Korea yang ingin mendanai angkatan kedelapan program beasiswaku.
Aku melepas sepatu hak tinggiku. Meletakkannya di sudut teras.
Lalu aku duduk di lantai keramik. Di samping bangku putih kecil. Rok pensilku tertarik ke atas lutut. Aku tidak peduli.
“Tante Fila ikut nunggu,” kataku.
Melody menatapku lama.
“Nunggu Mama?”
Aku menelan ludah.
“Nunggu sama Melody,” kataku.
Ia menatapku lagi. Lalu menatap ujung gang. Lalu mengangguk, satu kali, seperti mengizinkan.
Kami menunggu.
Pukul lima. Lewat lima. Lewat sepuluh.
Tidak ada mobil yang belok ke gang.
Melody tidak menangis. Ia tidak bertanya. Ia hanya menatap ujung gang dengan sabar yang mengerikan, sabar yang tidak seharusnya dimiliki anak tiga tahun, sabar yang hanya pernah kulihat sekali sebelumnya, di wajah seorang laki-laki yang duduk di bangku papan kayu yang miring di atap lantai 32, setiap jam dua belas, sendirian.
Pukul enam, azan magrib.
Melody turun dari bangkunya. Menatap ujung gang sekali lagi.
“Mama telat,” katanya kepadaku. Datar. “Besok.”
Lalu ia masuk ke rumah.
Aku duduk di lantai teras sendirian.
Lalu aku menutup wajahku dengan dua tangan, dan menangis tanpa suara, sampai Bu Yati dari balik pagar sebelah memanggil pelan, Neng, Neng, mau teh?
Aku tidak melihat Alfa di hari pertama.
Pintu ruang kerjanya tertutup. Dari baliknya, suara keyboard. Cepat. Konstan. Seperti orang yang mengetik supaya tidak perlu mendengar apa pun selain suara keyboard.
Hari kedua juga tidak.
Hari ketiga, ketika aku sedang duduk di lantai teras dengan Melody dan membacakan buku cerita bergambar soal kucing oranye yang tersesat, yang kubeli di Gramedia karena kucingnya mirip stiker di monitor lamanya, pintu rumah terbuka di belakangku.
Aku menoleh.
Ia berdiri di ambang pintu.
Tiga bulan. Aku tidak melihatnya selama tiga bulan, sejak malam tahlilan ketujuh, ketika ia mengantar tamu terakhir ke pagar dan berterima kasih kepada semua orang dengan suara yang sama, wajah yang sama, kalimat yang sama, seperti rekaman yang diputar berulang-ulang.
Ia lebih kurus. Kaos abu-abu yang dulu pas di bahunya sekarang menggantung. Rambut yang tidak dipotong, jatuh ke dahi. Janggut tipis yang tidak dicukur. Di bawah matanya, lingkaran gelap seperti memar.
Tapi wajahnya datar.
Sangat datar. Lebih datar dari wajah mana pun yang pernah kulihat darinya. Lebih datar dari hari kedua di lift, dari pantry lantai 17, dari hari terakhirnya di Trista ketika ia pergi tanpa pamit dan meninggalkan dokumen serah terima dengan baris terakhir Semua sistem aman.
Datar seperti layar yang mati.
“Shafira,” katanya.
“Fa.”
“Kamu di sini tiga hari.”
“Iya.”
“Bu Yati bilang.” Ia menatap Melody. Lalu menatapku. Lalu menatap sepatu hak tinggiku yang tergeletak di sudut teras. “Kamu duduk di lantai.”
“Bangkunya kekecilan.”
Ia diam.
“Kamu nggak perlu,” katanya. “Aku bisa...”
“Bisa apa?”
Ia diam lagi.
Aku menatapnya. Laki-laki yang dulu kubuat jadi target taruhan. Yang dasinya kuikat dengan simpul Windsor di hari ketiga sambil menghitung denyut nadinya. Yang menolakku dengan hormat. Yang di basement B2, sebelum pergi, bilang terima kasih sudah diam demi mereka.
Yang tahu.
Ia satu-satunya orang di dunia yang tahu.
“Kamu bisa apa, Fa?” tanyaku pelan. “Duduk di sini jam lima? Tiga bulan ini kamu di mana tiap jam lima?”
Melody menatap kami bergantian. Buku cerita kucing oranye masih terbuka di pangkuanku.
Alfa tidak menjawab.
Ia menatap bangku putih kecil. Menatap anaknya, yang duduk di atasnya dengan hoodie abu-abu. Menatap ujung gang.
Lalu aku melihatnya. Hanya sesaat. Sesuatu yang retak di balik wajah datar itu. Seperti layar mati yang tiba-tiba berkedip, satu kali, sebelum gelap lagi.
“Aku nggak bisa lihat dia nunggu,” katanya. Suaranya sangat pelan. “Aku pernah nunggu kayak gitu.”
Aku menatapnya.
“Aku tahu rasanya,” katanya. “Aku tahu persis rasanya. Tiap jam lima, aku di ruang kerja, aku dengar dia buka pintu depan, aku dengar dia duduk di bangku itu, dan aku...” Ia berhenti. “Aku nggak bisa keluar. Kalau aku keluar, aku harus lihat. Kalau aku lihat, aku jadi anak lima tahun lagi.”
Ia menunduk.
“Aku janji ke dia,” katanya. “Waktu dia masih di perut Celine. Aku janji dia nggak bakal nunggu di teras.”
Melody turun dari bangku putihnya.
Ia berjalan ke ambang pintu, dengan hoodie abu-abu yang menyapu lantai keramik, dan berhenti di depan kaki ayahnya. Menengadah.
“Papa,” katanya. “Tante Fila bacain kucing.”
Alfa menatapnya.
“Kucingnya nyasar,” kata Melody. “Terus pulang. Soalnya ada yang nungguin.”
Ia menarik ujung kaos ayahnya.
“Papa duduk,” katanya. “Dengerin kucing.”
Alfa tidak bergerak.
Melody menarik lagi. Lebih keras.
“Papa,” katanya. “Duduk.”
Aku melihat tangannya. Tangan Alfa, di sisi tubuhnya. Gemetar.
Lalu, sangat pelan, seperti orang yang belajar berjalan lagi setelah lama sakit, ia melangkah keluar dari ambang pintu. Ke teras. Dan duduk di lantai keramik. Di sisi lain bangku putih kecil. Berhadapan denganku, dengan bangku di antara kami.
Melody naik ke bangkunya lagi. Menatap ujung gang. Lalu menatapku.
“Lagi, Tante,” katanya. “Dari awal. Papa belum dengar.”
Aku membuka halaman pertama buku cerita itu.
Suaraku bergetar di kalimat pertama. Di sebuah kota besar, ada seekor kucing oranye bernama Jingga. Aku berdeham. Mencoba lagi.
Alfa tidak menatapku. Ia menatap ujung gang. Bersama anaknya.
Tapi ia duduk di sana.
Sampai halaman terakhir. Sampai azan magrib. Sampai Melody turun dari bangku dan bilang Mama telat, besok, dan masuk ke rumah, dan kami berdua masih duduk di lantai teras dengan bangku putih kosong di antara kami.
Lama kami tidak bicara.
“Shafira,” katanya akhirnya.
“Hmm.”
“Terima kasih.”
Dua kata. Datar.
Aku mengambil sepatu hak tinggiku dari sudut teras. Memakainya. Berdiri. Merapikan rok pensilku yang kusut.
“Jangan terima kasih ke aku,” kataku. “Besok kamu duduk di sini lagi. Itu terima kasihnya.”
Aku membuka pagar. Bunyinya berderit.
“Jam lima,” kataku tanpa menoleh. “Aku datang jam lima kurang.”
Aku menangis di mobil sampai Semanggi.
Di lampu merah perempatan Semanggi, tempat dulu aku menangis dengan dasi biru tua di pangkuan setelah membaca kertas kecil yang ia tinggalkan, aku berhenti menangis dan menatap pergelangan tanganku.
Kosong.
Dasi itu sudah kulepas bertahun-tahun lalu. Di basement B2, di samping pilar C-14, pagi ketika ia kembali dari Tokyo dan aku menyuruhnya naik ke atap, ke perempuan yang menunggunya setiap jam dua belas. Aku menggulungnya, memasukkannya ke saku blazer, lalu ke laci paling bawah lemari pakaianku, di bawah sweater-sweater yang tidak pernah kupakai. Aku bersumpah tidak akan pernah memakainya lagi.
Karena aku sudah melepaskan.
Karena ia milik sahabatku.
Karena aku memilih diam, dan diam itu adalah satu-satunya hadiah yang bisa kuberikan kepada dua orang yang paling kucintai di dunia: Celine, yang tertawa di lobi hotel di Tokyo dengan hoodie abu-abu, dan Alea, yang menangis di toilet lantai 19.
Aku tidak pernah bilang ke siapa pun.
Tidak ke Celine. Tidak ke Alea. Tidak ke Danu.
Danu.
Aku menatap lampu merah.
Danu yang membawaku ke warung pecel lele di pinggir jalan dan bilang aku tidak perlu dibuat terkesan. Danu yang menolak proposal ekspansiku karena terlalu besar. Danu yang tiga tahun lalu mendapat tawaran memimpin program beasiswa yayasan di Makassar, yang bilang ini kesempatan, Shaf, aku nggak bisa nolak, tapi aku juga nggak mau kehilangan kamu.
Kami mencoba. Satu setengah tahun. Pesawat setiap dua minggu. Video call setiap malam. Danu yang sabar, yang baik, yang tidak takut padaku dan tidak ingin menaklukkanku.
Lalu suatu malam, di video call, Danu bertanya: Shaf, kalau aku ngelamar kamu sekarang, kamu bilang iya?
Aku diam terlalu lama.
Danu tersenyum di layar. Senyum yang sedih, yang mengerti. Nggak apa-apa, katanya. Aku tahu dari dulu ada sesuatu yang kamu simpen. Aku nggak tahu apa. Tapi aku nggak mau jadi orang yang kamu pilih karena kamu nggak bisa milih yang kamu simpen itu.
Kami berpisah dengan baik. Ia masih mengirimiku ucapan ulang tahun. Ia mengirim karangan bunga ke pemakaman Celine, dengan kartu kecil bertuliskan Untuk Shaf. Aku tahu kamu nggak akan nangis di depan orang. Nangis di mobil aja. — D.
Aku menangis di mobil.
Danu benar. Tentang semuanya.
Ada sesuatu yang kusimpan.
Dan aku tidak bisa memilihnya. Tidak waktu itu. Tidak sekarang.
Terutama tidak sekarang.
Lampu hijau. Klakson dari belakang.
Aku menginjak gas.
Dan aku bersumpah, di perempatan Semanggi, dengan maskara yang luntur dan pergelangan tangan yang kosong: perasaan itu sudah mati. Sudah kukubur bertahun-tahun lalu, di basement B2, bersama dasi biru tua dan lipstik merah cadangan.
Aku datang ke Tebet setiap sore untuk Melody.
Untuk Celine.
Bukan untuk dia.
Bukan untuk dia.
Minggu kedua, Alfa duduk di teras setiap hari.
Ia keluar dari ruang kerjanya pukul empat lewat lima puluh lima. Lima menit sebelum aku datang. Ia duduk di lantai keramik di sisi kanan bangku putih, dan aku duduk di sisi kiri, dan Melody di tengah, menatap ujung gang.
Kami tidak banyak bicara.
Aku membacakan buku cerita. Kucing oranye. Gajah yang lupa jalan pulang. Kelinci yang menunggu bulan purnama. Melody memilih buku yang sama setiap hari, kucing oranye, dan setiap hari di halaman terakhir ia bilang hal yang sama: Kucingnya pulang soalnya ada yang nungguin.
Alfa mendengarkan. Menatap ujung gang. Tidak bicara.
Kadang Bu Yati dari balik pagar sebelah mengulurkan piring pisang goreng. Alfa mengucapkan terima kasih. Melody mengambil satu, menggigitnya, lalu menyerahkan sisanya ke ayahnya. Alfa memakannya tanpa protes.
Di hari kesembilan, Melody tertidur di tengah buku gajah. Kepalanya jatuh ke samping. Ke arah Alfa.
Alfa menangkapnya. Pelan. Menahannya di bahunya.
Lalu ia menatapku. Di atas kepala anaknya yang tertidur.
“Kamu nggak harus datang tiap hari,” katanya pelan, supaya tidak membangunkan Melody.
“Aku tahu.”
“Yayasanmu...”
“Aku direkturnya. Aku bisa pulang jam setengah lima.” Aku menutup buku gajah. “Itu gunanya jadi bos.”
“Shafira.”
“Hmm.”
Ia diam lama. Menatap rambut bergelombang di bahunya. Rambut Celine. Wangi stroberi.
“Kenapa?” tanyanya.
Aku menatapnya.
Dari semua pertanyaan di dunia. Dari semua yang bisa ia tanyakan. Ia menanyakan yang satu itu. Satu-satunya pertanyaan yang tidak boleh kujawab dengan jujur.
Ia tahu. Ia tahu sejak hari pertama. Ia tahu apa yang kusimpan, yang tidak kuberitahukan kepada Celine, kepada Alea, kepada Danu. Ia tahu, dan ia berterima kasih karena aku diam.
Dan sekarang ia bertanya kenapa.
“Karena Celine sahabatku,” kataku.
Suaraku tidak gemetar. Aku memastikan suaraku tidak gemetar.
“Karena Melody anak sahabatku. Karena Celine bakal duduk di sini kalau aku yang pergi duluan. Karena...” Aku berhenti. Menatap ujung gang. “Karena dulu, di basement B2, ada satu orang yang tahu apa yang aku simpan dan nggak bilang ke siapa-siapa.”
Ia tahu siapa yang kumaksud. Bukan Pak Udin.
Dia.
“Ini balasannya,” kataku. “Itu aja.”
Alfa menatapku lama.
Aku tidak tahu apakah ia percaya. Aku tidak tahu apakah ia membaca kebohongan di wajahku, seperti ia membaca log printer dan pola-pola orang dan semua hal yang orang lain sembunyikan.
Ia tidak bilang apa-apa.
Ia hanya mengangguk, satu kali, dan menatap ujung gang lagi.
Di bahunya, Melody bergumam dalam tidur.
“Mama,” gumamnya. “Tin-tin.”
Kami berdua berhenti bernapas.
Lalu Alfa menunduk. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, aku melihat ia melakukan sesuatu yang bukan berfungsi.
Ia mencium puncak kepala anaknya. Pelan. Lama. Dengan mata terpejam.
Wajahnya tidak datar.
Aku menatap ujung gang supaya ia tidak melihatku menatapnya.
Perasaan itu sudah mati.
Sudah kukubur.
Aku mengulanginya di dalam kepala sampai azan magrib, seperti doa yang tidak didengar siapa pun.