← Lulus Probation, Nggak?

Chapter Seven

Evaluasi Bulan Pertama

POV: Clara


Hari ke-30 jatuh pada hari Rabu, dan aku memesan Ruang Rapat Melati dari jam empat sampai jam empat lewat tiga puluh.

Ruang Rapat Melati adalah ruang rapat terkecil di lantai 9. Isinya meja oval untuk enam orang, satu layar televisi di dinding, dan papan tulis putih yang tidak pernah benar-benar bersih karena spidolnya selalu spidol permanen yang salah ambil. Aku memilihnya karena ruangan itu tidak berdinding kaca. Ini evaluasi resmi. Evaluasi resmi butuh privasi.

Di sistem pemesanan ruang rapat kantor, aku menulis judulnya: Review Kinerja Bulanan — Internal.

Tiga menit kemudian, Tiara mengirim pesan.

Review kinerja bulanan internal. INTERNAL. Ra. Aku bisa lihat sistem booking ruang rapat. Aku HR. Kamu pikir aku nggak tahu siapa “pihak yang dinilai”?

Jangan masuk, balasku.

Nggak akan. Aku nunggu di pantry. Pantry sebelahan sama Melati. Dindingnya tipis.


Arman datang jam empat kurang lima belas menit. Tentu saja.

Dia mengetuk pintu Ruang Rapat Melati dua kali, sangat pelan, lalu masuk setelah aku bilang masuk. Dia membawa sebuah map plastik bening. Aku bisa melihat isinya dari balik plastik: fotokopi form KPI yang kuserahkan sebulan lalu, dilaminating. Dilaminating. Di belakangnya ada beberapa lembar kertas bergaris yang dipenuhi tulisan tangan miring ke kanan.

“Itu apa?” tanyaku.

“Catatan saya, Mbak.”

“Catatan apa?”

“Catatan kinerja.” Dia duduk di kursi seberangku, meletakkan map itu di meja, dan membukanya dengan hati-hati. “Saya pikir kalau Mbak nilai saya, saya juga harus siap datanya. Biar adil.”

Aku menatap lembar-lembar kertas bergaris itu. Aku bisa membaca beberapa baris dari tempatku duduk, terbalik:

Minggu 1: Datang 40 menit lebih awal. Mbak bilang berlebihan. → Coba 30 menit.
Minggu 2: Datang 30 menit. Mbak tidak komentar. → Pertahankan.
Minggu 2: Gombalan genset. Gagal. → Jangan pakai perumpamaan alat listrik.
Minggu 3: Karaoke. Fals. → Belajar nyanyi?? (Tanya Dimas)

Aku menatap baris terakhir itu. Belajar nyanyi?? (Tanya Dimas). Dengan dua tanda tanya.

Aku harus menunduk ke laptopku sebentar.

“Oke,” kataku setelah berhasil mengendalikan wajahku. “Kita mulai.”

Aku menyalakan televisi di dinding dan menghubungkannya dengan laptopku. Di layar muncul slide yang kubuat semalam: latar putih, judul biru tua, font yang sama dengan semua deck kerjaku.

EVALUASI MASA PERCOBAAN — PERIODE I (HARI 1–30)
Pihak yang Dinilai: Arman Hutomo

Arman menatap slide itu dengan wajah takjub. “Mbak bikin slide?”

“Biar jelas.”

“Bagus, Mbak. Font-nya bagus.”

Aku mengabaikannya dan menekan tombol panah ke kanan.


Indikator 1: Ketepatan Waktu.

“Dalam tiga puluh hari, kita ketemu dua belas kali,” kataku, membaca dari slide. “Kencan terjadwal empat kali. Makan siang lima kali. Kamu antar pulang tiga kali. Dari dua belas, kamu datang lebih awal sebelas kali. Rata-rata dua puluh tujuh menit lebih awal.”

“Yang satu lagi, Mbak?”

“Ulang tahun kantor. Telat dua puluh tiga menit.”

Arman menunduk. “Maaf, Mbak.”

“Karena menyelamatkan dua orang dari lift.”

“Tetap telat, Mbak.”

Aku menatapnya. Dia benar-benar menyesal. Dia benar-benar menganggap terlambat karena menyelamatkan orang dari lift macet adalah kesalahan yang perlu dicatat di kertas bergarisnya.

“Nilainya lima,” kataku.

Arman mengangkat kepala. “Lima?”

“Lima.”

Dia menuliskan sesuatu di kertasnya. Aku bisa membacanya terbalik: Ind. 1: 5. (Lift dimaafkan.)


Indikator 2: Responsivitas Komunikasi.

Slide berikutnya berisi grafik batang. Aku membuatnya dari data chat kami selama sebulan, yang kuekspor dan kuhitung di spreadsheet jam satu pagi. Aku tidak akan mengakui ini pada siapa pun, termasuk diriku sendiri.

“Rata-rata waktu balas: tujuh menit empat puluh detik,” kataku. “Pesan terlama: sembilan belas menit, untuk menjawab pertanyaan ‘Kamu udah makan?’”

“Saya jawab lengkap, Mbak. Menunya.”

“Kamu jawab menu, harga, nama warung, dan pendapat Bu Sum soal cuaca.”

“Bu Sum bilang mau hujan, Mbak. Ternyata hujan.”

“Rata-rata panjang pesan: delapan puluh tujuh kata.” Aku menekan tombol, dan muncul perbandingan. “Rata-rata panjang pesanku: sembilan kata.”

Arman menatap grafik itu. Batangnya jauh lebih tinggi dari batangku. Sepuluh kali lipat.

“Itu jelek ya, Mbak?”

Aku membuka mulut untuk bilang iya. Itu jawaban yang jujur menurut indikator. Responsivitas berarti cepat. Cepat berarti pendek. Delapan puluh tujuh kata dalam tujuh menit empat puluh detik bukan responsif.

Tapi aku teringat malam Sabtu ketika Papa tidak datang ke ulang tahun Mama, dan tulisan Arman sedang mengetik... yang muncul dan hilang selama tujuh menit, dan bagaimana aku duduk di tepi kasur memegang ponsel dengan dua tangan, menunggu, sampai aku lupa kenapa aku sedih.

“Nilainya dua,” kataku.

Arman mengangguk, menerima, dan menulis di kertasnya.

“Tapi,” lanjutku, sebelum aku sempat menghentikan diriku sendiri, “nggak usah dipendekin.”

Dia mengangkat kepala. “Mbak?”

“Pesannya. Nggak usah dipendekin. Nilainya tetap dua. Tapi jangan dipendekin.”

Arman menatapku dengan wajah orang yang mendapat instruksi yang tidak masuk akal tapi memutuskan untuk mematuhinya. Lalu dia menulis di kertasnya, dan aku membacanya terbalik:

Ind. 2: 2. Jangan dipendekin. (??)

Dua tanda tanya lagi.


Indikator 3: Inisiatif.

Ini slide yang paling sulit kubuat semalam.

Aku sudah mencoba membuat daftarnya. Aku membuka catatan ponselku, catatan Evaluasi Mingguan nomor satu sampai empat, dan mencoba merangkum semua inisiatif yang Arman lakukan dalam sebulan.

Jaket di rooftop. Teori lampu dapur yang menyelamatkan kemasan sereal. Kuning madu itu disetujui klien minggu lalu, dengan komentar “Akhirnya terasa seperti sarapan.” Lampu parkiran B2. Helm baru. Teh jahe setiap Kamis, empat Kamis berturut-turut, dan tidak pernah sekali pun terlambat atau terlalu manis. Lift macet. Galon Reza. Dan satu hal lagi yang kutemukan Senin lalu: di laci mejaku, ada kotak plester baru bermotif kucing merah muda, sama persis dengan yang kuberikan kepadanya di warteg. Tanpa catatan. Dia mengganti plester yang dia pakai. Satu kotak penuh, untuk mengganti satu lembar.

Daftarnya terlalu panjang untuk satu slide. Aku harus mengecilkan font-nya dua kali.

Slide itu muncul di layar. Arman membacanya dengan mata yang semakin lebar.

“Mbak nyatet semuanya?”

“Ini evaluasi. Harus ada datanya.”

“Plesternya juga?”

Aku tidak menjawab. Aku menatap angka yang sudah kuketik di sudut kanan bawah slide, angka yang sudah kuhapus dan kuketik ulang sebanyak empat kali semalam.

Skala penilaiannya satu sampai lima. Itu skala yang kubuat sendiri. Lima adalah nilai tertinggi. Lima berarti sangat memuaskan, melampaui ekspektasi.

Di sudut kanan bawah slide itu, tertulis: 6/5.

Arman menatap angka itu. Lalu menatapku.

“Mbak, skalanya kan sampai lima.”

“Aku tahu.”

“Ini enam.”

“Aku tahu, Arman.”

“Itu nggak sesuai metodologi, Mbak.”

“Aku tahu.” Aku menekan tombol panah ke kanan dengan sedikit terlalu keras. “Skalanya yang salah. Bukan nilainya. Nanti aku revisi skalanya.”

Dari balik dinding tipis, dari arah pantry, terdengar suara sesuatu jatuh. Seperti mug. Disusul suara batuk yang sangat jelas dibuat-buat.

Arman menoleh ke arah dinding. Aku tidak.


Indikator 4: Tidak Bikin Malu di Depan Umum.

“Gombalan genset. Karaoke fals di depan seratus lima puluh orang. Pesan menu ‘sampel’ di restoran. Menumpahkan teh.” Aku membacanya cepat, tanpa ekspresi. “Nilainya dua.”

Arman mengangguk. Dia sudah menduganya. Dia menulis 2 di kertasnya tanpa protes.

Aku tidak bilang bahwa setelah karaoke itu, tiga orang dari divisi Finance yang selama dua tahun tidak pernah menyapaku tiba-tiba menyapaku di lift dan bilang “Mbak, pacarnya lucu banget.” Aku tidak bilang bahwa Pak Hendro menyebut namaku di grup direksi dengan emoji tertawa, dan itu pertama kalinya Pak Hendro mengirim emoji apa pun yang berhubungan denganku. Aku tidak bilang bahwa sejak malam itu, orang-orang di lantai 9 berhenti memanggilku kulkas dan mulai memanggilku Mbak Merger.

Itu semua tidak relevan dengan indikator. Indikatornya jelas: tidak bikin malu. Dia bikin malu. Nilainya dua.


Indikator 5: Kemampuan Membuat Pihak Penilai Tertawa.

Slide terakhir. Aku sengaja membuatnya paling sederhana: hanya judul indikator dan satu angka di tengah.

Angka itu sudah kuputuskan sejak minggu pertama. Aku sudah menentukannya, sebelum Arman memegang sendok keramik kecil dan bertanya ini sampel, sebelum dia membandingkanku dengan genset, sebelum dia menyanyikan lagu cinta tahun sembilan puluhan dengan suara Si Mbah naik tanjakan.

Di slide itu, angkanya 4.

Arman menatapnya lama.

“Empat, Mbak?”

“Empat.”

“Mbak ketawa berapa kali?”

Pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak siap. Aku sudah menyiapkan data untuk semua indikator, tapi aku tidak menghitung yang ini. Aku tidak berani menghitung yang ini.

“Itu nggak relevan,” kataku.

“Oh. Iya, Mbak.” Dia menulis 4 di kertasnya. Lalu, dengan suara yang sangat pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri, dia menambahkan: “Saya ngitung, Mbak. Tujuh kali. Yang tujuh itu yang saya lihat. Mungkin ada yang saya nggak lihat.”

Aku tidak menjawab. Aku menutup laptopku. Televisi di dinding berubah menjadi layar biru.

“Ada yang perlu saya perbaiki, Mbak?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Aku seharusnya punya daftar. Evaluasi selalu punya bagian area perbaikan. Aku selalu menulis area perbaikan untuk timku, untuk vendor, untuk agensi. Aku jago menulis area perbaikan.

Aku memikirkan indikator dua. Pesannya terlalu panjang. Tapi aku baru saja bilang jangan dipendekin.

Aku memikirkan indikator empat. Dia bikin malu. Tapi karena dia bikin malu, Finance sekarang menyapaku di lift.

“Nggak ada,” kataku akhirnya. “Pertahankan.”

Arman menatapku seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sangat penting. Lalu dia menutup map plastiknya, berdiri, dan membungkuk sedikit, seperti karyawan yang selesai dinilai atasannya.

“Terima kasih, Mbak. Sudah evaluasi saya.”

Dia pergi. Pintu Ruang Rapat Melati menutup pelan di belakangnya.

Tiga detik kemudian, pintu itu terbuka lagi, dan Tiara masuk tanpa mengetuk, membawa mug yang gagangnya patah.

“Jatuh,” katanya sambil mengangkat mug itu. “Gara-gara enam per lima.”


“Kamu ngisi form itu sambil senyum, tahu nggak.”

Kami berdua masih di Ruang Rapat Melati. Tiara duduk di kursi yang tadi diduduki Arman, menyesap teh dari mug patahnya dengan hati-hati supaya bibirnya tidak tergores.

“Aku nggak senyum.”

“Kamu senyum pas bilang pertahankan.”

“Itu bukan senyum. Itu ekspresi profesional.”

“Ra.” Tiara meletakkan mugnya. “Aku kenal kamu dari umur delapan belas. Ekspresi profesionalmu itu kayak orang nahan kentut di lift. Yang tadi bukan itu.”

Aku membuka laptop lagi, pura-pura memeriksa email.

Tiara mengeluarkan ponselnya dan menyodorkannya ke depan wajahku. Di layarnya, grup Lambe Lantai 9 sedang ramai.

HARI KE-30. PROBATION MASIH JALAN. 🔥
Polling: Lulus di hari ke-90?

  • Lulus: 62%
  • Nggak: 38%

Di bawah polling itu, berderet komentar.

Nggak mungkin nggak lulus, Mbak Merger udah pegang tangan di ballroom
Mas Arman nyanyi fals demi cinta, itu lulus otomatis
Masih 60 hari lagi guys jangan kepedean
Pak Darto: Lulus. Saya yang jamin.

“Pak Darto beneran ada di grup ini?” tanyaku.

“Nggak ada yang tahu siapa yang invite. Tiba-tiba dia admin.”

Aku menatap layar itu. Lalu, sebelum aku sempat memikirkannya dengan benar, aku mengambil ponselku sendiri, membuka grup Lambe Lantai 9 yang selama dua tahun tidak pernah kusentuh kecuali untuk membisukannya, dan mengetik:

Masih masa percobaan.

Kirim.

Tiara menatap ponselnya. Lalu menatapku. Lalu menatap ponselnya lagi.

Grup itu meledak. Dalam tiga puluh detik, ada empat puluh dua balasan. Orang-orang mengirim stiker kaget, stiker tertawa, stiker kucing jatuh dari kursi. Seseorang menulis MBAK CLARA NGETIK DI GRUP?? INI HISTORIS. Seseorang lagi menulis Masih masa percobaan artinya MASIH JALAN artinya BELUM PUTUS. Pak Darto, admin misterius, menyematkan pesanku di bagian atas grup dengan keterangan: Pernyataan resmi pihak penilai.

“Ra,” kata Tiara pelan. “Kamu sadar kamu baru aja ngumumin ke empat puluh tujuh orang kalau kalian masih pacaran?”

“Aku cuma klarifikasi status.”

“Itu namanya ngumumin.”

“Itu namanya klarifikasi.”

Tiara menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Bukan senyum mengejek. Senyum yang lebih pelan, senyum yang biasanya dia simpan untuk momen-momen langka ketika dia berhenti jadi admin bayangan dan jadi sahabatku lagi.

“Kamu tahu nggak,” katanya, “dua tahun aku kenal kamu di kantor ini, kamu nggak pernah sekali pun ngetik di grup itu. Bahkan pas grup itu nyebarin gosip kamu operasi plastik. Bahkan pas mereka bilang kamu pacaran sama Pak Hendro.”

“Itu gosip bodoh.”

“Kamu diem aja. Kamu bilang, ‘Nggak usah ditanggepin, Ti. Klarifikasi itu buat orang yang peduli sama pendapat orang lain.’” Tiara mengangkat alis. “Terus barusan kamu klarifikasi.”

Aku menutup laptopku.

“Aku mau balik kerja,” kataku, dan berdiri.


Sore itu, jam lima lewat sepuluh, aku sedang mengetik email untuk klien sereal ketika aku mengangkat kepala.

Aku tidak tahu kenapa aku mengangkat kepala. Tidak ada suara yang keras. Tidak ada yang memanggilku. Lantai 9 masih ramai dengan bunyi keyboard dan percakapan pelan dan dengung AC.

Tapi aku mengangkat kepala, dan menoleh ke arah lift.

Tiga detik kemudian, Arman muncul dari balik pilar, membawa galon di bahu kanannya, berjalan menuju pantry.

Aku menatapnya lewat. Dia tidak melihatku; matanya fokus ke depan, ke pintu pantry, seperti orang yang sedang bekerja.

Lalu aku menunduk ke laptopku lagi, dan baru saat itulah aku menyadari apa yang barusan terjadi.

Aku mengangkat kepala sebelum dia muncul.

Aku mendengarnya. Di tengah semua bunyi lantai 9, aku mendengar sesuatu yang membuatku menoleh. Dan sekarang, setelah dia lewat, aku bisa mengenali bunyi itu dengan jelas: langkah sepatu safety bersol karet yang sedikit diseret di kaki kiri, dan gemerincing pelan serangkaian kunci yang tergantung di ikat pinggangnya. Kunci ruang panel, kunci gudang, kunci tangga darurat.

Bunyi itu tidak keras. Tidak ada orang lain di lantai ini yang menoleh.

Cuma aku.

Aku menatap layar laptopku, ke email untuk klien sereal yang belum selesai, ke kursor yang berkedip di tengah kalimat. Aku menatapnya sangat lama.

Tiga puluh hari.

Dalam tiga puluh hari, tanpa pernah memutuskannya, tanpa pernah mengizinkannya, aku sudah menghafal suara langkah kakinya.

Ponselku bergetar.

Mama:
Ra, Probation-mu itu kapan diajak ke rumah? Mama mau lihat. Yang nganter kamu nyeker itu.

Aku membalik ponselku, layarnya menghadap meja.

Dari arah pantry, terdengar bunyi galon dipasang ke dispenser. Blub. Blub. Blub. Lalu langkah sepatu bersol karet itu lagi, sedikit diseret di kaki kiri, kunci-kunci berdenting pelan, menjauh ke arah lift.

Aku tidak mengangkat kepala.

Tapi aku mendengarkannya sampai hilang.