Chapter Thirteen
Tangga Darurat
POV: Clara
Aku tidak sedang menunggu teh jahe.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri jam sembilan kurang tiga menit, ketika aku berdiri dari mejaku dan berjalan ke ujung lorong. Aku tidak sedang menunggu. Aku cuma capek. Aku selalu capek di hari Kamis, dan kalau capek, aku ke tangga darurat. Itu kebiasaan dua tahun. Itu tidak ada hubungannya dengan chat sembilan puluh tiga kata yang kukirim semalam dan yang kubaca ulang empat kali tadi pagi dengan perasaan seperti orang yang baru sadar dia mengirim email ke seluruh kantor.
Besok saya naik.
Tiga kata. Dia membalas sembilan puluh tiga kataku dengan tiga kata.
Aku tidak sedang menunggu.
Aku mendorong pintu tangga darurat dan duduk di anak tangga ketiga, tempat yang sama, memeluk lutut. Lampu di atasku menyala terang seperti biasa, putih hangat, tiga ribu kelvin. Dinding krem yang catnya mengelupas. Bau beton dan debu. Sunyi.
Aku menatap lampu itu. Jangan sampai mati, tulisnya di buku log. Berkali-kali. Setiap enam bulan. Cadangan: 3.
Lalu, jam sembilan tepat, lampu itu mati.
Bukan berkedip. Mati. Seperti seseorang menekan tombol. Dan bersamaan dengan itu, bunyi dengung AC di balik pintu berhenti, dan seluruh gedung tiba-tiba menjadi sangat, sangat sunyi.
Gelap.
Gelap yang total. Tangga darurat tidak punya jendela. Aku mengangkat tangan di depan wajahku dan tidak bisa melihatnya.
Pemadaman PLN, pikirku. Ada pengumumannya tadi sore. Jam sembilan sampai jam sepuluh. Genset akan menyala.
Aku menghitung. Aku selalu menghitung. Tahun lalu, ketika listrik mati di tengah presentasiku, genset menyala dalam lima belas detik. Aku ingat karena aku menghitung sambil berdiri di depan klien dengan senyum yang membeku.
Satu. Dua. Tiga.
Di atas pintu ada lampu darurat kecil, lampu berbaterai yang seharusnya menyala otomatis saat listrik mati. Lampu itu berkedip sekali. Cahaya kuning yang sangat redup, seperti napas terakhir. Lalu mati lagi.
Sepuluh. Sebelas. Dua belas.
Lima belas.
Dua puluh.
Genset tidak menyala.
Aku meraba saku blazerku untuk mengambil ponsel. Kosong. Ponselku tertinggal di meja, di sebelah laptop, di sebelah tempat teh jahe biasa diletakkan. Aku meraba dinding untuk mencari pegangan tangga. Dingin. Kasar. Aku berdiri, dan kakiku tidak yakin di mana anak tangga berikutnya.
Aku duduk lagi.
Ini konyol. Aku tahu ini konyol. Aku perempuan dewasa umur dua puluh tujuh tahun. Aku Brand Manager. Aku pernah presentasi di depan dewan direksi klien multinasional dengan proyektor yang mati. Aku tidak takut gelap.
Tapi napasku mulai pendek.
Bukan karena gelap. Karena tempat ini. Karena dua tahun lalu, di anak tangga yang sama, aku duduk seperti ini, memeluk lutut, menangis karena Papa tidak datang lagi, dan satu-satunya hal yang membuatku tetap waras malam itu adalah seseorang di atas tangga lipat yang mengganti lampu dan tidak bertanya apa-apa.
Malam ini tidak ada siapa-siapa.
Malam ini lampunya mati.
Tiga puluh detik. Satu menit. Aku tidak tahu lagi. Di dalam gelap, waktu tidak bisa dihitung.
Lalu aku mendengar sesuatu dari bawah.
Langkah. Langkah kaki yang berat, cepat, menaiki tangga dari lantai-lantai di bawahku. Bunyi logam yang berbenturan dengan dinding, klang, seperti seseorang membawa sesuatu yang besar. Napas yang terengah-engah. Semakin dekat. Semakin keras.
Di antara bunyi langkah itu, aku mendengar sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak keras. Tidak ada orang lain di gedung ini yang akan menyadarinya.
Gemerincing kunci.
Langkah itu berhenti di bawahku. Di antara lantai delapan dan lantai sembilan. Aku mendengar napasnya, berat dan cepat, seperti orang yang baru berlari jauh.
“…Halo?” kataku. Suaraku lebih kecil dari yang kuinginkan.
Hening satu detik.
Lalu sinar senter menyorot dari bawah, menyapu dinding, menyapu anak tangga, lalu berhenti di kakiku. Pelan-pelan naik, tapi tidak sampai ke wajahku. Berhenti di lututku, seperti orang yang tidak mau menyilaukan.
“Mbak?” Suaranya parau. Terengah. “Mbak di situ?”
“Arman?”
“Iya, Mbak.” Napasnya masih memburu. “Mbak nggak apa-apa?”
Aku ingin bilang nggak apa-apa. Kalimat itu sudah ada di mulutku, siap keluar, kalimat yang selalu kupakai. Tapi yang keluar adalah:
“Lampunya mati.”
“Iya, Mbak. Maaf.” Dia naik tiga anak tangga, dan dalam cahaya senter yang dipantulkan dinding, aku melihatnya. Kemeja seragamnya basah keringat. Rambutnya menempel di dahi. Di bahunya ada tangga lipat aluminium. Dia membawa tangga lipat naik sembilan lantai. “Maaf, Mbak. Itu salah saya. Baterainya harusnya saya ganti hari Senin.”
“Kamu lari dari basement?”
“Liftnya mati, Mbak.”
“Sembilan lantai?”
“Sepuluh. Dari basement.” Dia menurunkan tangga lipat dari bahunya dan membukanya di bordes kecil di depan pintu lantai 9, tepat di bawah lampu darurat di atas pintu. “Bentar ya, Mbak. Dua menit.”
Dia menaruh senter di anak tangga paling atas, menghadap ke atas, sehingga cahayanya memantul di langit-langit dan menyebar menjadi cahaya pucat yang cukup untuk melihat.
Lalu dia naik tangga lipat itu.
Aku duduk di anak tangga ketiga, memeluk lutut, dan menatapnya dari bawah.
Dia membuka casing lampu darurat dengan obeng. Mengeluarkan baterai lama. Memasukkan baterai baru dari sakunya. Menutup casing-nya lagi. Tangannya bergerak cepat dan pasti, gerakan orang yang sudah melakukannya ratusan kali. Tapi aku bisa melihat kakinya di anak tangga lipat itu gemetar. Betisnya bergetar seperti senar. Sepuluh lantai.
Lampu darurat menyala. Cahaya kekuningan, tidak terlalu terang, tapi cukup.
Lalu dia mengangkat tangan ke fitting lampu utama di langit-langit, memutar bohlam lama, dan memasang yang baru dari sakunya. Bohlam itu tidak menyala, karena listrik masih mati. Tapi dia memasangnya juga. Supaya nanti, kalau listrik kembali, lampunya langsung terang.
Jangan sampai mati.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Dia di atas, berdiri di tangga lipat, satu tangan di langit-langit, wajahnya terlindung bayangan. Aku di bawah, di anak tangga ketiga, memeluk lutut. Cahaya kekuningan dari lampu darurat jatuh dari belakangnya, sehingga dari tempatku duduk, dia hanya siluet. Bahu, lengan yang terangkat, kepala yang menunduk ke pekerjaannya.
Persis seperti malam itu.
Dua tahun lalu. Tiga belas Maret. Aku duduk di anak tangga ini dengan maskara luntur dan kado ulang tahun yang belum kubuka. Lampu tangga darurat itu sedang diganti karena mati, dan seseorang di atas tangga lipat sedang memasang bohlam baru. Aku tidak melihat wajahnya. Dia hanya siluet. Bahu, lengan yang terangkat, kepala yang menunduk.
Aku bilang jangan bilang siapa-siapa.
Dan dia bilang—
“Mbak?” Arman menoleh ke bawah, ke arahku, karena aku sudah terlalu lama diam. “Mbak nggak apa-apa?”
Suaranya. Pelan. Sedikit gemetar. Sedikit parau karena sepuluh lantai.
Suara yang sama.
“Itu kamu,” kataku.
Dia membeku di atas tangga lipat.
“Malam itu,” kataku. Suaraku tidak stabil, tapi aku tidak peduli lagi. “Dua tahun lalu. Tiga belas Maret. Aku duduk di sini. Nangis. Ada orang di atas tangga lipat lagi ganti lampu. Aku bilang jangan bilang siapa-siapa.” Aku menelan sesuatu yang besar di tenggorokan. “Itu kamu.”
Hening. Lama.
Lalu Arman turun dari tangga lipat. Pelan-pelan. Satu anak tangga. Dua. Sampai kakinya menyentuh bordes. Dia tidak mendekat. Dia berdiri di sana, di bawah lampu darurat kekuningan, dengan kemeja basah keringat dan obeng masih di tangan, dan wajahnya akhirnya terlihat.
Dia tidak menyangkal. Dia tidak bisa berbohong kepada orang yang bertanya langsung.
“Iya, Mbak,” katanya.
Dua kata. Persis seperti malam itu.
“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
Arman menatapku lama. Lalu dia mengatakan sesuatu dengan suara yang sangat tenang, sangat sederhana, seperti orang yang menjawab pertanyaan tentang jadwal piket.
“Mbak bilang jangan bilang siapa-siapa.” Dia berhenti sebentar. “Saya nggak bilang. Termasuk ke Mbak.”
Aku menangis.
Aku tidak merencanakannya. Aku tidak pernah merencanakan menangis. Aku Clara Clementine Wijaya, dan aku sudah bertahun-tahun melatih diriku untuk tidak menangis di depan orang. Aku tidak menangis waktu Papa tidak datang ke wisudaku. Aku tidak menangis di depan Mama setiap kali Papa mengirim transfer sebagai ganti dirinya. Aku cuma menangis di satu tempat, di tangga darurat lantai 9, sendirian.
Dan dua tahun lalu, ternyata, aku tidak sendirian.
Selama dua tahun, ada seseorang yang memegang rahasia itu. Seseorang yang bisa saja menceritakannya ke grup Lambe Lantai 9 dan membuatnya jadi gosip paling panas tahun itu. Kulkas lantai 9 ternyata bisa nangis. Seseorang yang bisa saja menggunakannya di townhall: Mbak ingat saya? Saya yang di tangga waktu itu. Seseorang yang bisa saja memakainya untuk membuatku merasa berutang.
Dia tidak melakukan satu pun dari itu.
Dia cuma menjaga lampunya tetap menyala.
Aku menangis dengan wajah di lutut, seperti malam itu, bahuku bergetar, suaraku keluar dalam bunyi-bunyi kecil yang memalukan. Dan seperti malam itu, Arman tidak bertanya apa-apa. Dia tidak mendekat. Dia tidak memelukku. Dia cuma duduk di anak tangga paling atas, di dekat pintu, dua anak tangga di atasku, dan menunggu.
Lampu darurat di atas kami berdengung pelan.
Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin dua menit. Mungkin sepuluh.
Ketika akhirnya aku mengangkat kepala, dengan maskara yang aku yakin sudah luntur lagi, persis seperti dua tahun lalu, Arman masih di sana. Dia sedang menatap tangannya sendiri.
“Malam itu,” kata Arman pelan, tanpa menatapku, “Mbak ngomong satu hal lagi. Mbak mungkin nggak ingat.”
Aku tidak ingat. Malam itu kabur di kepalaku, seperti foto yang terlalu lama di bawah matahari.
“Mbak bilang,” lanjutnya, “aku capek jadi orang yang nunggu.”
Napasku berhenti.
“Saya nggak ngerti waktu itu, Mbak. Saya nggak tahu Mbak nunggu siapa. Saya cuma tukang ganti lampu.” Dia menatap lampu darurat di atas pintu. “Tapi saya mikir, kalau ada orang yang capek nunggu, minimal jangan nunggu dalam gelap. Minimal jangan kedinginan. Minimal kursinya jangan bunyi.”
Dia akhirnya menoleh ke arahku.
“Itu kenapanya, Mbak. Yang Mbak tanya kemarin.”
Aku menatapnya. Di bawah cahaya kekuningan, wajahnya terlihat lebih muda, atau lebih lelah, atau dua-duanya sekaligus.
“Dan,” katanya, lalu berhenti. Dia menarik napas. Aku melihat dadanya naik turun, seperti di townhall, sebelum dia bertanya mau jadi pacar saya. “Dan saya suka Mbak. Dari malam itu. Itu juga kenapanya.”
Dia tidak menunggu jawabanku. Dia langsung berdiri, seperti orang yang baru saja menyerahkan laporan dan tidak berani menunggu dibaca.
“Gensetnya belum nyala, Mbak,” katanya cepat. “Saya harus turun. Akinya harus dijumper. Mbak di sini dulu, sudah terang. Nanti listriknya nyala, saya—”
“Aku ikut.”
Dia berhenti. “Mbak?”
“Aku ikut turun.” Aku berdiri. Kakiku sedikit goyah. “Aku nggak mau duduk di sini sendirian lagi.”
Kami turun sembilan lantai bersama.
Lampu darurat di setiap lantai menyala redup, cahaya kekuningan yang membuat tangga beton terlihat seperti lorong di film lama. Arman berjalan di depan, satu anak tangga di bawahku, membawa tangga lipat di bahu dan senter di tangan, menyorot setiap anak tangga di depan kakiku sebelum aku menginjaknya.
Di lantai tujuh, aku tersandung sedikit. Tanganku terulur tanpa berpikir, dan aku meraih ujung kemejanya.
Sama seperti di atas Si Mbah. Ujung jaket parasut. Ujung kemeja.
Arman berhenti. Bahunya menegang, lalu pelan-pelan melemas. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya melanjutkan turun, lebih pelan, supaya aku tidak perlu melepasnya.
Aku tidak melepasnya sampai basement.
Dia menjumper aki genset dalam sebelas menit. Aku menghitungnya, berdiri di ambang ruang mesin, memegang senter untuknya seperti asisten. Genset tua itu batuk tiga kali, lalu menyala dengan raungan yang mengguncang lantai.
Lampu-lampu basement menyala serentak.
Arman berdiri di depan panel genset, menatap jarum-jarum indikator yang naik ke posisi normal. Lalu dia menghela napas panjang, sangat panjang, dan berbalik.
Dan dia melihat gelas teh jahe di meja kerjanya.
Gelas kaca pantry, masih penuh, sudah dingin, dengan permukaan yang sedikit berkabut. Dia meletakkannya di sana satu jam lalu, ketika listrik padam, sebelum dia berlari.
Dia menatap gelas itu. Lalu menatapku. Lalu wajahnya berubah menjadi wajah orang yang baru sadar dia terlambat untuk sesuatu yang sangat penting.
“Teh jahenya,” katanya. “Mbak, maaf. Teh jahenya dingin.”
Aku tertawa.
Tawa yang tidak kurencanakan, tawa yang keluar di tengah mata yang masih bengkak dan maskara yang masih luntur. Dia baru saja berlari sepuluh lantai memanggul tangga lipat, mengganti lampu dalam gelap, menyimpan rahasiaku selama dua tahun, mengaku menyukaiku, dan menjumper genset yang mati. Dan yang dia sesali adalah teh jahenya dingin.
“Sembilan,” kataku di sela tawa.
“Apa, Mbak?”
“Yang kesembilan. Yang kamu lihat.”
Dia menatapku. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum. Senyum yang membuat matanya hampir hilang.
“Teh jahe yang dingin itu bukan teh jahe, Mbak,” katanya. “Kata ibu saya. Saya panasin dulu.”
Dia menyalakan kompor listrik pinjaman, menuang teh itu kembali ke panci penyok, dan memanaskannya dengan api kecil. Jangan terburu-buru.
Sementara menunggu, aku melihat kakinya. Dia berdiri di depan kompor, dan betisnya masih gemetar. Getaran kecil yang terus-menerus, seperti mesin yang belum dimatikan.
“Kakimu gemetar,” kataku.
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Arman.”
Dia menoleh.
“Jangan bilang nggak apa-apa,” kataku. “Kali ini aja. Jujur. Kamu kenapa?”
Dia menatapku lama. Lalu menatap kakinya sendiri. Lalu dia mengatakan sesuatu yang, aku yakin, sudah lama tidak dia katakan kepada siapa pun. Mungkin tidak pernah.
“…Capek, Mbak.”
Satu kata. Dari laki-laki yang mengirim pesan delapan puluh tujuh kata rata-rata.
Aku mengangguk. Aku tidak bilang apa-apa lagi. Aku menarik kursi plastik merah Pak Darto yang kakinya disambung lakban hitam, mendorongnya ke belakang Arman, dan menekan bahunya pelan dengan satu tangan sampai dia duduk.
Lalu aku berdiri di depan kompor, mengambil alih sendok pengaduk dari tangannya, dan mengaduk teh jahe itu dengan api kecil.
“Jangan terburu-buru,” kataku. “Nanti pahit.”
Dari kursi plastik di belakangku, aku mendengar dia tertawa pelan. Tawa yang lebih mirip napas.
“Mbak tahu dari mana?”
Aku menatap uap yang naik dari panci penyok, membawa bau jahe bakar dan serai dan gula aren.
“Nebak,” kataku. “Kayaknya semua yang kamu bikin begitu. Pelan-pelan. Biar nggak pahit.”
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis
- 6 Pencitraan
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat reading
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap