Chapter Nineteen
Empat Jam di Lobi
POV: Clara
Hari Minggu jam tiga sore, ponselku bergetar.
Arman:
Mbak, sesuai janji, saya lapor. Bekasi hujan dari jam 2. Dari 6 unit dapet 4. Kurang 100 ribu. Tapi barusan Dimas telepon, dia nambahin 100 dari uang les. Jadi cukup Mbak. Besok pagi saya transfer ke rekening kampus. Saya bilang karena Mbak minta saya bilang, bukan karena saya minta apa-apa. Mbak jangan transfer apa-apa ya. Selamat sore Mbak. Jangan lupa makan.
Aku membaca pesan itu di kamarku, duduk di tepi kasur.
Saya bilang karena Mbak minta saya bilang.
Dia menepati janjinya. Janji kecil, janji yang kuucapkan di bawah terpal biru warung Mbok Jum tanpa berpikir panjang. Kalau Minggu hujan, kamu bilang aku. Dan Minggu hujan, dan dia bilang. Dengan angka. Dengan laporan lengkap. Dengan peringatan supaya aku tidak mentransfer apa-apa, karena dia tahu, sebelum aku sendiri tahu, bahwa jariku sudah setengah jalan membuka aplikasi bank.
Aku menutup aplikasi bank.
Oke, aku mengetik. Terima kasih udah bilang. Bilang ke Dimas, aku titip salam. Dan bilang dia jangan ngajar les sampai malem.
Satu menit kemudian:
Dimas bilang terima kasih Mbak. Dia bilang Mbak lebih galak dari Ibu. Itu pujian Mbak, di keluarga saya.
Kampanye Pagi Madu diluncurkan hari Kamis malam, jam tujuh, di ballroom hotel bintang lima di Thamrin.
Tiga bulan pekerjaanku. Kemasan kuning madu yang hangat seperti lampu dapur di pagi hari. Iklan televisi tiga puluh detik dengan seorang ibu yang menuang sereal ke mangkuk anaknya di bawah cahaya matahari pagi. Jingle yang ditulis oleh agensi dan direvisi sebelas kali. Dua ratus undangan untuk klien, distributor, media, dan influencer. Panggung dengan latar belakang LED raksasa berwarna kuning keemasan.
Aku berdiri di belakang panggung jam enam sore dengan gaun hitam yang sama dengan yang kupakai di ulang tahun kantor, rambut tergerai yang disisir Tiara selama lima belas menit, dan earpiece di telinga kanan yang menghubungkanku dengan kru acara.
Di meja nomor satu, di barisan paling depan, ada tiga kursi yang dipesan untuk tamu kehormatan. Kursi pertama untuk direktur pemasaran klien. Kursi kedua untuk Pak Hendro.
Kursi ketiga, dengan kartu nama kecil bertuliskan huruf emas, untuk Bapak Herman Wijaya.
Jam enam lewat lima belas, ponselku bergetar.
Papa:
Otw, Nak. Papa udah di jalan.
Aku menatap pesan itu. Lalu aku menatap kursi ketiga di meja nomor satu, kursi dengan kartu nama berhuruf emas.
Otw.
Bukan usahain. Bukan insya Allah. Otw. Papa sudah di jalan.
Aku memasukkan ponsel ke tas kecilku dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Sesuatu yang hangat dan berbahaya. Seperti berdiri di tepi kolam renang di malam hari, tahu airnya dingin, tapi tetap ingin melompat.
Harapan.
Jam tujuh, acara dimulai.
MC naik panggung. Lampu ballroom meredup. LED raksasa menyala dengan animasi matahari terbit berwarna kuning madu. Dua ratus tamu bertepuk tangan.
Kursi ketiga di meja nomor satu masih kosong.
Macet, pikirku. Thamrin di jam segini selalu macet. Papa pasti terjebak di Sudirman.
Jam tujuh lewat dua puluh, giliran sambutan dari klien. Direktur pemasaran naik ke panggung dan berbicara tentang visi perusahaan, tentang sarapan sebagai momen keluarga, tentang pentingnya kehangatan di pagi hari. Dia menyebut namaku. Tim brand yang luar biasa dari PT Sagara Nusantara, khususnya Mbak Clara. Dua ratus orang menoleh ke arahku di sisi panggung. Aku tersenyum dan mengangguk.
Mataku pindah ke kursi ketiga.
Kosong.
Jam tujuh lewat empat puluh, giliranku.
Aku naik ke panggung. Aku berdiri di depan dua ratus orang dengan clicker di tangan dan slide di LED raksasa di belakangku. Aku presentasi tentang strategi kampanye, tentang riset konsumen, tentang perubahan warna dari kuning lemon ke kuning madu.
Kami menemukan bahwa kuning yang terlalu dingin terasa seperti rumah sakit, kataku ke mikrofon. Sarapan adalah momen paling hangat di hari seseorang. Kemasan harus terasa seperti lampu dapur di pagi hari.
Tepuk tangan.
Aku tidak menyebut dari mana ide itu datang. Aku sudah mencoba memasukkannya ke slide, sungguh. Satu baris kecil di pojok bawah: Insight: lampu dapur, 3000K. Tapi agensi menghapusnya karena terlalu teknis, dan aku terlalu lelah untuk berdebat.
Dari panggung, aku bisa melihat seluruh ballroom. Meja-meja bundar dengan taplak putih. Wajah-wajah yang diterangi cahaya kuning dari LED. Tiara di meja nomor lima, mengangkat dua jempol. Pak Hendro di meja nomor satu, tersenyum lebar dengan batik yang motifnya terlalu ramai.
Dan di sebelah Pak Hendro, kursi ketiga.
Kosong.
Aku salah klik dua kali di tengah presentasi. Slide maju terlalu cepat, lalu mundur. Tidak ada yang menyadarinya kecuali aku. Aku pernah salah gerakan tiga kali di pentas tari Merak waktu kelas tiga SD, karena terus melihat ke kursi depan yang kosong.
Delapan belas tahun kemudian, aku masih salah klik karena hal yang sama.
Jam sembilan lewat tiga puluh, di tengah sesi foto bersama media, ponselku bergetar di tas kecil.
Aku tahu sebelum membukanya. Aku selalu tahu. Ada jenis getaran ponsel tertentu yang membuat perutku turun ke lantai, seperti lift yang kabelnya putus.
Papa:
Nak, maaf banget. Papa tadi udah di jalan, tapi klien dari Singapura tiba-tiba minta ketemu di Senayan. Urgent. Nggak bisa ditolak. Papa bangga sama kamu. Papa transfer buat makan-makan sama tim ya.
Satu menit kemudian, notifikasi transfer masuk.
Aku menatap angka itu. Lalu aku menutup ponsel, memasukkannya kembali ke tas, dan berbalik ke arah kamera dengan senyum yang sama dengan yang kupakai di pentas tari Merak.
Fotografer bilang, Satu, dua, tiga, senyum!
Aku tersenyum.
Kursi ketiga di meja nomor satu masih kosong, dengan kartu nama berhuruf emas yang tidak pernah dibaca siapa-siapa.
Acara selesai jam sebelas kurang lima belas. Aku tinggal sampai jam sebelas lewat sepuluh untuk membereskan urusan dengan vendor, mengecek banner, memastikan semua tamu VIP sudah pulang dengan selamat, dan menandatangani berita acara dengan pihak hotel.
Tiara menawarkan diri menemaniku. Aku menolak. Aku bilang aku baik-baik saja. Aku bilang aku cuma capek. Tiara menatapku lama, lalu memelukku sebentar dan pergi dengan taksi bersama tim yang lain.
Lalu aku sendirian, berjalan dari ballroom ke lobi hotel, melewati koridor panjang yang dilapisi karpet merah tebal dan lampu kristal yang terlalu terang.
Sepatu hak tujuh sentiku tidak berbunyi di karpet itu. Semuanya sunyi.
Aku berpikir untuk duduk di toilet hotel dan menangis. Itu yang biasa kulakukan. Ruangan tertutup. Tanpa kaca. Tanpa orang. Hotel tidak punya tangga darurat yang bisa kumasuki dengan mudah, tapi toilet hotel cukup.
Aku sampai di lobi. Lampu kristal besar menggantung di tengah ruangan. Lantai marmer mengilap. Sofa-sofa kulit berwarna krem tersusun di sudut-sudut. Hampir kosong. Seorang resepsionis di meja depan. Dua satpam di pintu putar. Dan di sofa kulit paling ujung, di dekat pilar marmer, ada seseorang yang duduk sendirian.
Aku hampir melewatinya.
Lalu aku melihat jasnya.
Jas hitam yang terlalu besar. Bahunya melorot dari bahu orang yang memakainya. Lengannya terlalu panjang sehingga menutupi sampai pangkal jari. Jas kuno, dengan kerah lebar dan kancing dua, jenis jas yang dipakai untuk kondangan di tahun sembilan puluhan.
Lalu aku melihat apa yang ada di pangkuannya.
Helm putih. Helm half-face putih dengan kaca bening.
Dan di lantai, di sebelah kakinya, termos kecil berwarna hijau.
Aku berhenti berjalan.
Dia mendongak. Matanya merah, tapi bukan karena menangis. Karena mengantuk. Karena terlalu lama menatap lampu kristal yang terlalu terang.
Lalu dia berdiri. Terlalu cepat, seperti biasa. Jas kebesaran itu bergoyang di bahunya.
“Mbak,” kata Arman.
Aku tidak bisa bicara.
Aku berdiri di tengah lobi hotel bintang lima, dengan gaun hitam dan rambut tergerai dan tas kecil berisi ponsel yang menyimpan pesan Papa bangga sama kamu dan notifikasi transfer, dan aku tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.
Resepsionis di meja depan, seorang perempuan muda dengan sanggul rapi, menatap kami. Lalu dia berjalan mendekat, pelan, dengan senyum yang sopan dan sedikit ragu.
“Mbak, maaf,” katanya padaku, dengan suara rendah. “Mbak kenal Mas ini?”
Aku mengangguk.
“Oh, syukurlah.” Resepsionis itu tersenyum lega. “Mas ini dari jam tujuh duduk di situ, Mbak. Kami tawarin minum, nggak mau. Kami tanya nunggu siapa, katanya nunggu orang yang lagi kerja di ballroom. Kami bilang bisa kami panggilkan, katanya jangan, nanti ganggu.” Dia melirik Arman. “Empat jam, Mbak. Kami sempat khawatir.”
Empat jam.
Jam tujuh. Ketika aku naik ke panggung dan melihat kursi ketiga yang kosong. Jam tujuh lewat empat puluh, ketika aku salah klik dua kali. Jam sembilan lewat tiga puluh, ketika ponselku bergetar dan perutku turun ke lantai.
Selama itu, empat lantai di bawah, di sofa kulit paling ujung di lobi, dia duduk.
Resepsionis itu kembali ke mejanya. Arman masih berdiri di depan sofa, memegang helm putih dengan dua tangan.
“Aku bilang,” kataku akhirnya. Suaraku pecah di kata pertama. “Aku bilang kamu nggak usah nunggu.”
“Iya, Mbak.”
“Kamu bilang iya.”
“Iya, Mbak.” Dia menunduk. “Maaf. Saya nggak bisa nepatin yang itu.”
“Kenapa?”
Dia menatap helm di tangannya. Lalu dia menatapku. Dan dia mengatakannya dengan suara pelan, sedikit gemetar, suara yang sama yang kudengar di tangga darurat dua tahun lalu:
“Mbak bilang Papa Mbak bilang pasti. Dan Mbak bilang Papa Mbak nggak pernah bilang pasti.” Dia berhenti sebentar. “Saya nggak tahu Papa Mbak bakal dateng atau nggak. Saya harap dateng. Saya beneran harap. Tapi kalau nggak dateng…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Dia tidak perlu.
Kalau ada orang yang capek nunggu, minimal jangan nunggu dalam gelap.
Aku menatap jas kebesarannya. “Itu jas siapa?”
“Pak Darto, Mbak. Jas nikahannya. Tahun sembilan puluh enam.” Dia mengusap tengkuknya. “Saya nggak punya jas. Lobi hotel bintang lima nggak boleh pakai kemeja GA. Satpamnya bilang gitu tadi.”
“Kamu ditegur satpam?”
“Tadi sore, Mbak. Jam lima. Waktu saya pertama dateng pakai seragam. Terus saya pulang ke basement, pinjem jas Pak Darto, balik lagi jam tujuh.”
Jam lima. Dia datang jam lima. Ditolak satpam. Pulang ke kantor. Meminjam jas nikahan Pak Darto. Kembali jam tujuh. Duduk empat jam.
Aku menatapnya, dan sesuatu di dadaku yang sudah kutahan sejak jam tujuh malam, sejak kursi ketiga, sejak Papa bangga sama kamu, mulai retak.
Arman sepertinya melihat itu. Karena dia tiba-tiba menegakkan punggung, dan berusaha tersenyum, dan mengatakan sesuatu dengan nada bercanda yang terlalu kaku untuk benar-benar bercanda:
“Masih masa percobaan, Mbak.” Dia mengangkat helm putih itu sedikit. “Saya harus rajin.”
Lalu aku memeluknya.
Aku tidak merencanakannya.
Aku tidak pernah merencanakan hal-hal penting dengan Arman. Itu masalahnya. Semua hal penting terjadi sebelum otakku sempat membuat spreadsheet.
Aku melangkah ke depan dan memeluknya. Di tengah lobi hotel bintang lima, di bawah lampu kristal yang terlalu terang, di depan resepsionis bersanggul dan dua satpam di pintu putar. Aku memeluknya dengan gaun hitam dan rambut tergerai, dan wajahku menempel di jas nikahan Pak Darto yang berbau kamper dan lemari tua.
Arman membeku.
Seluruh tubuhnya kaku seperti tiang. Helm putih masih di tangannya, terjepit di antara kami. Napasnya berhenti. Aku bisa merasakannya, karena dadanya yang tadinya naik turun tiba-tiba diam.
Lalu, pelan-pelan, sangat pelan, seperti orang yang memutar sekrup yang tidak boleh terlalu kencang, dia bergerak.
Helm putih itu jatuh ke lantai marmer. Tok. Bunyinya memantul di lobi yang sunyi.
Dan tangannya, tangan yang kasar dan kapalan dan hangat, tangan yang tadi memegang helm itu selama empat jam, naik pelan ke punggungku. Satu tangan. Ragu-ragu. Seperti orang yang tidak yakin boleh menyentuh sesuatu yang berharga.
Lalu tangan yang satunya.
Dia memelukku. Dan dia memelukku seperti dia melakukan segalanya: hati-hati, pelan-pelan, tidak terlalu kencang, supaya tidak ada yang rusak.
Aku menangis.
Di dadanya, di jas nikahan Pak Darto, di tengah lobi hotel. Aku menangis tanpa suara, dengan bahu bergetar, seperti di tangga darurat. Aku menangis untuk kursi ketiga yang kosong. Untuk kostum Merak yang dijahit Mama. Untuk restoran yang dipesan untuk tiga orang. Untuk lobi kantor jam sembilan malam dua tahun lalu. Untuk semua transfer yang mencoba duduk di kursi kosong.
Dan aku menangis karena kali ini, untuk pertama kalinya, ketika aku keluar dari tempat di mana aku menunggu seseorang yang tidak datang, ada seseorang lain yang sudah menunggu aku.
Arman tidak bilang apa-apa. Dia tidak bilang sudah, Mbak. Dia tidak bilang jangan nangis. Dia tidak bilang Papa Mbak pasti punya alasan. Dia cuma berdiri di sana, memelukku dengan hati-hati, sampai tangisanku selesai.
Seperti di tangga darurat. Dia selalu menunggu sampai selesai.
Aku tidak tahu berapa lama. Ketika akhirnya aku mengangkat kepala, jas Pak Darto basah di bagian dada, dengan noda maskara hitam yang aku yakin tidak akan hilang dengan mudah.
“Jasnya,” kataku dengan suara serak. “Kotor.”
“Nggak apa-apa, Mbak.” Dia berhenti. Lalu mengoreksi dirinya sendiri, dengan suara pelan: “Pak Darto pasti ngerti.”
Aku melepaskan pelukanku. Pelan. Dia juga melepaskan tangannya dari punggungku. Pelan. Seperti dua orang yang tidak mau, tapi harus, karena resepsionis bersanggul itu sekarang pura-pura sangat sibuk dengan komputernya dan dua satpam di pintu putar pura-pura sangat tertarik dengan langit-langit.
Arman membungkuk dan memungut helm putih dari lantai marmer. Lalu dia membungkuk lagi, dan memungut termos hijau dari sebelah kaki sofa.
“Mbak,” katanya. “Ini Kamis.”
Aku menatap termos itu.
“Mbak bilang teh jahenya libur,” katanya. “Tapi saya udah bikin dari sore. Sebelum ke sini. Saya simpen di termos biar nggak dingin.” Dia membuka tutup termos itu, dan uap tipis naik ke udara lobi hotel bintang lima, membawa bau jahe bakar dan serai dan gula aren. “Teh jahe yang dingin itu bukan teh jahe.”
Aku tertawa.
Tertawa dengan mata yang masih basah, dengan maskara yang luntur, dengan suara yang masih serak karena menangis. Tertawa di lobi hotel di Thamrin jam sebelas lewat dua puluh malam.
“Sebelas,” kataku.
Arman menatapku. Lalu, pelan-pelan, dia tersenyum. Senyum yang membuat matanya hampir hilang.
“Sebelas, Mbak.”
Kami duduk di sofa kulit paling ujung, di dekat pilar marmer. Dia menuang teh jahe ke tutup termos yang juga berfungsi sebagai gelas, dan menyerahkannya padaku dengan dua tangan. Aku memegangnya dengan dua tangan. Hangatnya merambat dari telapak tanganku ke pergelangan, ke lengan, ke dada.
Di tasku, ponsel bergetar sekali lagi. Mungkin Papa. Mungkin Tiara. Mungkin Lambe Lantai 9, yang pasti sudah mendapat laporan dari seseorang, entah bagaimana.
Aku tidak membukanya.
Aku duduk di sebelah Arman di lobi hotel, dengan bahu kami bersentuhan, meminum teh jahe dari tutup termos, sementara dia duduk diam dengan jas nikahan Pak Darto yang kebesaran dan bernoda maskara.
Di meja nomor satu di ballroom empat lantai di atas kami, kursi ketiga masih kosong.
Di lobi, di sofa paling ujung, tidak ada kursi yang kosong.
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis
- 6 Pencitraan
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi reading
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap