Chapter Seventeen
Cemburu Itu Bukan Indikator
POV: Clara
Brownies itu masih ada di laci mejaku hari Selasa.
Dua potong. Dari kedai kue di lobi, yang antrinya panjang setiap jam makan siang. Brownies cokelat dengan taburan almond, yang kata Tiara rasanya seperti “dipeluk pakai cokelat”. Aku membelinya Senin siang jam dua belas, setelah rapat dengan agensi, karena Kamis lalu Arman membawakan teh jahe dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum, dan Jumat dia berdiri di bawah atap seng yang bocor supaya aku tidak kehujanan, dan aku pikir, sekali saja, aku yang turun ke basement membawa sesuatu.
Sekali saja.
Aku berjalan lewat lorong samping lobi, jalan pintas ke lift barang, karena lift barang turun langsung ke basement dan aku tidak mau ada orang lantai 9 yang melihatku di lift penumpang membawa kotak kue dengan wajah seperti orang mau melamar.
Dan di ujung lorong itu, lewat pintu kaca loading dock, aku melihatnya.
Arman duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang. Di sebelahnya ada perempuan. Rambut sebahu, kemeja putih, kotak bekal biru di pangkuan. Mereka makan bersama. Perempuan itu sedang tertawa. Lalu dia mencondongkan badan dan mengelap dagu Arman dengan tisu, cepat dan akrab, seperti orang yang sudah melakukannya ratusan kali.
Aku berhenti di balik pilar.
Tiga detik.
Lalu aku berbalik dan berjalan kembali ke lift penumpang, dengan kotak brownies di tangan, dan naik ke lantai 9, dan memasukkan kotak itu ke laci, dan menutup laci itu dengan sangat pelan.
Lalu aku duduk di mejaku dan membalas pesan Arman tentang lampu meja Tiara dengan dua huruf.
Ok.
“Ini brownies dari lobi?”
Tiara berdiri di samping mejaku hari Selasa siang, memegang kotak yang dia temukan entah bagaimana di laciku. Tiara bisa menemukan apa pun. Tiara pernah menemukan dompet Pak Hendro yang hilang di dalam pot tanaman lobi.
“Jangan dibuka.”
“Udah aku buka. Masih dua. Utuh.” Tiara menatap isinya, lalu menatapku. “Kamu beli dua potong brownies dan nggak makan satu pun. Clara Clementine Wijaya, kamu itu orang yang pernah makan tiga potong brownies ini sendirian waktu kampanye minuman serbuk ditolak.”
“Itu buat orang.”
“Buat siapa?”
Aku tidak menjawab.
Tiara meletakkan kotak itu di mejaku. Lalu dia menarik kursi dan duduk, terlalu dekat, seperti biasa. “Ra. Kemarin kamu bales chat-nya cuma ‘Ok’. Terus ‘Iya’. Joni bilang Mas Arman empat puluh menit ngelihatin HP di basement. Pak Darto sampai ngomong sama lampu neon.”
“Kok kamu tahu?”
“Pak Darto admin Lambe Lantai 9, Ra. Pak Darto cerita semuanya.” Tiara mencondongkan badan. “Ada apa?”
Aku menatap layar laptop. Di layar ada slide yang sedang kukerjakan sejak semalam. Slide untuk Evaluasi Periode II besok. Aku menutupnya dengan cepat, tapi tidak cukup cepat.
Tiara sudah melihat.
Dia menarik laptopku ke arahnya. Aku mencoba menahannya. Tiara lebih kuat dari kelihatannya; dia ikut kelas boxing setiap Rabu malam.
Dia membuka slide itu.
Indikator 6 (Tambahan): Tidak menerima bekal dari pihak lain.
Bobot: 20%.
Catatan: Bobot indikator lain disesuaikan secara proporsional.
Tiara menatap slide itu lama.
Lalu dia mulai tertawa.
Bukan tawa biasa. Tawa yang dimulai pelan, seperti mesin yang dinyalakan, lalu semakin keras, semakin keras, sampai dia harus memegang meja, sampai Pak Joko dari Finance mengintip dari balik partisi, sampai air mata mengalir dari sudut matanya dan maskaranya mulai luntur.
“Tidak menerima,” katanya di sela tawa, “bekal… dari pihak lain…”
“Tiara—”
“Bobot indikator lain disesuaikan secara proporsional!” Tiara memukul meja. Kotak brownies melompat. “Kamu cemburu sampai bikin indikator! Kamu cemburu pakai bobot!”
“Aku nggak cemburu.”
“Terus ini apa?”
“Ini cek kepatuhan kontrak.” Aku menarik laptopku kembali. “Masa percobaan itu ada syarat-syaratnya. Kalau ada perkembangan baru, syaratnya harus diperbarui. Itu prosedur standar. Semua kontrak kerja juga begitu.”
Tiara menyeka air matanya dengan jari. “Ra. Aku HR. Aku bikin kontrak kerja tiap hari. Nggak ada kontrak kerja yang punya klausul tidak menerima bekal dari pihak lain.”
“Ini bukan kontrak kerja biasa.”
“Ya jelas.” Tiara masih tertawa, tapi lebih pelan sekarang. Lalu dia berhenti, dan menatapku dengan mata yang merah dan basah. “Siapa perempuannya?”
Aku diam.
“Ra.”
“Aku nggak tahu namanya.” Suaraku keluar lebih kecil dari yang kuinginkan. “Rambut sebahu. Kemeja putih. Bawa bekal biru. Di loading dock. Dia ngelap dagunya.”
Tiara mengerutkan dahi. Lalu wajahnya berubah. Dari bingung, ke berpikir, ke paham, ke sesuatu yang aneh, seperti orang yang menahan tawa dan simpati pada saat yang sama.
“Rambut sebahu, kotak bekal biru, hari Senin?”
“Iya.”
“Ra.” Tiara menepuk lenganku. “Itu Sinta. Finance lantai enam.”
“Kamu kenal?”
“Aku HR, Ra. Aku kenal semua orang.” Tiara menyandarkan punggung. “Sinta itu adik kosnya Mas Arman. Dari dulu. Delapan tahun lalu. Mas Arman yang ngasih tahu dia ada lowongan di sini. Tiap Senin dia bawain Mas Arman bekal, udah tiga tahun. Satu kantor tahu.”
“Aku nggak tahu.”
“Karena kamu baru dua bulan peduli sama Mas Arman.” Tiara mengatakannya dengan lembut, tapi kalimat itu tetap menancap. “Sebelumnya kamu nggak tahu dia ada.”
Aku menatap kotak brownies di mejaku.
Itu benar. Itu sepenuhnya benar. Dua tahun dia menaikkan suhu AC di atas kepalaku, dan aku tidak tahu dia ada. Tiga tahun Sinta membawakannya bekal setiap Senin, dan aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa tentang dunianya sebelum townhall. Aku cuma tahu dunianya setelah aku masuk ke dalamnya.
Dan begitu aku melihat orang lain di dunia itu, aku langsung membuat indikator.
“Aku tetap mau bahas besok,” kataku keras kepala.
Tiara tersenyum. Senyum yang sama dengan di restoran Jepang. Pelan. Sahabat, bukan admin bayangan.
“Bahas aja, Ra,” katanya. “Aku cuma mau lihat mukanya pas lihat slide itu.”
Hari Rabu jam dua siang, dua jam sebelum evaluasi, seseorang mengetuk pintu pantry ketika aku sedang mengisi gelas dengan air hangat.
Aku menoleh. Rambut sebahu. Kemeja putih. Wajah bulat dengan mata yang sipit dan ramah.
“Mbak Clara, ya?”
Aku meletakkan gelasku. “Iya.”
“Saya Sinta. Finance, lantai enam.” Dia mengulurkan tangan, dan aku menjabatnya, dan tangannya hangat dan sedikit berkeringat, seperti orang yang gugup. “Maaf ganggu, Mbak. Saya cuma mau ngomong sebentar. Boleh?”
Aku mengangguk. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.
Sinta menutup pintu pantry di belakangnya. Lalu dia berdiri di sana, memegang ujung kemejanya dengan dua tangan, seperti anak sekolah di depan guru BK.
“Mbak, Mas Arman itu udah kayak kakak saya sendiri,” katanya. “Dari saya umur delapan belas. Dia yang benerin kipas kamar saya pas saya baru dateng ke Jakarta dan nangis tiap malam. Dia yang ngajarin saya naik angkot. Dia yang ngasih tahu saya ada lowongan di sini.” Dia menarik napas. “Saya tahu Mbak mungkin lihat saya kemarin. Di loading dock. Joni bilang ada Mbak-Mbak blazer krem lewat.”
Joni. Tentu saja Joni.
“Saya cuma mau bilang,” lanjut Sinta, “saya nggak ada apa-apa sama Mas Arman. Saya udah punya pacar. Namanya Fajar. Kerja di bank, di Kuningan. Bulan depan lamaran.”
“Oh,” kataku. Itu satu-satunya kata yang bisa kuhasilkan.
“Dan Mbak,” Sinta melangkah sedikit lebih dekat, dan suaranya menjadi lebih pelan. “Tolong jagain dia ya, Mbak. Dia nggak pernah mau dijagain. Dari dulu. Dia jagain semua orang, tapi kalau ada yang mau jagain dia, dia kabur.”
Aku menatapnya.
“Sekarang dia kerja sampingan tiap Sabtu-Minggu,” kata Sinta. “Servis AC. Dari pagi sampai sore. Udah tiga minggu.”
“Aku tahu,” kataku. “Dia bilang buat tambahan.”
“Buat UKT adiknya, Mbak. Dimas. Empat juta dua. Batasnya minggu depan.” Sinta menggigit bibirnya. “Saya mau pinjemin, dia nolak. Dia nggak mau dibantu siapa-siapa. Saya nggak tahu harus gimana lagi. Mbak jangan bilang saya yang cerita, ya. Nanti dia marah. Bukan marah sih. Nanti dia diem. Itu lebih parah.”
Empat juta dua. Minggu depan.
Aku teringat hidungnya yang mengelupas karena terbakar matahari. Goresan di punggung tangannya. Noda hitam di kuku. Dia tertidur duduk di sofa Mama dengan tangan terlipat rapi di pangkuan. Tidur jam satu, Mbak. Ngerjain catatan inventaris.
Dia tidak pernah bilang.
Dia bilang buat tambahan. Dia bilang nggak apa-apa. Dia membawakan teh jahe setiap Kamis dan meletakkannya di sebelah keyboard-ku dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum, padahal setiap Sabtu dan Minggu dia memanjat tangga di rumah-rumah orang di Cibubur sampai kakinya gemetar.
“Aku nggak akan bilang,” kataku pada Sinta. “Makasih udah cerita.”
Sinta tersenyum lega. Lalu, sebelum keluar, dia menoleh dan bilang satu hal lagi:
“Mbak. Dia ngomongin Mbak terus, lho. Kemarin di loading dock. Soal kuning madu. Soal Mbak pegang tangannya di halte. Dia bilang, Sin, tangannya nggak gemetar. Kayak itu hal paling penting di dunia.”
Pintu pantry menutup di belakangnya.
Aku berdiri sendirian di pantry dengan gelas air hangat yang sudah tidak hangat lagi.
Evaluasi Periode II dimulai jam empat tepat di Ruang Rapat Melati.
Arman datang jam empat kurang lima belas, tentu saja, dengan map plastik bening berisi form KPI yang dilaminating dan kertas bergaris yang semakin tebal. Wajahnya tegang. Wajah karyawan yang dipanggil HR tanpa tahu salahnya apa.
Aku menyalakan televisi di dinding.
EVALUASI MASA PERCOBAAN — PERIODE II (HARI 31–60)
Indikator satu: lima. Dia tidak pernah terlambat, kecuali untuk menyelamatkan orang dari lift atau berlari sepuluh lantai dalam gelap.
Indikator dua: tiga. Naik satu poin. Rata-rata waktu balas turun ke empat menit. Rata-rata panjang pesan masih tujuh puluh kata. Aku tidak memberitahunya bahwa rata-rata panjang pesanku naik ke tiga puluh delapan.
Indikator tiga: enam per lima. Lagi.
“Mbak,” kata Arman pelan. “Skalanya belum direvisi.”
“Belum sempat.”
Indikator empat: tiga. Tidak ada karaoke. Tidak ada gombalan genset. Ada sticky note dengan gambar bohlam jelek, tapi itu tidak di depan umum.
Indikator lima.
Aku menatap angka di slide. Aku tidak perlu menghitung yang ini. Arman sudah menghitungnya untukku.
“Lima,” kataku.
Arman mengangkat kepala dari kertas bergarisnya. “Lima, Mbak?”
“Sembilan kali yang kamu lihat. Ditambah yang di halte. Waktu Nisa nanya kamu lulus apa nggak.”
“Itu sepuluh, Mbak.”
“Itu sepuluh.”
Dia menulis 5 di kertasnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Aku bisa membaca terbalik: Ind. 5: 5. (10 kali.)
Lalu aku menekan tombol panah ke kanan.
Indikator 6 (Tambahan): Tidak menerima bekal dari pihak lain.
Ruang Rapat Melati hening.
Arman menatap slide itu. Dia membacanya sekali. Dua kali. Aku melihat bibirnya bergerak tanpa suara, mengeja bekal, pihak, lain.
Lalu dia menatapku, dan wajahnya perlahan berubah. Dari bingung, ke berpikir, ke paham. Persis seperti wajah Tiara kemarin.
“Bekal… Sinta?”
“Aku nggak nyebut nama.”
“Mbak lihat?”
“Aku lewat.”
“Di lorong samping lobi?” Dia terdiam. “Yang blazer krem?”
Aku tidak menjawab.
Arman menatapku lama. Lalu dia bertanya dengan suara yang sangat hati-hati, seperti orang yang memegang kabel yang tidak tahu masih bertegangan atau tidak:
“Mbak cemburu?”
“Cemburu bukan indikator.”
“Tapi ini indikator.”
“Ini indikator kepatuhan kontrak.”
Arman menatap slide itu lagi. Lalu dia menatap kertas bergarisnya. Lalu dia menatapku. Dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajahnya selama enam puluh hari. Bukan senyum malu. Bukan senyum orang yang tidak percaya.
Dia sedang menahan tawa.
“Kamu ketawa?” tanyaku.
“Nggak, Mbak.”
“Kamu ketawa, Arman.”
“Tadi tersedak, Mbak.”
Aku membuka mulut. Itu jawabanku. Itu jawaban yang kuberikan di rooftop Senopati, di malam evaluasi pertama, ketika dia memegang sendok keramik kecil dan bertanya ini sampel.
Dia ingat. Dia ingat semuanya.
Aku menutup mulutku. Wajahku panas.
Arman berdeham, menegakkan punggung, dan berbicara dengan nada yang sangat serius, sangat formal, seperti karyawan yang menanggapi evaluasi kinerja.
“Saya terima indikatornya, Mbak. Jelas. Terukur.” Dia berhenti sebentar. “Tapi saya mau ajukan klarifikasi.”
“Silakan.”
“Sinta itu sudah saya anggap adik. Dari umur delapan belas. Dia bawa bekal tiap Senin sudah tiga tahun.” Dia menatap tangannya. “Kalau saya tolak bekalnya tiba-tiba, dia sedih, Mbak. Dia nanti mikir dia salah apa. Dia gampang mikir begitu.”
Aku tahu itu. Aku sudah tahu dari pantry. Dia nggak pernah mau dijagain. Dia jagain semua orang.
Termasuk perasaan adik kosnya yang membawakannya bekal.
“Bekalnya boleh,” kataku akhirnya.
Arman menatapku.
“Bekalnya boleh,” ulangku, menatap layar biru di dinding, bukan wajahnya. “Ngelap dagunya nggak.”
Hening.
Lalu Arman tertawa. Kali ini dia tidak menahannya. Tawa lepas, keras, tawa Si Mbah di puncak tanjakan Kuningan, tawa yang memantul di dinding Ruang Rapat Melati yang tidak berkaca.
Dari balik dinding, dari arah pantry, terdengar bunyi mug jatuh. Lagi.
“Iya, Mbak,” kata Arman di sela tawanya. “Dagunya nanti saya lap sendiri.”
Dia menulis sesuatu di kertasnya. Aku membacanya terbalik:
Ind. 6: Bekal boleh. Lap dagu tidak. (Mbak cemburu.)
“Coret yang di kurung,” kataku.
“Iya, Mbak.”
Dia tidak mencoretnya.
Hujan turun lagi jam lima sore, ketika kami keluar dari lobi. Tidak sederas hujan di halte, tapi cukup untuk membuat orang-orang berhenti di bawah kanopi.
Aku membawa payung. Payung lipat warna abu-abu, yang selalu ada di tasku sejak hujan hari Jumat lalu. Arman tidak membawa payung. Arman tidak pernah membawa payung. Dia membawa obeng, meteran, karet seal, dan senter, tapi tidak payung.
Si Mbah diparkir di area motor, lima puluh meter dari lobi, di seberang jalan masuk gedung.
“Saya lari aja, Mbak,” kata Arman, sudah bersiap menembus hujan. “Mbak hati-hati nyetir.”
Aku membuka payung.
Lalu, sebelum dia sempat melangkah, aku meraih lengannya dan menariknya masuk ke bawah payung itu. Ke sisiku. Begitu dekat sampai bahunya menempel di bahuku.
Payung abu-abu itu terlalu kecil untuk dua orang. Bahu kanannya, bahu yang sama yang basah di halte, langsung terkena hujan lagi.
Aku tidak melepaskan lengannya.
Aku menyelipkan tanganku di lengannya, di antara siku dan tubuhnya, dan merangkulnya. Seperti orang yang berjalan bersama di pasar. Seperti Mama dulu merangkul lengan Papa di foto-foto pernikahan mereka, foto-foto yang sekarang disimpan di dalam kardus di gudang.
Arman berhenti berjalan.
“Mbak,” katanya. Suaranya tercekat.
“Jalan,” kataku. “Kamu kena hujan.”
“Bahu Mbak juga kena.”
“Makanya jalan.”
Kami berjalan lima puluh meter di bawah payung abu-abu yang terlalu kecil, di tengah hujan sore, dengan tanganku di lengannya. Bahu kanannya basah. Bahu kiriku basah. Di tengah-tengah, di antara kami, di bawah payung, kering dan hangat.
Di belakang kami, di bawah kanopi lobi, aku mendengar suara orang bersiul. Lalu suara Bayu, anak IT lantai tujuh, yang entah bagaimana ada di mana-mana, berteriak:
“INDIKATOR ENAM AMAN, MAS!”
Aku tidak menoleh. Aku tidak melepaskan lengannya.
Kami sampai di Si Mbah. Arman berdiri di samping motornya, di bawah payungku, dan menatapku. Rambutnya basah di bagian kanan. Kemejanya basah di bahu kanan. Wajahnya merah sampai ke telinga.
“Mbak,” katanya.
“Hm?”
“Indikator enam,” katanya pelan. “Saya mau ajukan satu klarifikasi lagi.”
“Apa?”
“Kalau yang ngelap dagu saya Mbak,” katanya, menatap setang Si Mbah dan bukan wajahku, “boleh?”
Hujan berbunyi di atas payung abu-abu itu.
Aku tidak menjawab. Aku melepas lengannya, menyerahkan payung itu ke tangannya, dan berjalan kembali ke lobi di bawah hujan tanpa payung.
“Mbak! Payungnya!”
“Buat kamu,” kataku tanpa menoleh. “Kamu nggak pernah bawa payung.”
Aku basah kuyup ketika sampai di bawah kanopi lobi. Bayu menatapku dengan mulut terbuka. Aku melewatinya tanpa berkata apa-apa, masuk ke lift, menekan tombol B2.
Di lift, sendirian, aku menyentuh pipiku. Panas. Padahal aku basah kuyup.
Aku tidak menjawab pertanyaannya.
Tapi di catatan ponselku, di bawah Evaluasi Periode II, di baris indikator enam, aku menulis satu kalimat dengan jari yang dingin dan sedikit gemetar:
Pengecualian: pihak penilai.
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis
- 6 Pencitraan
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator reading
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap