Chapter Five
Teh Jahe Hari Kamis
POV: Arman
Resep teh jahe itu punya Ibu.
Jahe merah sebesar ibu jari, dibakar sebentar di atas api sampai kulitnya sedikit gosong, lalu digeprek, bukan diiris. Kata Ibu, jahe yang diiris itu jahe orang kota, rasanya cuma lewat. Jahe yang digeprek itu jahe orang kampung, rasanya tinggal. Tambah serai satu batang yang ditekuk jadi tiga. Gula aren, bukan gula pasir. Direbus dengan api kecil, jangan sampai mendidih terlalu keras, karena kata Ibu, jahe yang direbus terburu-buru jadi pahit, sama seperti orang.
Waktu kecil, setiap kali aku demam, Ibu membuatkannya di dapur kayu kami di Klaten. Aku tidak pernah sembuh karena teh jahe itu. Aku sembuh karena Ibu duduk di sampingku sampai gelasnya habis.
Di ruang GA basement PT Sagara Nusantara tidak ada dapur kayu. Yang ada adalah kompor listrik satu tungku yang kupinjam dari gudang inventaris, panci kecil penyok yang kubeli di pasar Tebet seharga dua belas ribu, dan stopkontak di belakang lemari arsip yang tidak terdaftar di denah kelistrikan gedung.
Kamis malam, jam delapan lewat empat puluh, aku sedang mengaduk panci itu ketika Pak Darto masuk dengan jaket sudah terpasang, siap pulang.
Dia berhenti di ambang pintu. Dia mengendus udara.
“Man.”
“Iya, Pak.”
“Ruang GA ini bukan warung wedang.”
“Iya, Pak.”
“Kompor itu dari inventaris?”
“Pinjam, Pak. Nanti saya balikin.”
“Stopkontaknya yang di belakang lemari?”
Aku diam.
Pak Darto menghela napas panjang. Lalu dia mendekat, melongok ke dalam panci, dan mengendus lagi, kali ini lebih lama.
“Pakai serai?”
“Iya, Pak.”
“Gula aren?”
“Iya, Pak.”
“Jahenya dibakar dulu?”
“Iya, Pak. Resep Ibu.”
Pak Darto mengangguk pelan, dengan wajah seorang juri lomba masak yang terpaksa mengakui sesuatu. Lalu dia mengambil gelas kopinya sendiri dari meja, menyodorkannya ke arahku tanpa berkata apa-apa, dan menunggu.
Aku menuangkan setengah gelas untuknya.
Dia meniupnya, meminumnya sedikit, lalu terdiam lama.
“Buat Mbak Clara?”
“Iya, Pak.”
“Dia minta?”
“Nggak, Pak.”
“Dia tahu?”
“Nggak, Pak.”
Pak Darto menatapku dari balik uap gelasnya. Aku sudah bekerja lima tahun dengannya, dan aku tahu tatapan itu. Itu tatapan yang sama yang dia berikan ke genset tua di pojok basement, genset yang terus dia perbaiki meskipun manajemen sudah tiga kali menyuruh menggantinya.
“Kenapa nggak dikasih langsung?”
Aku mematikan kompor. Aku menuangkan teh itu ke gelas kaca pantry yang tadi kucuci dua kali, lalu menutupnya dengan tutup plastik supaya panasnya tidak lari selama di lift.
“Kalau kelihatan, nanti dia nggak enak, Pak.”
“Nggak enak gimana?”
“Nanti dia merasa harus bilang terima kasih. Merasa harus balas. Merasa utang.” Aku memegang gelas itu dengan dua tangan. Panasnya pas. “Mbak Clara itu orangnya nggak suka utang, Pak. Saya cuma mau dia minum teh anget. Bukan mau dia merasa harus ngapa-ngapain.”
Pak Darto tidak menjawab. Dia menghabiskan setengah gelasnya, meletakkan gelas itu di meja, lalu mengancingkan jaketnya.
“Tutup plastiknya dilepas sebelum ditaruh,” katanya sambil berjalan ke pintu. “Kalau ditaruh pakai tutup, kelihatan kayak dibawa dari luar. Kalau tanpa tutup, kelihatan kayak dibikin di pantry. Orang lebih gampang terima barang yang kelihatannya biasa.”
Aku menatapnya. “Bapak kok tahu?”
Pak Darto berhenti di ambang pintu. Dia tidak menoleh.
“Dua puluh sembilan tahun saya nikah, Man. Dua puluh sembilan tahun saya taruh kopi di meja istri saya tiap subuh. Dia baru sadar itu dari saya pas tahun ketujuh.”
Lalu dia pergi.
Lift ke lantai 9 berbunyi ding pada jam sembilan kurang tiga menit.
Aku tahu jadwalnya. Bukan karena aku menguntitnya. Aku tidak menguntitnya. Aku cuma tahu banyak hal tentang lantai 9 karena itu pekerjaanku. Aku tahu Pak Joko dari Finance selalu meninggalkan kipas angin kecil di bawah mejanya dalam keadaan menyala. Aku tahu anak-anak IT lantai 7 menyembunyikan rice cooker di ruang server. Dan aku tahu bahwa setiap Kamis malam, sekitar jam sembilan, Mbak Clara akan berdiri dari mejanya, merenggangkan punggung, lalu berjalan ke pantry untuk mengambil air hangat. Dia pergi sekitar empat sampai enam menit. Kadang dia berdiri di depan jendela pantry dan menatap lampu-lampu Gatot Subroto. Kadang dia cuma bersandar di meja pantry dengan mata tertutup.
Malam itu, dari balik pintu tangga darurat yang kubuka sedikit, aku melihatnya berdiri, merenggangkan punggung, dan berjalan ke pantry.
Aku punya lima menit.
Aku berjalan cepat melewati deretan meja yang gelap. Meja 9-14 adalah satu-satunya yang lampunya menyala. Laptopnya terbuka, menampilkan slide dengan warna kuning madu. Kuning madu. Dia benar-benar menggantinya. Ada yang hangat di dadaku yang tidak ada hubungannya dengan teh.
Aku melepas tutup plastik gelas, memasukkannya ke saku, dan meletakkan gelas itu di sebelah keyboard-nya. Tidak terlalu dekat dengan laptop, supaya kalau tersenggol tidak tumpah ke sana. Tidak terlalu jauh, supaya dia langsung melihatnya.
Lalu aku berjalan kembali ke tangga darurat secepat yang bisa kulakukan tanpa berlari.
Aku menutup pintu sampai tersisa celah sekitar dua jari. Dari celah itu, aku menunggu.
Mbak Clara kembali empat menit kemudian, membawa gelas air hangatnya sendiri. Dia berhenti di depan mejanya. Dia menatap gelas teh itu. Dia menoleh ke kiri, ke kanan, ke ruang rapat yang gelap, ke pantry. Lalu dia menoleh ke arah pintu tangga darurat.
Aku menahan napas. Aku yakin dia bisa melihatku. Aku yakin celah dua jari itu cukup lebar untuk memperlihatkan seorang laki-laki dewasa yang bersembunyi di tangga darurat seperti maling.
Tapi dia hanya menatap cahaya yang keluar dari celah itu. Lama.
Lalu dia memegang gelas teh itu dengan dua tangan. Persis seperti cara Ibu memegang gelas teh jahe di dapur kayu kami. Dua tangan melingkar, ibu jari bersentuhan, seperti orang yang sedang menghangatkan tangannya, bukan sekadar memegang gelas.
Dia meminumnya.
Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas dari jarak sejauh itu. Tapi aku melihat bahunya. Bahu yang sepanjang hari tegak seperti tiang bendera, bahu yang setiap kali presentasi selalu lurus sempurna, malam itu turun sedikit. Melemas. Seperti orang yang akhirnya boleh berhenti menahan sesuatu.
Aku menutup pintu tangga darurat pelan-pelan, duduk di anak tangga ketiga, dan bersandar ke dinding yang catnya mengelupas.
Di atasku, lampu LED putih hangat yang kuganti setiap enam bulan menyala terang.
Itu sudah cukup.
Jumat pagi jam tujuh lewat dua belas, ponselku bergetar.
Clara:
Teh jahe semalam dari kamu?
Aku sedang di atas tangga lipat, mengganti lampu di koridor lantai 4. Aku hampir jatuh.
Aku turun pelan-pelan, duduk di anak tangga lipat yang paling bawah, dan menatap pesan itu.
Aku punya dua pilihan. Aku bisa bilang tidak, dan dia tidak akan pernah tahu. Atau aku bisa bilang iya, dan dia akan merasa harus berterima kasih, merasa harus membalas, merasa berutang.
Tapi Mbak Clara bertanya. Langsung. Dan aku tidak bisa berbohong kepada orang yang bertanya langsung. Itu satu hal yang Ibu ajarkan selain resep teh jahe.
Aku mulai mengetik.
Sembilan menit kemudian, aku mengirim:
Iya Mbak. Maaf tidak bilang. Saya tidak mau Mbak merasa harus bilang terima kasih. Itu resep ibu saya di Klaten. Jahenya dibakar dulu baru digeprek, pakai serai sama gula aren. Kata ibu saya jahe yang diiris itu rasanya cuma lewat, kalau digeprek rasanya tinggal. Saya bikinnya di ruang GA pakai kompor pinjaman. Pak Darto sudah tahu dan sudah ikut minum setengah gelas. Kalau rasanya kurang manis, bilang saja Mbak, nanti saya tambah gula arennya. Kalau terlalu pedas juga bilang. Kalau Mbak tidak suka jahe juga tidak apa-apa, nanti saya tidak bawa lagi.
Aku membaca ulang pesan itu setelah terkirim. Tiga paragraf. Untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya cuma iya.
Aku menutup wajah dengan tangan.
Balasannya datang empat puluh detik kemudian.
Kamu ngetik 9 menit buat bilang iya.
Lalu, sebelum aku sempat membalas, satu pesan lagi:
Rasanya pas. Jangan ditambah gula.
Aku menatap dua kalimat itu lama sekali, duduk di anak tangga lipat di koridor lantai 4, dengan lampu yang belum terpasang di tangan kiriku.
Rasanya pas.
Seorang office boy lantai 4 lewat dan bertanya kenapa aku senyum-senyum sendiri sambil memegang bohlam. Aku bilang bohlamnya bagus.
Evaluasi Mingguan #2 dijadwalkan hari Jumat siang, jam istirahat. Kali ini, menurut deskripsi undangan Google Calendar yang dikirim Mbak Clara, lokasi ditentukan oleh pihak yang dinilai.
Aku memilih warteg.
Bukan warteg sembarangan. Warteg Bu Sum di gang belakang gedung, tempat aku makan siang hampir setiap hari selama lima tahun. Tempat yang punya enam meja kayu panjang, kipas angin yang tergantung miring, dan sayur lodeh terbaik di Jakarta Selatan.
Aku tidak yakin Mbak Clara pernah masuk warteg. Aku tidak yakin dia mau. Tapi minggu lalu dia memilih tempat yang dia suka, dan aku duduk di tempat yang membuatku pucat. Aku pikir adil kalau minggu ini dia melihat tempat yang membuatku tenang.
Dia datang jam dua belas lewat lima, dengan blazer biru tua dan wajah yang terlihat siap menghadapi apa pun. Dia berdiri di ambang pintu warteg, menatap etalase kaca berisi tiga puluh macam lauk, menatap Bu Sum yang sedang mengipasi tempe, menatap enam meja kayu panjang yang separuhnya diisi tukang ojek dan satpam.
Semua orang di warteg itu berhenti mengunyah.
Bu Sum menurunkan kipasnya. “Mas Arman,” katanya pelan, tanpa melepas pandangan dari Mbak Clara. “Itu siapa?”
“Pacar saya, Bu.”
Aku mengatakannya sebelum sempat berpikir. Kata itu keluar begitu saja, seperti baterai yang dipasang dengan arah yang benar.
Seisi warteg terdiam lagi. Lalu Pak Udin, satpam gedung sebelah, menjatuhkan sendoknya.
Mbak Clara tidak bereaksi. Dia hanya melangkah masuk, berdiri di depan etalase, dan menunjuk dengan sangat serius.
“Bu. Sayur lodeh, tempe orek, telur balado. Nasinya setengah.”
Bu Sum menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatapnya lagi.
“Pakai sambel, Mbak?”
“Pakai.”
“Sambelnya pedes lho, Mbak.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Bu Sum menyendokkan semuanya ke piring dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari biasanya, seolah sedang menyajikan makanan untuk tamu kenegaraan. Ketika Mbak Clara duduk di meja kayu paling ujung, Bu Sum membungkuk ke arahku dan berbisik:
“Mas. Itu beneran?”
“Beneran, Bu.”
“Kok bisa?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku cuma bilang, “Saya juga nggak tahu, Bu,” dan Bu Sum menepuk lenganku dua kali, keras, lalu menambahkan satu potong ayam goreng ke piringku tanpa menghitungnya.
Mbak Clara makan sayur lodeh dengan sendok dan garpu, sangat rapi, seperti sedang makan di restoran hotel. Sambel Bu Sum membuat ujung hidungnya merah dan matanya berair, tapi dia tidak mengeluh. Dia cuma minum es teh manisnya sedikit-sedikit dan terus makan.
Aku menatapnya, dan aku merasa harus mengatakan sesuatu. Sesuatu yang bagus. Sesuatu yang romantis. Aku sudah mencarinya semalam di internet, kalimat romantis untuk pacar, dan membaca empat puluh contoh, dan semuanya terdengar seperti iklan sabun.
Jadi aku mencoba membuat sendiri.
“Mbak,” kataku.
Dia mengangkat kepala dari piringnya.
“Mbak itu… kayak genset.”
Hening.
Mbak Clara meletakkan sendoknya pelan-pelan. “Apa?”
“Genset, Mbak.” Aku sudah terlanjur. Tidak bisa mundur. Seperti Si Mbah di tengah tanjakan. “Kalau mati lampu, yang nyala duluan.”
Hening lagi. Lebih lama.
Di meja sebelah, Pak Udin menutup mulutnya dengan tangan dan bahunya bergetar.
Mbak Clara menatapku tanpa ekspresi selama tiga detik penuh. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dari saku blazer, membuka aplikasi catatan, dan mengetik sesuatu.
“Kamu nyatet apa, Mbak?”
“Indikator empat,” katanya datar. “Tidak bikin malu di depan umum. Satu.”
Pak Udin tersedak teh. Bu Sum di balik etalase pura-pura sibuk dengan wajannya, tapi aku bisa melihat dia menggigit bibir.
Aku menunduk ke piringku. Telingaku terbakar. Aku memakan ayam goreng pemberian Bu Sum tanpa merasakan apa-apa.
Tapi waktu aku mencuri pandang ke arahnya, aku melihat sesuatu. Mbak Clara sedang menunduk ke ponselnya, dan sudut bibirnya, sudut bibir sebelah kiri, terangkat sangat sedikit. Hampir tidak kelihatan. Lalu dia menegakkan wajahnya lagi dan kembali makan sayur lodeh dengan sangat rapi.
Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku menyimpannya.
Ketika dia mengulurkan tangan untuk mengambil tisu, matanya berhenti di tangan kiriku.
Di bagian dalam jari telunjukku ada luka bakar kecil, merah, sedikit melepuh. Dari panci penyok semalam. Aku memegang pegangannya yang ternyata ikut panas, dan aku tidak sadar sampai kulitnya sudah melepuh.
“Itu kenapa?”
“Kena solder, Mbak.”
“Kamu nyolder apa?”
“Kabel.”
“Kabel apa?”
Aku tidak menjawab. Aku bukan orang yang pandai berbohong, dan Mbak Clara bukan orang yang mudah dibohongi. Dia menatap luka itu, lalu menatap wajahku, dan aku tahu dia sudah tahu jawabannya.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia membuka tas kerjanya, mengaduk sebentar, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih. Kotak plester luka, yang motifnya kucing-kucing kecil berwarna merah muda.
Dia meletakkannya di atas meja kayu dan mendorongnya pelan ke arahku. Jari-jarinya tidak menyentuh jariku. Kotak itu meluncur di atas meja, melewati piring sayur lodeh dan gelas es teh, dan berhenti tepat di depan tanganku.
“Jangan dibiarin terbuka,” katanya, tanpa menatapku. “Nanti infeksi.”
Aku menatap kotak itu. Lalu aku mengambil satu plester bergambar kucing, membuka bungkusnya dengan hati-hati, dan menempelkannya di jari telunjukku. Kucing merah muda itu tersenyum dari jariku.
Mbak Clara melirik jariku. Lalu dia cepat-cepat menunduk ke piringnya, dan kali ini sudut bibirnya terangkat lebih jelas.
“Bagus,” katanya.
“Plesternya, Mbak?”
“Kucingnya.”
Kami berjalan kembali ke kantor jam satu kurang sepuluh. Dia berjalan di depan, aku satu langkah di belakangnya, seperti biasa. Di depan lobi, dia berhenti.
“Arman.”
“Iya, Mbak.”
“Teh jahe itu.” Dia menatap pintu kaca lobi, bukan aku. “Nggak usah sembunyi-sembunyi.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku cuma berdiri di trotoar dengan jari berplester kucing dan perut berisi sayur lodeh.
“Kalau mau ngasih,” lanjutnya, “kasih aja. Nggak usah kabur ke tangga darurat.”
Jadi dia melihat. Dia melihat celah dua jari itu.
Telingaku terbakar untuk kedua kalinya hari itu. Tapi aku memaksa diriku menjawab, karena dia bertanya langsung, dan aku tidak bisa berbohong kepada orang yang bertanya langsung.
“Kalau Mbak capek,” kataku, “tiap Kamis saya bawain teh jahe.”
Mbak Clara terdiam. Lalu dia mendorong pintu kaca lobi dan melangkah masuk tanpa menjawab.
Tapi sebelum pintu itu menutup sepenuhnya, aku mendengar suaranya. Pelan. Hampir tenggelam di bunyi AC lobi.
“Aku capeknya tiap Kamis.”
Malam itu, Dimas menelepon.
“Mas, praktikum Mekanika Tanah bayar lagi. Tiga ratus lima puluh. Buat sewa alat.”
“Kapan?”
“Senin, Mas. Tapi nggak apa-apa, aku pinjem temen dulu—”
“Jangan pinjem. Besok Mas transfer.”
“Mas, akhir bulan—”
“Besok Mas transfer, Dim.”
Setelah telepon ditutup, aku membuka aplikasi bank di ponselku dan menatap angkanya. Lalu aku membuka dompet kulit cokelatku yang sudutnya robek dan menghitung isinya. Dua kali.
Cukup. Kalau minggu depan aku makan di warteg Bu Sum tanpa ayam, dan kalau Si Mbah tidak minta ganti busi, cukup.
Aku memasukkan dompet kembali ke saku. Di jari telunjuk kiriku, plester kucing merah muda itu masih menempel. Sudah agak kotor di ujungnya.
Aku tidak melepasnya sampai hari Minggu.
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis reading
- 6 Pencitraan
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap