← Lulus Probation, Nggak?

Chapter Twenty Five

Surat yang Tidak Dikirim

POV: Arman


Gudang Cabang Cikarang PT Sagara Nusantara adalah bangunan seng seluas lapangan sepak bola, di ujung jalan berdebu di kawasan industri yang penuh truk kontainer. Isinya rak-rak besi setinggi empat meter berisi arsip, inventaris kantor bekas, dan stok bahan promosi dari kampanye-kampanye lama. Ada satu kantor kecil di sudutnya, dengan satu meja, dua kursi, satu kipas angin berdiri, dan satu AC jendela yang dibeli tahun 2009.

Di hari pertama, aku memperbaiki semuanya.

Kipas angin berdirinya goyang karena baut di dudukan kepalanya longgar. Aku mengencangkannya. Lampu di lorong rak C mati tiga, rak D mati dua. Aku menggantinya. Pintu gudang yang besar, pintu geser seng setinggi lima meter, macet di relnya karena roda bawahnya berkarat. Aku membongkar rodanya, membersihkan karatnya, memberinya gemuk. Kran wastafel di toilet bocor. Aku mengganti seal-nya.

Pak Bambang, yang seharusnya pindah ke sini dan sekarang tidak jadi pindah karena aku menggantikannya, meneleponku jam tiga sore.

“Man, kamu ngapain di sana? Pak Sarmin bilang kamu nggak berhenti kerja dari jam enam pagi.”

Pak Sarmin adalah satpam gudang. Umurnya enam puluh dua tahun. Dia tidur di pos jaga setiap siang dan bangun setiap kali truk datang.

“Benerin, Pak.”

“Benerin apa?”

“Semuanya, Pak.”

Pak Bambang terdiam. Lalu dia bilang, dengan suara orang tua yang sudah tiga puluh tahun di GA, “Man, gudang itu udah rusak dari tahun 2009. Nggak ada yang peduli. Nggak ada yang dateng. Kamu benerin juga nggak ada yang lihat.”

“Iya, Pak.”

“Terus ngapain?”

Aku tidak menjawab. Aku sedang berdiri di depan AC jendela di kantor kecil di sudut gudang, menatap remote-nya. AC tua itu diset delapan belas derajat. Delapan belas. Terlalu dingin untuk siapa pun.

Tanganku bergerak sendiri. Aku menekan tombol panah ke atas. Sembilan belas. Dua puluh. Dua puluh satu. Dua puluh dua. Dua puluh tiga.

Dua puluh empat.

Aku berhenti.

Aku menatap angka itu di layar remote yang buram. 24. Di gudang seng di Cikarang, di kantor kecil yang tidak pernah didatangi siapa pun kecuali Pak Sarmin dan sopir truk, aku menaikkan suhu AC ke dua puluh empat.

Untuk siapa?

Aku tertawa. Sendirian. Tawa pendek yang tidak lucu. Pak Sarmin, yang baru bangun dari tidur siangnya di pos jaga, menatapku dari pintu kantor dengan wajah heran.

“Mas kenapa?”

“Nggak apa-apa, Pak.”

Aku meletakkan remote itu di meja, dengan angka dua puluh empat masih di layarnya, dan keluar untuk memperbaiki pintu seng lagi. Pintu itu tidak rusak lagi. Aku sudah memperbaikinya tadi pagi. Tapi aku memeriksanya lagi, karena kalau tidak ada yang kuperbaiki, aku akan memikirkan hal lain.


Kos baruku di Cikarang adalah kamar kontrakan tiga kali tiga meter di gang belakang deretan warung makan, lima belas menit jalan kaki dari gudang. Tidak ada kipas angin helikopter tua. Tidak ada noda bocor berbentuk peta Kalimantan di langit-langit. Langit-langitnya bersih, putih, tanpa apa pun yang bisa ditatap.

Malam pertama, aku tidak bisa tidur.

Malam kedua, aku membuka ponsel untuk pertama kalinya sejak hari Kamis.

Aku mematikannya hari Kamis, setelah turun dari lantai 9. Aku menyalakannya lagi hari Sabtu sebentar, cukup untuk membalas pesan Ibu dan Dimas, lalu mematikannya lagi. Aku tidak membuka chat lain. Aku tidak mau melihat nama itu di daftar pesan, karena kalau aku melihatnya, aku akan membukanya, dan kalau aku membukanya, aku akan percaya.

Malam kedua di Cikarang, aku membukanya.

Ada dua pesan yang belum dibaca. Dua. Bukan sebelas.

Kamu salah denger. — Sabtu.

Aku belum selesai ngomong. — Minggu.

Lalu tidak ada apa-apa lagi. Senin, Selasa, Rabu. Tidak ada pesan.

Aku membaca dua pesan itu. Sekali. Lalu sekali lagi. Lalu sekali lagi.

Kamu salah denger.

Aku tidak salah dengar. Aku mendengar dengan jelas. Aku nerima dia cuma karena janji, oke? Omongan itu kontrak. Suaranya. Kata-katanya. Tidak ada yang salah dengar.

Aku belum selesai ngomong.

Pak Darto juga bilang begitu. Kadang yang penting itu kalimat sesudahnya, Man.

Aku menatap pesan itu sampai layar ponselnya meredup sendiri.

Kalimat sesudahnya. Apa kalimat sesudahnya? Tapi aku udah biasa sama dia? Tapi dia baik kok? Tapi kasihan juga kalau diputus?

Aku tidak tahu. Dan aku tidak mau tahu. Karena apa pun kalimat sesudahnya, kalimat itu akan datang dari perempuan yang tidak pernah ingkar omongan. Dan aku sudah memutuskan, di depan Pak Darto, di depan form yang kuisi sendiri, bahwa aku tidak mau jadi omongan yang harus dia tepati.

Aku tidak membalas.

Tapi aku juga tidak menghapus pesannya.


Hari keempat, Joni menelepon.

“Mas. Mas. Ini darurat.”

Aku langsung berdiri dari kursi kantor gudang. “Kenapa? Lift? Genset? Ada yang kejebak?”

“Bukan, Mas. AC.”

“AC lantai berapa?”

“Lantai 9, Mas. Zona 9-14.” Joni berhenti. “Udah dua puluh dua dari Selasa. Ada yang nurunin tiap malem. Saya nggak tahu siapa. Terus pagi-paginya saya mau naikin, kayak pesen Mas.”

“Terus?”

“Mbak Clara nggak ngebolehin, Mas.”

Aku terdiam.

“Dia bilang jangan, Jon. Biarin.” Suara Joni panik. “Mas, dia pakai cardigan tiap hari sekarang. Kemarin saya lihat dia ngetik sambil niup-niup tangan. Tapi pas saya mau naikin AC-nya, dia bilang jangan. Dua kali. Tiga kali. Mas, saya nggak ngerti. Saya harus gimana?”

Aku menatap AC jendela tua di kantor gudang. Dua puluh empat. Di Cikarang. Untuk tidak ada siapa-siapa.

Dan di lantai 9, di meja 9-14, dua puluh dua. Untuk seseorang yang gampang kedinginan dan tidak pernah bilang.

“Jon,” kataku. Suaraku keluar lebih serak dari yang kuinginkan. “Naikin aja. Diem-diem. Pagi-pagi. Sebelum dia dateng. Jam enam.”

“Mas, saya udah coba itu juga.”

“Terus?”

Joni diam sebentar. Lalu dia bilang sesuatu yang membuatku duduk kembali di kursi kantor gudang, pelan-pelan, seperti lututku tiba-tiba tidak bisa menahan berat badanku.

“Mbak Clara dateng jam enam juga, Mas. Duduk di mejanya. Nungguin. Dia bilang ke saya: Jon, aku nggak mau AC ini dinaikin sama orang yang bukan dia. Kalau dia mau AC aku dua puluh empat, suruh dia yang dateng naikin sendiri.”

Aku tidak bisa bicara.

“Mas? Mas masih di situ?”

“Iya, Jon.”

“Mas, saya nggak ngerti urusan kalian. Saya cuma ganti galon. Tapi Mbak Clara kedinginan, Mas. Tiap hari.” Joni menghela napas. “Saya tutup ya, Mas. Truk galon dateng.”

Telepon terputus.

Aku duduk di kantor gudang Cikarang dengan ponsel di tangan dan AC dua puluh empat derajat berembus pelan di atas kepalaku, dan aku merasa, untuk pertama kalinya sejak lima tahun lalu, bahwa aku tidak tahu cara memperbaiki sesuatu.


Malam itu, aku menulis surat.

Aku tidak pernah menulis surat. Waktu sekolah, aku cuma menulis laporan praktikum. Waktu kerja, aku cuma menulis buku log. Tanggal, lokasi, pekerjaan, bahan, keterangan. Format yang jelas. Terukur. Tidak ada ruang untuk hal-hal yang tidak bisa diukur.

Tapi malam itu, di kamar kontrakan tiga kali tiga meter di Cikarang, aku membuka buku log bersampul cokelat ke halaman paling belakang, halaman yang kosong, dan mulai menulis tanpa kolom.

Clara,

Saya nggak tahu cara mulai surat. Jadi saya mulai dari yang saya tahu.

Remote AC di pilar dekat meja kamu. Tombol panah ke atas ada di sebelah kanan, yang ke bawah di sebelah kiri. Kadang tombolnya macet kalau dipencet terlalu keras. Pencet pelan aja. Dua kali. Itu cukup buat naik dari 22 ke 24.

Saya tulis ini karena Joni bilang kamu nggak mau dia yang naikin. Kamu bisa naikin sendiri. Kamu nggak perlu saya.

Itu sebenarnya yang mau saya bilang dari awal. Kamu nggak perlu saya. Kamu nggak pernah perlu. Kamu Brand Manager. Kamu bikin slide paling bagus di gedung itu. Kamu bisa bikin klien setuju sama kuning madu. Kamu bisa nyeker di tanjakan Kuningan. Kamu bisa ngomong ke Papa kamu di pantry sampai Papa kamu nangis. Kamu nggak perlu tukang ganti lampu.

Saya yang perlu kamu.

Dua tahun saya perlu kamu. Saya perlu tahu bahwa ada satu orang di gedung itu yang nggak kedinginan karena saya. Saya perlu tahu kursi kamu nggak bunyi. Saya perlu tahu kalau kamu capek, kamu duduk di tempat yang terang. Itu bukan buat kamu. Itu buat saya. Supaya saya punya alasan bangun jam lima pagi selain kerja.

Jadi waktu kamu bilang cuma karena janji, saya nggak marah. Saya ngerti. Kamu nggak pernah minta saya. Saya yang dateng sendiri. Ke townhall. Ke lantai 9 jam enam pagi. Ke lobi hotel. Kamu cuma orang baik yang nggak bisa nolak di depan seratus orang.

Saya nggak mau kamu nggak bisa nolak lagi.

Kalau suatu hari kamu ketemu orang yang kamu pilih bukan karena janji, bukan karena townhall, bukan karena form, saya harap dia tahu tombol AC-nya macet kalau dipencet terlalu keras. Saya harap dia tahu kamu muter kursi ke kiri kalau lagi mikir. Saya harap dia tahu kamu kedinginan tapi nggak pernah bilang.

Saya harap dia bawain teh jahe tiap Kamis. Jahenya dibakar dulu baru digeprek. Pakai serai sama gula aren. Api kecil. Jangan terburu-buru.

Nanti pahit.

Arman

Aku membaca surat itu dari awal sampai akhir. Tiga halaman. Tulisan tangan miring ke kanan, dengan angka empat yang terbuka di atas.

Lalu aku menutup buku log itu.

Aku tidak merobek halamannya. Aku tidak memotretnya. Aku tidak mengirimnya.

Surat itu bukan untuk dikirim. Surat itu untuk ditulis. Seperti buku log. Seperti kolom keterangan yang diisi dengan hal-hal yang tidak akan pernah dibaca siapa-siapa.


Dimas menelepon hari Sabtu, jam sebelas malam. Bukan video. Telepon biasa. Dimas tidak pernah menelepon biasa. Dimas selalu video, selalu berteriak, selalu dengan latar belakang kamar kos yang berantakan.

Telepon biasa artinya Dimas serius.

“Mas.”

“Dim.”

“Pak Darto telepon aku.”

Aku memejamkan mata. Tentu saja. Pak Darto punya nomor Dimas sejak tiga tahun lalu, sejak aku sakit tifus dan Pak Darto yang menelepon keluargaku.

“Mas pindah ke Cikarang? Gara-gara Mbak Clara bilang cuma karena janji?”

“Bukan gara-gara itu, Dim.”

“Terus gara-gara apa?”

“Gara-gara Mas nggak mau dia keiket.”

Dimas diam sebentar. Lalu suaranya keluar. Bukan berteriak. Lebih pelan, lebih keras, lebih marah dari yang pernah kudengar sejak dia SMP.

“Mas. Mas nanya nggak ke dia, dia maunya apa?”

“Dia mau jelasin. Mas yang nggak ngasih.”

“Kenapa?”

Aku menatap langit-langit putih kamar kontrakan. Tidak ada peta Kalimantan. Tidak ada apa-apa.

“Karena kalau dia jawab iya,” kataku pelan, “Mas nggak tahu itu cinta atau janji.”

Hening di seberang.

“Dia orang yang nggak pernah ingkar omongan, Dim. Kalau Mas nanya kamu sayang Mas? terus dia jawab iya, Mas nggak akan pernah tahu dia jawab iya karena beneran, atau karena dia nggak tega bilang nggak ke orang yang udah dua tahun ganti lampu buat dia.” Aku menelan sesuatu di tenggorokan. “Mas nggak mau seumur hidup nanya-nanya itu tiap kali dia senyum ke Mas.”

Dimas diam lama. Sangat lama. Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa mendengar suara motor lewat di jalan depan kos-nya di Jogja.

Lalu dia bilang:

“Mas. Itu bukan buat Mas yang mutusin.”

Aku tidak menjawab.

“Itu buat dia yang mutusin. Itu perasaan dia. Bukan perasaan Mas. Mas nggak boleh mutusin perasaan orang lain cuma karena Mas takut jawabannya.” Suaranya bergetar. “Mas selalu gitu. Dari Bapak meninggal. Mas mutusin semuanya sendiri. Mas mutusin Mas yang kerja. Mas mutusin Mas yang bayar UKT. Mas mutusin Mas nggak boleh dibantu. Mas mutusin Mas nggak penting.”

“Dim—”

“Mas penting, Mas.” Dimas menangis. Aku bisa mendengarnya. Adikku, yang tidak pernah menangis sejak pemakaman Bapak, menangis di telepon jam sebelas malam. “Mas penting buat aku. Buat Ibu. Buat Pak Darto. Buat Mbak Clara juga, kalau Mas mau dengerin dia ngomong.”

Aku tidak bisa bicara.

“Pak Darto bilang,” lanjut Dimas, terisak, “Mbak Clara nangis di mejanya hari Kamis. Sendirian. Joni yang lihat dari lift. Mas tahu nggak, Mbak Clara itu orang yang nggak pernah nangis di depan orang? Mas yang cerita ke aku. Dia cuma nangis di tangga darurat. Sendirian.”

Aku tahu. Aku yang paling tahu.

“Dia nangis di mejanya, Mas. Di tempat yang ada kacanya. Di tempat yang semua orang bisa lihat.” Dimas menarik napas. “Itu bukan orang yang cuma karena janji, Mas.”


Telepon itu berakhir jam sebelas lewat empat puluh.

Aku duduk di kasur tipis di kamar kontrakan tiga kali tiga meter, dengan ponsel di tangan dan buku log bersampul cokelat di pangkuan, terbuka di halaman surat yang tidak dikirim.

Saya nggak mau kamu nggak bisa nolak lagi.

Aku membaca kalimat itu. Lalu aku membaca kalimat Dimas di kepalaku. Itu bukan buat Mas yang mutusin.

Aku tidak tahu mana yang benar.

Aku tahu cara memperbaiki AC, lampu, genset, kursi, keran, pintu seng, mikrofon dengan baterai terbalik. Aku tahu cara membaca diagram listrik dan mencari sumber derit di bawah sandaran kursi. Aku tahu bahwa listrik itu jujur, seperti kata Bapak. Kalau kamu salah sambung, dia langsung kasih tahu.

Manusia tidak begitu.

Atau mungkin manusia begitu. Mungkin dia sudah memberitahuku. Sebelas kali, lewat chat. Dua kali, di mejanya. Kamu salah denger. Aku belum selesai ngomong. Mungkin listriknya sudah bilang aku salah sambung, dan aku yang memutus kabelnya sebelum sempat mendengar.

Ponselku bergetar. Jam dua belas kurang sepuluh, Sabtu malam. Pak Darto.

Bukan pesan teks. Foto.

Foto yang buram, diambil dari jarak jauh, di bawah lampu basement yang aku kenal. Parkiran motor B1 kantor pusat. Di tengah foto, ada sebuah motor yang aku kenal lebih baik dari tanganku sendiri. Honda Supra X 2008, hitam, striping merah yang sudah pudar jadi merah muda. Spion kiri dililit lakban hitam baru buatan Pak Dul. Stiker Doa Ibu Menyertai Perjalanan di dekat lampu depan.

Si Mbah.

Dan di atas Si Mbah, dengan celana bahan hitam dan flat shoes cokelat dan helm putih dengan stiker bohlam jelek di bagian belakangnya, duduk seseorang dengan rambut hitam panjang yang diikat rendah. Duduk mengangkang. Kedua tangannya memegang setang. Kakinya menapak lantai dengan sangat kaku, seperti orang yang baru pertama kali berdiri di atas papan selancar.

Di bawah foto itu, pesan dari Pak Darto:

Uji coba tadi pagi. Pak Dul selesai turun mesin lebih cepet, Jumat sore. Murid baru saya. Belum bisa masukin gigi. Tapi udah nggak takut.

Lalu satu pesan lagi.

Besok pagi jam 7 latihan beneran. Saya bawa P3K. Kamu nggak usah dateng. Kamu kan di Cikarang. Kamu kan udah mutusin.

Aku menatap foto itu.

Clara. Di atas Si Mbah. Sendirian. Tanpa aku di depannya.

Dia tidak bisa naik motor. Dia tidak pernah naik motor. Dia memakai rok pensil dan sepatu hak tujuh senti dan duduk menyamping seperti ibu-ibu ke pasar. Dia memegang ujung jaketku di setiap tikungan karena takut jatuh.

Dan sekarang dia duduk di atas Si Mbah dengan dua tangan di setang.

Mas nggak boleh mutusin perasaan orang lain cuma karena Mas takut jawabannya.

Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di kasur tipis sampai jam lima pagi, menatap foto buram itu di layar ponsel, dengan buku log terbuka di halaman surat yang tidak dikirim.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, aku tidak tahu siapa yang sedang menjaga siapa.