Chapter Two
Form Penilaian
POV: Arman
Hal pertama yang kulakukan setelah ditembak balik dengan kata “iya” oleh perempuan yang kucintai selama dua tahun adalah mengembalikan mikrofon ke panitia dan bilang, “Baterainya nanti diganti yang baru ya, Mbak. Yang ini sudah lemah.”
Aku tahu. Aku juga tidak percaya aku bilang itu.
Panitia acaranya, anak magang dari divisi Corporate Communication, menatapku seperti melihat alien. Di depan, Mbak Clara masih berdiri. Lantai 9 masih ribut. Pak Hendro masih tertawa. Dan aku masih tidak tahu harus melakukan apa dengan kedua tanganku.
Syarat. Mbak Clara bilang ada syaratnya.
Aku tidak keberatan. Sungguh. Kalau syaratnya aku harus mengganti semua lampu di gedung ini sendirian, aku akan menggantinya. Kalau syaratnya aku harus jadi pacar yang tidak boleh bicara selama sebulan, aku bisa. Aku sudah dua tahun tidak bicara.
Mbak Clara menatapku dari baris ketiga. Wajahnya, wajah yang sudah kuhafal dari segala sudut kecuali dari dekat, terlihat seperti orang yang sedang menghitung sesuatu yang rumit. Lalu dia bilang, cukup keras untuk didengar semua orang:
“Syaratnya nanti aku kabari. Senin.”
Lalu dia duduk lagi. Tegak. Seperti tidak ada yang terjadi. Seperti barusan dia hanya menyetujui revisi anggaran.
Pak Hendro berdeham ke mikrofon. “Baik. Ehem. Ada pertanyaan lain?”
Tidak ada. Tentu saja tidak ada. Siapa yang mau bertanya soal kebijakan cuti setelah itu?
Townhall ditutup. Aku berjalan ke toilet pria lantai 9 dengan langkah yang kuusahakan normal, masuk ke bilik paling ujung, menutup pintu, duduk di atas toilet yang tutupnya tertutup, dan gemetar selama tujuh menit penuh.
“Kamu nembak Mbak Clara?”
Pak Darto berdiri di ambang pintu ruang GA di basement, masih memegang kunci inggris. Pak Darto sudah lima puluh empat tahun, sudah dua puluh enam tahun bekerja di gedung ini, dan sudah menjadi atasanku sejak hari pertama aku masuk. Dia orang paling tenang yang pernah kukenal. Aku pernah melihatnya memperbaiki pipa bocor di ruang server sementara air menyembur ke wajahnya, dan dia cuma bilang, “Oh.”
Sekarang wajahnya tidak tenang.
“Iya, Pak.”
“Di townhall?”
“Iya, Pak.”
“Pakai mikrofon?”
“Iya, Pak.”
“Mikrofon yang kamu benerin sendiri?”
“…Iya, Pak. Baterainya kebalik.”
Pak Darto meletakkan kunci inggris di meja kerja dengan sangat pelan, seperti orang yang meletakkan barang pecah belah. Lalu dia duduk di kursi plastik merahnya yang kakinya sudah dia sambung pakai lakban hitam, dan dia menatapku lama sekali.
“Diterima?”
“Diterima, Pak.”
“Mbak Clara yang lantai 9? Yang marketing? Yang kalau lewat, anak-anak Finance pada diem?”
“Iya, Pak.”
Pak Darto mengangguk pelan. Lalu dia mengambil termos kopinya, menuang segelas, dan meminumnya sampai habis tanpa jeda. Kopi panas. Aku melihat uapnya.
“Man,” katanya akhirnya. “Saya kerja di sini dua puluh enam tahun. Saya pernah lihat lift jatuh setengah lantai. Saya pernah lihat direktur kekunci di toilet sampai subuh. Saya pernah lihat kebakaran kecil di pantry gara-gara orang manasin nasi bungkus di microwave sama karetnya.”
“Iya, Pak.”
“Belum pernah saya lihat yang kayak gini.”
“Saya juga belum, Pak.”
Dia menatapku sekali lagi. Kali ini lebih lama, dan lebih lembut. Pak Darto punya cara menatap yang membuatmu merasa sedang diperiksa seperti mesin: dicari bagian mana yang longgar, mana yang aus, mana yang masih bisa jalan.
“Kamu serius?”
Aku tidak menjawab langsung. Aku menatap rak di belakangnya, rak besi berisi lampu cadangan, baterai, obeng, fitting, kabel, dan satu kardus kecil berlabel tulisan tanganku sendiri: Lt. 9 — cadangan. Di dalam kardus itu ada tiga bohlam LED putih hangat, ukuran yang sama dengan lampu di tangga darurat lantai 9. Aku selalu menyimpan cadangannya. Aku tidak pernah membiarkan lampu itu mati.
“Serius, Pak.”
Pak Darto mengangguk. Lalu, dengan wajah sangat serius, dia berkata, “Kalau gitu besok kamu cukur. Jenggotmu kayak sikat WC.”
Akhir pekan itu adalah akhir pekan terpanjang dalam hidupku.
Aku tinggal di kos dua lantai di daerah Tebet, kamar paling ujung yang jendelanya menghadap tembok rumah sebelah. Kamarnya kecil: kasur, lemari plastik, meja lipat, kipas angin yang bunyinya seperti helikopter tua. Aku tidak butuh yang lebih besar. Sebagian besar gajiku kukirim ke Klaten untuk Ibu dan untuk biaya kuliah Dimas di Jogja. Sisanya cukup untuk makan, bensin Si Mbah, dan bohlam-bohlam yang kadang kubeli sendiri karena pengadaan kantor lambat.
Sabtu pagi, Dimas menelepon video. Adikku itu dua puluh tahun, mahasiswa teknik sipil semester lima, dan punya mulut yang tidak pernah berhenti sejak dia belajar bicara.
“MAS.”
“Pagi, Dim.”
“MAS NEMBAK CEWEK DI DEPAN SATU KANTOR?”
Aku menjauhkan ponsel dari telinga. “Kamu tahu dari mana?”
“Ada videonya, Mas! Udah nyebar ke grup alumni SMA-ku! Ada yang kerja di gedung sebelah! Judulnya ‘Pahlawan Galon’!”
Aku menutup wajah dengan tangan. “Ya Allah.”
“Mas, sumpah, aku nonton empat kali. Pas Mas benerin mic-nya, aku sampai berdiri.” Dimas tertawa sampai layar ponselnya bergoyang. Lalu tawanya pelan-pelan berhenti, dan wajahnya yang kekanak-kanakan berubah sedikit lebih serius. “Itu dia ya, Mas? Yang Mas ceritain dulu? Yang di tangga?”
Aku diam.
Hanya dua orang di dunia ini yang tahu soal tangga darurat lantai 9. Aku, dan Dimas, karena dua tahun lalu aku pulang ke Klaten dengan wajah yang menurut Dimas “kayak orang habis lihat malaikat terus lupa minta nomor HP”.
“Iya,” kataku.
“Terus dia terima?”
“Dia terima.”
“Terus kok muka Mas kayak orang mau sidang skripsi?”
Aku menatap langit-langit kamar yang ada noda bekas bocor berbentuk seperti peta Kalimantan. “Karena aku nggak tahu dia nerima karena apa, Dim.”
Dimas tidak langsung menjawab. Di belakangnya, aku bisa mendengar suara motor lewat dan suara Ibu memanggil dari dapur.
“Mas,” kata Dimas akhirnya, lebih pelan. “Kalau dia nggak cinta sama Mas gimana?”
Pertanyaan itu sudah kutanyakan ke diriku sendiri ratusan kali selama dua tahun. Aku sudah punya jawabannya. Jawabannya sudah lama siap, seperti bohlam cadangan di kardus.
“Ya nggak apa-apa,” kataku. “Yang penting dia nggak kedinginan.”
Dimas menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu dia bilang, “Mas ini bego apa baik sih?”
“Dua-duanya kayaknya.”
“Ya Allah, Mas.”
Senin pagi, aku datang jam enam lewat lima belas menit. Seperti biasa.
Rutinitasku setiap pagi selalu sama, dan tidak ada yang pernah menyadarinya. Aku mengecek genset di basement, mengecek tekanan air di lantai atas, mengganti galon yang kosong di pantry setiap lantai, lalu naik ke lantai 9.
Di lantai 9, aku selalu melakukan tiga hal yang tidak ada di SOP.
Pertama, aku mengecek remote AC di pilar dekat meja nomor 9-14. Memastikan suhunya 24°, bukan 22° seperti bagian lantai yang lain. Kadang ada orang yang menurunkannya ke 20° karena kepanasan, dan aku menaikkannya kembali sebelum jam delapan, sebelum dia datang. Sticky note kuning di atas kotak remote itu kutempel dua tahun lalu. Tulisannya sudah pudar, tapi aku tidak menggantinya. Aku takut kalau kuganti, orang akan bertanya.
Kedua, aku memeriksa kursi di meja 9-14. Kursi itu dulu berderit setiap kali diputar ke kiri. Dia selalu memutarnya ke kiri kalau sedang berpikir. Minggu lalu aku akhirnya menemukan sumber deritnya: baut di bawah sandaran yang sudah aus. Hari Senin lalu aku menggantinya. Sekarang tidak berderit lagi.
Ketiga, aku mengecek lampu di tangga darurat.
Pagi itu, setelah tiga hal itu selesai, aku turun lagi ke basement, duduk di depan meja kerja yang penuh bekas cat dan oli, dan menunggu.
Aku tidak tahu persis apa yang kutunggu. Mbak Clara bilang syaratnya akan dikabari hari Senin. Dia tidak bilang jam berapa, lewat apa, atau di mana. Aku bahkan tidak yakin dia punya nomorku.
Jam sembilan lewat dua belas menit, aku mendengar bunyi sepatu hak di tangga besi menuju basement.
Tak. Tak. Tak.
Tidak ada perempuan kantoran yang turun ke basement. Basement adalah dunia lain: dunia genset, pompa air, tumpukan kursi rusak, dan bau oli. Satu-satunya perempuan yang pernah turun ke sini adalah Bu Ningsih dari bagian kebersihan, dan Bu Ningsih pakai sandal jepit.
Tak. Tak. Tak.
Pak Darto, yang sedang membongkar dispenser, mengangkat kepala.
Mbak Clara muncul di ambang pintu ruang GA.
Dia memakai blazer krem dan rok panjang hitam. Rambutnya diikat rendah seperti biasa, beberapa helai lolos di dekat telinga. Dia memegang map plastik bening berisi selembar kertas. Dan di bawah lampu neon basement yang berkedip-kedip (aku harus mengganti starter-nya hari ini), dia tetap terlihat seperti seseorang yang salah masuk dunia.
Perempuan ini cantik dengan cara yang membuat orang takut menyapa. Itu yang selalu kupikirkan. Cantik yang tegak dan tajam, seperti garis lurus yang ditarik dengan penggaris. Tapi aku pernah melihatnya menangis di tangga darurat dengan maskara yang luntur, dan sejak itu aku tahu: di balik garis lurus itu ada seseorang yang capek menjadi lurus terus.
“Selamat pagi,” katanya.
Aku berdiri terlalu cepat sampai lututku menghantam laci meja. “Pagi! Eh. Siang. Pagi, Mbak. Selamat. Pagi.”
Di belakangku, Pak Darto menutup wajah dengan tangan.
Mbak Clara menatapku sebentar, lalu menatap Pak Darto. “Pak, boleh saya pinjam Mas Arman lima menit?”
“Boleh, Mbak. Sepuluh menit juga boleh. Seharian juga boleh. Ambil aja.” Pak Darto mengangkat dispensernya dan berjalan keluar ruangan dengan kecepatan yang tidak sesuai umurnya. Di ambang pintu dia berhenti, menoleh ke arahku, dan menggerakkan bibirnya tanpa suara: Jenggot.
Aku sudah cukur. Tadi subuh. Aku sempat menyayat dagu dua kali.
Pintu tertutup. Tinggal kami berdua, dan suara genset yang mendengung dari balik dinding.
Mbak Clara mengeluarkan kertas dari map plastik itu dan meletakkannya di atas meja kerjaku, di antara obeng dan gulungan selotip. Dia tidak duduk. Aku juga tidak.
Aku melihat kertas itu. Ada kop di bagian atas, rapi, dengan font yang sama dengan semua deck presentasinya.
FORM PENILAIAN MASA PERCOBAAN (PROBATION)
Periode: 90 (Sembilan Puluh) Hari
Nama: Arman Hutomo
Posisi: Pacar
Di bawahnya ada lima indikator, masing-masing berbobot 20%, dengan kolom skor 1 sampai 5 yang masih kosong:
- Ketepatan waktu
- Responsivitas komunikasi
- Inisiatif
- Tidak bikin malu di depan umum
- Kemampuan membuat pihak penilai tertawa
Di bagian bawah ada kolom tanda tangan: Pihak Penilai dan Pihak yang Dinilai. Juga satu baris catatan kecil dengan huruf miring:
Evaluasi berkala setiap 30 hari. Keputusan akhir pada hari ke-90.
Aku membacanya dua kali. Lalu tiga kali.
“Aku nerima kamu,” kata Mbak Clara, dengan suara yang dia pakai untuk presentasi ke klien, datar dan jelas, “karena aku sudah bilang begitu di depan orang. Aku nggak ingkar janji. Tapi aku juga nggak kenal kamu. Jadi kita pakai sistem yang adil buat dua pihak. Sembilan puluh hari. Kalau di hari ke-90 nilainya nggak cukup, kita selesai baik-baik. Nggak ada yang malu. Nggak ada yang salah.”
Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan, tanpa menatap mataku:
“Masih masa percobaan. Jadi jangan berharap macam-macam.”
Aku menatap form itu. Aku menatap indikator nomor lima. Kemampuan membuat pihak penilai tertawa. Aku membayangkan Mbak Clara menuliskannya larut malam di depan laptop, dan aku yakin dia menambahkannya karena dia pikir nilaiku pasti nol.
Lalu aku menatap dia.
Sembilan puluh hari.
Dua tahun aku mencintainya dari kejauhan, dari balik tangga lipat, dari balik sticky note, dari balik baut kursi yang kuganti diam-diam. Dua tahun aku sudah siap tidak mendapat apa pun. Sekarang dia berdiri di ruang kerjaku yang bau oli, memberiku sembilan puluh hari.
Sembilan puluh hari itu banyak sekali.
“Pulpennya ada, Mbak?”
Mbak Clara berkedip. “Apa?”
“Pulpen. Buat tanda tangan.” Aku menepuk saku kemejaku dan menemukan obeng, meteran, dan spidol permanen. “Saya cuma punya spidol. Nggak apa-apa pakai spidol?”
“Kamu… langsung tanda tangan?”
“Iya, Mbak.”
“Kamu nggak mau baca dulu? Nggak mau negosiasi? Nggak mau protes soal indikatornya?”
Aku menatap daftar itu lagi. “Indikatornya bagus, Mbak. Jelas. Terukur.” Aku membuka tutup spidol. “Cuma nomor dua mungkin saya agak susah. Saya ngetik pakai satu jari.”
Mbak Clara menatapku seperti sedang menatap data yang tidak masuk akal. Lalu dia mengeluarkan pulpen dari saku blazernya, pulpen hitam dengan logo PT Sagara, dan menyodorkannya. “Pakai ini. Spidol nembus kertas.”
Aku menandatangani di kolom Pihak yang Dinilai. Tanda tanganku jelek, miring, dan sedikit gemetar. Lalu aku mengembalikan pulpennya.
“Mbak,” kataku. “Boleh saya minta fotokopinya?”
“Buat apa?”
“Buat arsip.”
Mbak Clara terdiam beberapa detik. Lalu, untuk pertama kalinya pagi itu, sesuatu bergerak di wajahnya. Hampir tidak kelihatan. Ujung bibirnya naik sepersekian milimeter, lalu turun lagi dengan cepat, seperti orang yang hampir menginjak lantai basah lalu sadar dan menarik kakinya kembali.
“Nanti aku fotokopi,” katanya.
Dia memasukkan form itu kembali ke map plastik, berbalik, dan berjalan ke pintu. Tak. Tak. Tak. Di ambang pintu, tanpa menoleh, dia berkata:
“Nomorku nanti aku kirim lewat Tiara. Jadwal evaluasi pertama Jumat malam. Jangan telat.”
“Saya nggak pernah telat, Mbak.”
Dia berhenti sebentar. “Kita lihat.”
Lalu dia pergi. Bunyi hak sepatunya menjauh di tangga besi, makin pelan, sampai hilang ditelan dengung genset.
Aku duduk kembali di kursiku. Aku menatap meja kerjaku, tempat form itu tadi diletakkan. Ada bekas lingkaran kopi, ada goresan obeng, dan ada sebutir bedak tipis yang jatuh dari ujung lengan blazernya.
Pak Darto masuk lagi tanpa dispenser.
“Gimana?”
“Saya dikasih probation, Pak. Sembilan puluh hari.”
Pak Darto mengangguk pelan, seperti mendengar laporan kerusakan yang sudah dia duga. “Kayak karyawan baru.”
“Iya, Pak.”
“Kamu seneng?”
Aku menatap tangan kananku yang tadi memegang pulpennya. Pulpen biasa. Plastik murah. Logo kantor. Tapi tanganku masih terasa hangat.
“Seneng banget, Pak.”
Pak Darto menghela napas panjang, dalam, dari dasar hidupnya yang sudah lima puluh empat tahun.
“Ya Allah,” katanya ke langit-langit basement. “Anak ini dikasih probation malah seneng.”
Jam empat sore, ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal.
+62 812-xxxx-xxxx:
Ini Clara. Evaluasi Jumat 19.00. Tempat menyusul. Jangan telat.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mulai mengetik dengan satu jari.
Aku menulis Baik Mbak, lalu kuhapus karena terlalu kaku. Aku menulis Siap Mbak, lalu kuhapus karena terdengar seperti satpam. Aku menulis Terima kasih sudah kasih saya kesempatan, lalu kuhapus karena terlalu sedih. Aku menulis Saya akan datang 40 menit lebih awal, lalu kuhapus karena terlalu jujur.
Sebelas menit kemudian, aku mengirim:
Baik Mbak. Saya catat. Saya tidak akan telat. Kalau hujan saya bawa jas hujan. Kalau Si Mbah mogok saya naik ojek. Kalau ojeknya mogok saya lari. Selamat sore Mbak. Jangan lupa makan.
Aku menatap pesan itu setelah terkirim. Lalu aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Si Mbah. Aku menyebut Si Mbah ke dia. Dia bahkan tidak tahu Si Mbah itu siapa.
Ponselku bergetar lagi. Satu menit kemudian. Balasannya pendek.
Si Mbah siapa?
Aku menatap pertanyaan itu, dan untuk pertama kalinya sejak Jumat sore, aku tertawa sendirian di basement yang bau oli. Pak Darto menoleh dari balik tumpukan kursi rusak dan menatapku seperti melihat orang yang perlu dibawa ke klinik.
Sembilan puluh hari.
Hari pertama: dia bertanya soal motorku.
Itu sudah lebih dari cukup.
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian reading
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis
- 6 Pencitraan
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap