Chapter Six
Pencitraan
POV: Clara
Ulang tahun PT Sagara Nusantara yang kedua puluh dirayakan di ballroom hotel di Sudirman, dengan tema yang dipilih langsung oleh Pak Hendro: “Sagara Bersatu: Satu Visi, Satu Keluarga.”
Pak Hendro suka tema yang mengandung kata satu. Tahun lalu temanya Satu Langkah Lebih Maju. Tahun sebelumnya Satu Hati Satu Target. Tiara pernah menghitung bahwa dalam lima tahun terakhir, kata satu muncul di tema ulang tahun perusahaan sebanyak sembilan kali.
“Tahun depan pasti Satu-Satunya,” kata Tiara sambil merapikan lipstiknya di toilet ballroom. “Atau Satu Lagi. Atau Satuan.”
Aku tidak menjawab. Aku sedang menatap pantulan diriku di cermin.
Aku memakai gaun hitam selutut dengan potongan lurus dan lengan tiga perempat. Rambutku tidak kuikat rendah malam ini; Tiara memaksaku menggerainya, lalu menyisirnya sendiri selama sepuluh menit di mejaku sore tadi sambil bilang, “Sekali-sekali, Ra. Biar kulkasnya kelihatan ada lampunya.” Di telingaku ada anting mutiara kecil peninggalan Oma. Aku hampir tidak memakai riasan kecuali lipstik warna nude dan sedikit maskara.
“Kamu cantik,” kata Tiara, tiba-tiba serius, menatapku lewat cermin.
“Biasa aja.”
“Kamu cantik, Ra. Cantik yang bikin orang lupa napas terus takut negur.” Tiara memasukkan lipstiknya ke tas. “Malam ini kayaknya bakal ada yang lupa napas.”
“Siapa?”
Tiara cuma tersenyum dan keluar duluan.
Arman datang terlambat.
Itu pertama kalinya dia terlambat. Indikator satu yang selama tiga minggu tidak pernah kurang dari lima. Acara dimulai jam tujuh. Jam tujuh lewat dua puluh, kursi di sebelahku di meja nomor delapan masih kosong, dan aku sudah tiga kali melirik ke pintu masuk ballroom tanpa sengaja.
Tanpa sengaja. Aku cuma memeriksa apakah AC ballroom ini terlalu dingin. Itu saja.
Jam tujuh lewat dua puluh tiga, dia masuk.
Dia memakai kemeja batik yang sama dengan kencan pertama kami, batik cokelat tua dengan lengan yang sedikit kepanjangan, tapi malam ini dia memakai celana bahan hitam yang jelas baru, dan sepatu pantofel yang jelas lebih baru lagi, karena dia berjalan dengan gaya orang yang belum terbiasa dengan sol keras. Rambutnya disisir rapi ke samping, terlalu rapi, seperti foto ijazah.
Dia berjalan cepat di antara meja-meja bundar, melewati pelayan yang membawa nampan, menunduk sopan kepada setiap orang yang menoleh. Lalu dia sampai di meja delapan, berhenti di sebelah kursiku, dan menatapku.
Dan dia berhenti bernapas.
Aku tahu, karena aku melihatnya. Dadanya yang tadi naik turun karena berjalan cepat tiba-tiba diam. Matanya melebar sedikit. Mulutnya terbuka setengah, seperti mau bilang sesuatu tapi kalimatnya tertinggal di parkiran.
Tiara, di seberang meja, menendang kakiku di bawah taplak. Keras.
“Kamu telat,” kataku. Suaraku keluar lebih datar dari yang kumaksud.
Arman berkedip. Napasnya kembali. “Maaf, Mbak. Lift barang di basement macet. Ada dua orang kejebak. Saya bantu Pak Darto buka manual.” Dia menatap rambutku yang tergerai, lalu cepat-cepat menatap taplak meja. “Maaf.”
“Orangnya selamat?”
“Selamat, Mbak. Cuma kaget. Satu ibu-ibu catering, satu anak magang. Ibu-ibunya nangis, anak magangnya malah nge-live Instagram.”
Tiara tertawa. Arman tersenyum kecil, lalu duduk di kursi kosong di sebelahku dengan sangat hati-hati, seperti orang yang takut kursinya pecah.
Di catatan ponselku, di bawah Evaluasi Mingguan #3, aku mengetik: Ketepatan waktu: telat 23 menit.
Lalu aku menambahkan: Alasan: menyelamatkan 2 orang dari lift.
Lalu aku menatap kalimat itu cukup lama, dan menulis angka 5.
Masalahnya dimulai di sesi doorprize.
Reza Hadinata, sebagai Sales Manager dengan pencapaian tertinggi kuartal ini, mendapat kehormatan menjadi pembawa acara bersama MC profesional. Dia berdiri di panggung dengan jas abu-abu mengilap, mikrofon di tangan, dan senyum yang dia latih di depan cermin.
Aku sudah tahu sesuatu akan terjadi ketika matanya mencari-cari ke arah meja delapan.
“Oke, doorprize berikutnya: voucher belanja dua juta rupiah!” Reza mengangkat amplop. “Tapi sebelum diundi, saya mau minta tolong sedikit. Ada yang lihat Mas Arman dari GA? Mas Arman?”
Semua kepala menoleh ke arah kami.
Arman menegakkan punggung di kursinya. “Saya, Mas.”
“Nah! Mas Arman!” Reza tersenyum lebar. Terlalu lebar. “Mas, kebetulan banget. Galon di meja prasmanan sebelah sana habis tuh. Bisa tolong digantiin? Kan keahlian Mas.”
Beberapa orang tertawa. Tidak banyak. Tawa yang canggung, tawa orang yang tidak yakin apakah ini lelucon atau penghinaan. Tapi cukup keras untuk terdengar ke seluruh ballroom.
Wajahku memanas.
Aku tahu persis apa yang Reza lakukan. Aku sudah dua tahun berurusan dengan sales. Ini teknik paling murah dalam buku: kecilkan lawanmu di depan banyak orang, dengan senyuman, supaya kalau dia marah, dia yang terlihat tidak bisa diajak bercanda.
Arman diam. Aku melihat tangannya di atas pahanya. Jari-jarinya bergerak sedikit, mengepal, membuka.
Lalu, tanpa berpikir, aku meraih tangan itu.
Aku tidak merencanakannya. Itu yang kukatakan pada diriku sendiri setelahnya, berulang-ulang, selama tiga hari. Aku tidak merencanakannya. Itu reaksi otomatis. Itu strategi. Itu pencitraan. Kalau orang melihat aku memegang tangan pacarku di depan Reza, maka posisi Reza sebagai orang yang meremehkan menjadi lemah. Itu personal branding. Itu logika marketing paling dasar.
Aku meraih tangannya di atas meja, di depan seluruh meja delapan dan sebagian meja tujuh, dan menggenggamnya.
Tangannya gemetar.
Itu yang pertama kali kurasakan. Bukan hangatnya, bukan kasarnya. Gemetarnya. Tangan laki-laki yang bisa membuka baterai mikrofon dalam empat detik di depan seratus orang, yang bisa mendorong motor naik tanjakan Kuningan, yang bisa memanjat tangga lipat di atas genset yang berdengung, tangan itu gemetar di dalam tanganku seperti tangan anak kecil yang baru pertama kali disuruh maju ke depan kelas.
Dan kemudian aku merasakan hal yang lain: telapak tangannya kasar. Ada kapalan di pangkal jari-jarinya. Ada bekas luka bakar kecil di jari telunjuk kirinya, yang sekarang sudah tidak berplester kucing lagi, tapi masih merah muda.
Arman menoleh ke arahku. Matanya bertanya.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap panggung, tepat ke arah Reza, dengan wajah datar yang biasa kupakai untuk klien yang meminta revisi kesebelas.
Arman berdiri.
Dia tidak melepaskan tanganku. Dia berdiri dengan tanganku masih di tangannya, sehingga aku terpaksa ikut sedikit condong ke depan. Lalu dia bicara, ke arah panggung, tanpa mikrofon. Suaranya tidak keras, tapi ballroom itu tiba-tiba sangat sunyi.
“Boleh, Mas. Nanti saya gantiin.”
Reza tersenyum puas. “Mantap—”
“Tapi galon di lantai Mas juga saya yang ganti, Mas,” lanjut Arman. Masih pelan. Masih grogi. Suaranya sedikit bergetar, dan dia salah tarik napas di tengah kalimat. “Tiap Selasa sama Jumat. Galon lantai enam paling cepat habis. Soalnya Mas minumnya banyak. Satu galon sendiri kayaknya bisa habis tiga hari.”
Hening.
“Itu bagus, Mas,” tambah Arman, dengan wajah yang benar-benar tulus. “Sehat. Ginjalnya awet.”
Ada satu detik di mana tidak ada yang bergerak.
Lalu Pak Hendro, di meja nomor satu, tertawa terbahak-bahak sampai batiknya bergoyang. Dan seluruh ballroom ikut tertawa. Bukan tawa canggung lagi. Tawa yang lepas, tawa yang jelas-jelas tidak sedang menertawakan Arman.
Reza berdiri di panggung dengan mikrofon di tangan dan wajah yang perlahan berubah warna. Dia mencoba tersenyum, mencoba bilang sesuatu, tapi MC profesional di sebelahnya sudah mengambil alih dengan cepat: “Wah, terima kasih Mas Arman atas perhatiannya pada kesehatan ginjal kita semua! Oke, doorprize kita undi!”
Arman duduk kembali. Pelan. Tangannya masih menggenggam tanganku, dan sekarang, aku sadar, tangannya sudah tidak gemetar lagi.
Tanganku yang gemetar.
Aku menarik tanganku lima detik kemudian. Mungkin sepuluh. Mungkin lebih lama dari yang perlu.
Arman tidak berkata apa-apa. Dia cuma meletakkan tangannya di atas paha, telapak menghadap ke bawah, dan menatapnya seperti menatap benda asing.
Tiara, di seberang meja, menatapku dengan mata yang sangat lebar dan mulut yang sangat rapat. Di layar ponselnya, yang dia sodorkan sedikit ke arahku di bawah meja, ada notifikasi dari grup Lambe Lantai 9:
PEGANGAN TANGAN DI MEJA 8. ULANG. PEGANGAN TANGAN DI MEJA 8.
Disusul tujuh belas stiker api.
Aku mengalihkan pandangan ke panggung dan pura-pura sangat tertarik dengan pengundian voucher belanja.
Bencana yang sebenarnya terjadi jam sembilan, di sesi karaoke.
Pak Hendro, yang sudah minum tiga gelas punch buah (non-alkohol, tapi dengan semangat seperti alkohol), naik ke panggung dan mengambil alih mikrofon.
“Saudara-saudara keluarga besar Sagara!” serunya. “Malam ini kita punya pasangan baru! Merger terbesar kuartal ini! Mas Arman dan Mbak Clara!”
Seisi ballroom bersorak. Aku merasakan darah mengalir dari wajahku ke kakiku dan tidak kembali.
“Ayo! Satu lagu! Duet! Sagara Bersatu, Satu Visi, Satu Lagu!”
Tiara bersorak paling keras. Aku menendang kakinya di bawah meja. Dia bersorak lebih keras lagi.
Aku menatap Arman. Wajahnya pucat. Pucat abu-abu, pucat rooftop, pucat orang yang baru diminta naik ke lantai dua puluh tiga tanpa pagar.
“Kamu bisa nyanyi?” bisikku.
“Nggak, Mbak.”
“Sama sekali?”
“Waktu SD saya disuruh guru musik lip-sync aja, Mbak.”
Pak Hendro sudah memanggil nama kami tiga kali. Seratus lima puluh orang bertepuk tangan dengan ritme. Tidak ada jalan keluar. Ini townhall jilid dua, dan kali ini aku tidak punya pantry untuk disalahkan.
Kami naik ke panggung.
Lagunya dipilih oleh operator karaoke yang jelas-jelas punya dendam pribadi: lagu cinta tahun sembilan puluhan dengan nada tinggi di bagian reff. Aku bisa bernyanyi. Tidak bagus, tapi cukup. Tiga tahun paduan suara di SMA.
Arman tidak bisa.
Dia memegang mikrofon dengan dua tangan, seperti memegang gelas teh jahe. Ketika bagiannya tiba, dia menarik napas, membuka mulut, dan mengeluarkan suara yang membuatku harus menggigit bagian dalam pipiku sangat keras. Suaranya fals. Bukan fals sedikit. Fals yang berani, fals yang konsisten, fals yang tidak pernah menyentuh nada yang benar sekali pun tapi selalu lewat di dekatnya, seperti Si Mbah yang mencoba naik tanjakan.
Ballroom terdiam satu detik. Lalu meledak.
Bukan tawa mengejek. Orang-orang bertepuk tangan. Orang-orang bersiul. Pak Darto, yang entah bagaimana ada di meja paling belakang padahal dia jelas bukan undangan, berdiri dan mengangkat dua tangan ke udara seperti suporter sepak bola.
Arman terus bernyanyi. Wajahnya merah sampai ke leher, tapi dia tidak berhenti. Dia menyelesaikan bagiannya, setiap kata, setiap nada yang salah, dengan keseriusan seorang teknisi yang menyelesaikan pekerjaannya meskipun alatnya tidak memadai.
Dan di bagian reff terakhir, ketika aku harus bernyanyi bersamanya, dia menoleh ke arahku. Di tengah lampu panggung yang terlalu terang dan suara fals yang terlalu keras, dia menatapku seperti orang yang menyanyikan lagu itu sungguhan. Seperti setiap kata cinta tahun sembilan puluhan yang norak itu adalah sesuatu yang benar-benar ingin dia katakan, dan karaoke ini cuma kebetulan memberinya kesempatan.
Suaraku hilang di tengah reff.
Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma tiba-tiba lupa liriknya, padahal liriknya ada di layar besar di depanku.
Lagu selesai. Kami turun dari panggung diiringi tepuk tangan paling meriah malam itu. Pak Hendro memeluk Arman dan bilang, “Suaramu jelek sekali, Man! Tapi niatmu bagus!”
Di catatan ponselku, malam itu, aku menulis:
Tidak bikin malu di depan umum: nyanyi fals di depan 150 orang. Gagal total.
Aku menatap kalimat itu. Seharusnya aku memberinya angka satu. Itu yang adil. Itu yang sesuai indikator.
Aku tidak menulis angka apa pun.
Acara selesai jam sepuluh. Di lobi hotel, orang-orang menunggu mobil jemputan dan taksi. Aku berdiri di dekat pintu putar, memeluk lenganku sendiri karena AC lobi terlalu dingin dan aku tidak membawa blazer.
Arman muncul di sebelahku. Dia tidak membawa jaket parasut malam ini. Aku melihatnya menyadari itu, melihatnya meraba sisi tubuhnya seolah jaket itu akan muncul kalau dicari cukup keras, lalu menatapku dengan wajah orang yang sedang dimarahi oleh dirinya sendiri.
“Maaf, Mbak. Jaketnya ketinggalan di Si Mbah.”
“Nggak apa-apa.”
Kami berdiri diam. Di luar, hujan gerimis mulai turun. Lampu-lampu Sudirman memantul di aspal basah.
“Tadi,” kata Arman pelan, menatap hujan. “Yang di meja.”
Aku tahu yang dia maksud. Aku sudah menyiapkan jawabannya sejak tiga jam lalu.
“Itu pencitraan,” kataku. “Reza nyerang kamu di depan umum. Kalau aku diem aja, kesannya aku malu sama kamu. Itu jelek buat image-ku. Jadi aku pegang tanganmu biar posisinya seimbang. Itu strategi.”
“Oh,” kata Arman. “Iya, Mbak.”
Dia menerimanya. Begitu saja. Tanpa membantah, tanpa kecewa, tanpa apa-apa. Dia menerima penjelasanku seperti menerima form KPI: jelas, terukur.
Dan entah kenapa, itu membuatku lebih kesal daripada kalau dia membantah.
“Kamu nggak nanya kenapa?”
“Mbak sudah jelasin.”
“Kamu percaya?”
Arman berpikir sebentar. Lalu dia menoleh ke arahku untuk pertama kalinya sejak kami keluar dari ballroom, dan dia bilang, dengan suara yang sangat pelan dan sangat jujur:
“Saya percaya, Mbak. Cuma…”
“Cuma apa?”
“Tadi tangan Mbak dingin.” Dia menatap tanganku yang masih memeluk lengan sendiri. “Terus pas saya ngomong ke Mas Reza, tangan Mbak yang gemetar. Bukan tangan saya.”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Taksiku datang. Lampu hijaunya berkedip di bawah gerimis.
“Itu karena AC,” kataku.
“Iya, Mbak.”
“AC ballroom ini terlalu dingin.”
“Iya, Mbak. Dua puluh. Saya cek tadi.”
Aku masuk ke taksi tanpa mengucapkan selamat malam. Aku menutup pintunya sedikit terlalu keras. Lalu, ketika taksi mulai bergerak dan aku melihat ke kaca spion, aku melihatnya masih berdiri di depan pintu putar hotel, di bawah kanopi, dalam kemeja batik yang lengannya kepanjangan, menatap taksiku pergi.
Dia mengangkat tangan kanannya. Tangan yang tadi kupegang. Dia melambaikannya pelan, sekali, lalu menurunkannya dan menatapnya lagi, seperti menatap benda asing.
Aku memalingkan wajah ke jendela.
Di telapak tanganku sendiri, masih ada sisa rasa kapalan di pangkal jari-jarinya. Kasar. Hangat. Aku mengepalkan tanganku di pangkuan, seperti orang yang mencoba menyimpan sesuatu supaya tidak jatuh.
Di grup Lambe Lantai 9, notifikasi terus masuk sepanjang perjalanan pulang. Aku tidak membukanya.
Tapi aku juga tidak membisukannya.
- 1 Tanpa Syarat
- 2 Form Penilaian
- 3 Kencan Pertama Sesuai SOP
- 4 Si Mbah
- 5 Teh Jahe Hari Kamis
- 6 Pencitraan reading
- 7 Evaluasi Bulan Pertama
- 8 Hal-Hal Kecil yang Bukan Kebetulan
- 9 Yang Tidak Pernah Disebut
- 10 Makan Malam di Rumah Wijaya
- 11 Tulisan Tangan
- 12 Kalau Ketahuan
- 13 Tangga Darurat
- 14 Penyangkalan
- 15 Halte
- 16 Bekal Sinta
- 17 Cemburu Itu Bukan Indikator
- 18 Si Mbah Mogok
- 19 Empat Jam di Lobi
- 20 Laki-Laki yang Selalu Terlambat
- 21 Itu Kamu
- 22 “Cuma Karena Janji”
- 23 Lulus
- 24 Kamis Tanpa Teh Jahe
- 25 Surat yang Tidak Dikirim
- 26 Clara Naik Si Mbah
- 27 Lampu di Tangga Darurat
- 28 Pacar Beneran, Hari Pertama
- 29 Giliran Aku yang Bawa Teh Jahe
- 30 Klaten
- 31 Pertanyaan Saya Buat Mas Arman
- 32 Epilog — Pengangkatan Karyawan Tetap