Chapter Nine
Hari 1: SOP Kencan
POV: Rose
Hari pertama dari sembilan puluh hari jatuh pada hari Sabtu.
Aku bangun jam enam pagi, padahal kami janjian jam sembilan, dan menghabiskan empat puluh menit berdiri di depan lemari seperti orang yang mau ikut wawancara kerja di perusahaan yang nggak jelas bidangnya.
Masalahnya, aku nggak tahu ke mana dia akan membawaku. Pesannya semalam cuma satu kalimat.
Besok 09.00. Pakai sepatu yang bisa dipakai jalan jauh.
Aku membalas: Seberapa jauh?
Estimasi 3,2 km. Ditambah tangga.
Tangga berapa?
Delapan lantai.
Ini kencan atau survei lapangan?
Balasannya butuh dua menit.
Menurut Zia, kencan. Menurut saya, dua-duanya.
Aku tertawa sendiri di tempat tidur, lalu membenamkan wajah ke bantal karena tertawa sendiri di tempat tidur gara-gara laki-laki adalah hal yang terakhir kulakukan waktu umur enam belas.
Akhirnya aku memilih celana jeans biru muda, kemeja linen putih yang lengannya kugulung, dan sneakers putih. Rambut kuikat ekor kuda tinggi. Lipstik nude. Anting kecil.
Aku melihat cermin dan mengangguk. Cukup kasual untuk naik tangga delapan lantai. Cukup cantik untuk membuatnya menyesal mengajakku naik tangga delapan lantai.
Jam delapan dua puluh, satpam rumah mengetuk pintu kamarku.
“Non Rose, ada tamu. Katanya sudah dari tadi.”
“Dari tadi itu dari jam berapa, Pak?”
“Mobilnya parkir di depan gerbang sejak jam setengah delapan, Non. Saya kira orang nyasar. Pas saya samperin, mas-nya bilang ‘Saya menunggu jam sembilan.’ Terus dia baca buku.”
Aku menatap jam dinding. Delapan dua puluh. Dia sudah di sana lima puluh menit.
Aku turun, setengah berlari.
Di depan gerbang rumah Menteng, di antara deretan mobil mewah tetangga, terparkir sebuah Avanza silver yang catnya sudah kusam dan bempernya sedikit penyok di kiri. Di kursi pengemudi, dengan jendela terbuka, laki-laki berkacamata itu sedang membaca buku tebal bersampul biru.
Dia mengangkat kepala waktu aku mengetuk kap mobilnya.
“Anda datang lima puluh menit lebih awal.”
“Lima puluh dua.” Ia menutup bukunya. “Saya memperhitungkan kemacetan di Salemba. Ternyata nggak macet.”
“Kenapa nggak masuk?”
“Janjinya jam sembilan.”
Dia keluar dari mobil. Kaus polo hitam, celana chino abu-abu, sneakers yang kelihatan sudah dipakai bertahun-tahun tapi bersih. Kacamatanya sama. Rambutnya sama, potongan sendiri. Dia kelihatan seperti mahasiswa S3 yang tersesat di Menteng.
Dia juga, sayangnya, kelihatan sangat tampan dalam kaus polo hitam.
Matanya bergerak dari wajahku, ke rambutku yang diikat tinggi, ke leherku, dan berhenti di sana sedetik lebih lama dari yang wajar. Lalu matanya kembali ke wajahku, dan dia mengulurkan selembar kertas.
“Ini.”
Aku mengambilnya. Kertas A4, dicetak rapi, dengan judul tebal di atas.
SOP KENCAN — HARI 1 Disusun oleh: Zia Farad, M.Psi., Psikolog Untuk: Zayyan Farad (yang tidak tahu apa-apa)
Di bawahnya ada daftar bernomor.
1. Jemput tepat waktu. TEPAT WAKTU. Bukan 40 menit lebih awal. Itu menyeramkan. 2. Puji penampilannya SATU kali. Jangan pakai kata “fakta”. 3. Tanyakan minimal tiga hal tentang dirinya. Dengarkan jawabannya. Jangan koreksi. 4. Jangan bahas pondasi lebih dari 15 menit total. 5. Kalau dia tertawa, jangan tanya kenapa. 6. Antar pulang. Jangan jabat tangan di depan pintu. Itu bukan rapat.
Aku membacanya dua kali. Lalu aku menatapnya.
“Anda kasih SOP-nya ke saya?”
“Zia bilang transparansi penting dalam hubungan.”
“Zia bilang begitu?”
“Zia bilang ‘kalau kamu mau kasih lihat dia, ya terserah, kamu memang aneh’. Saya interpretasikan sebagai izin.”
Aku menatap poin pertama. Bukan 40 menit lebih awal. Lalu ke jam tanganku. Lalu ke dia.
“Anda sudah melanggar nomor satu.”
“Saya tahu. Saya datang lima puluh dua menit lebih awal. Pelanggarannya lebih parah dari yang diprediksi Zia.”
Aku nggak bisa menahannya. Aku tertawa, keras, sampai satpam di pos jaga menoleh dan tersenyum.
Dia diam. Dia nggak bertanya kenapa aku tertawa.
Poin nomor lima. Dia sedang mematuhinya.
Itu membuatku tertawa lebih keras.
Dia membawaku ke Kota.
Bukan Kota Tua yang penuh turis dan sepeda ontel warna-warni. Sedikit ke selatan, di jalan yang lebih sepi, di antara ruko-ruko tua yang setengahnya kosong. Kami memarkir Avanza di depan sebuah toko kelontong, lalu berjalan.
Satu kilometer pertama, aku menyesal memakai kemeja putih. Matahari Jakarta jam sepuluh pagi nggak kenal ampun.
Kilometer kedua, aku berhenti menyesal karena dia mulai bicara.
Dia menunjuk gedung-gedung di sepanjang jalan dan menjelaskan kenapa masing-masing masih berdiri atau kenapa sebagian akan segera roboh. Gedung bank zaman Belanda dengan dinding bata setebal enam puluh sentimeter: “Over-desain. Mereka nggak punya rumus gempa modern, jadi mereka bikin semuanya tebal. Ternyata itu menyelamatkan gedung ini.” Ruko tahun delapan puluhan dengan retak diagonal di dinding lantai dua: “Kolom lantai dasarnya diperkecil waktu renovasi untuk etalase. Sekarang lantai dasarnya lemah. Kalau gempa, lantai itu yang pertama hancur.” Jembatan penyeberangan berkarat: “Jangan pernah lewat jembatan itu waktu hujan.”
Dia bicara tanpa melihatku, dengan nada seperti orang membaca katalog. Tapi setiap kali aku bertanya, dia berhenti dan menjawab lengkap. Setiap kali aku nggak bertanya, dia diam dan menunggu.
“Ini sudah lebih dari lima belas menit,” kataku di kilometer ketiga.
“Apa?”
“Bahas pondasi. Poin nomor empat.”
Dia berhenti berjalan. Matanya bergerak sedikit ke atas, menghitung. “Dua puluh tiga menit.”
“Melanggar lagi.”
“Anda yang bertanya.”
“Poinnya bilang jangan bahas. Nggak ada pengecualian kalau saya yang bertanya.”
Dia diam tiga detik. Lalu mengeluarkan ponsel dan mengetik.
“Anda ngapain?”
“Lapor ke Zia. Supaya SOP Hari 2 bisa direvisi dengan klausul pengecualian.”
Aku merebut ponselnya.
Dia menatapku. Aku menatapnya balik sambil menyembunyikan ponselnya di belakang punggung.
“Pak Zayyan. Ini kencan. Bukan audit kepatuhan.”
“Menurut Zia, bedanya tipis.”
“Zia itu pintar sekali, ya.”
“Paling pintar di keluarga. Tapi jangan bilang ke Kak Zahra.”
Aku mengembalikan ponselnya. Jari kami bersentuhan sebentar. Dia nggak menarik tangannya dengan cepat, juga nggak menahannya. Cuma bersentuhan, lalu lepas, seperti dua benda yang kebetulan lewat di titik yang sama.
Jantungku nggak setuju dengan kata “kebetulan”.
Kami berhenti di depan sebuah gedung delapan lantai.
Gedung itu nggak cantik. Dinding beton bercat krem yang sudah memudar, jendela-jendela persegi berderet rapi, kanopi pintu masuk dari besi yang sudah dicat ulang berkali-kali. Gedung kantor tahun delapan puluhan yang biasa, yang akan dilewati orang tanpa menoleh.
Tapi aku menoleh. Dan aku berhenti bernapas sebentar.
Di dinding dekat pintu masuk, ada plakat kuningan yang sudah kehijauan di tepi-tepinya.
WISMA WESTON Diresmikan 12 Maret 1985 Arthur Weston
“Ini…” Suaraku pelan. “Ini gedung pertama Kakek.”
“Iya.”
Aku berjalan mendekat dan menyentuh plakat itu. Logamnya dingin.
Ingatan itu datang seperti air yang menembus retakan. Aku umur enam atau tujuh. Kakek menggandengku. Tangannya besar dan kasar, dan baunya seperti rokok kretek dan semen. Kami berdiri di depan plakat ini, dan Kakek bilang, Ini rumah pertama Kakek, Rose. Bukan rumah buat tidur. Rumah buat mimpi.
Aku lupa. Bagaimana aku bisa lupa?
“Kakek pernah bawa saya ke sini,” bisikku. “Saya lupa.”
“Anda umur tujuh.”
Aku menoleh tajam. “Kok Anda tahu?”
Dia diam sebentar. Wajahnya datar, tapi matanya, untuk sedetik, bergerak ke plakat di belakangku, dan sesuatu di sana berubah. Seperti ada pintu yang dibuka sedikit lalu ditutup lagi.
“Tebakan,” katanya. “Anak kecil biasanya dibawa ke tempat penting sekitar umur segitu.”
Dia bisa bohong ternyata. Atau mungkin bukan bohong. Mungkin cuma jawaban yang nggak lengkap.
Aku menyimpan data itu.
Dia menyentuh plakat itu juga, di bawah nama Kakek. Cuma ujung jarinya, satu sentuhan singkat, lalu dia menarik tangannya dan memasukkannya ke saku.
“Gedung ini sudah empat puluh satu tahun,” katanya. “Selamat dari gempa 2009, banjir 2007 dan 2020, dan renovasi asal-asalan tahun 2003. Nggak ada retak struktural sama sekali.” Ia mendongak ke arah gedung. “Pondasinya bagus sekali.”
“Kenapa?”
“Tiangnya rapat. Saling mengunci. Kalau satu capek, yang lain bantu pegang.”
Kalimat itu membuatku diam. Aku teringat pola jaring di desain Weston Tower versi Maret.
“Sama seperti…”
“Iya.”
“Siapa yang merancang?”
Dia diam lebih lama kali ini.
“Tim kakek Anda,” katanya akhirnya.
Kami naik tangga sampai lantai delapan. Lift gedung itu sedang diperbaiki. Atau mungkin dia memang sengaja memilih tangga. Aku curiga yang kedua.
Di lantai tujuh, napasku mulai berat. Di lantai delapan, aku berhenti di bordes, membungkuk dengan tangan di lutut, dan memutuskan dengan sepenuh hati bahwa aku membenci laki-laki ini.
Dia berdiri di sebelahku. Napasnya teratur. Nggak keringatan sama sekali.
“Anda… manusia… atau robot?”
“Saya naik tangga ke kantor setiap hari. Lantai tujuh belas.”
“Tiap… hari?”
“Lift itu titik kegagalan tunggal.”
Aku menatapnya dengan mata yang kuharap cukup mematikan. Dia membuka pintu darurat di ujung bordes.
Atap.
Angin langsung menyambar, kencang dan sedikit asin karena laut nggak jauh dari sini. Di depanku, Jakarta Utara terbentang: atap-atap seng, menara-menara masjid, gedung-gedung tua dan baru yang bertumpuk tanpa aturan, dan di kejauhan, garis abu-abu kebiruan yang mungkin laut.
Matahari sudah condong ke barat. Kami ternyata berjalan lebih lama dari yang kukira.
Aku berjalan ke tepi atap dan bersandar di pagar beton setinggi dada. Dia berdiri di sebelahku, setengah meter jaraknya.
Kami diam lama. Diam yang nyaman. Aku nggak ingat kapan terakhir kali aku diam bersama seseorang tanpa merasa harus mengisi kekosongan itu.
Lalu aku bicara. Tentang Kakek. Tentang lampu gantung. Tentang rasanya jadi MD di umur dua puluh lima dan tahu semua orang di ruangan mengira aku dapat posisi itu karena nama belakangku. Tentang betapa kerasnya aku bekerja untuk membuktikan bahwa mereka salah, dan betapa memalukannya menandatangani memo optimasi pondasi tanpa memeriksanya.
Aku bicara terlalu cepat. Aku selalu begitu kalau gugup.
Di tengah kalimat, aku menyadari dia nggak melihat pemandangan.
Dia melihatku. Lebih tepatnya, melihat bibirku.
Aku berhenti bicara.
“Ngapain lihatin bibir saya?” Aku memiringkan kepala sedikit, membiarkan angin meniup helaian rambut yang lepas dari ikatan ke pipiku. “Mau dicium?”
Dia nggak berkedip. Dia nggak mundur. Dia nggak gelagapan seperti laki-laki lain.
Tapi ujung telinganya memerah. Pelan, tapi jelas, merah seperti kelopak bunga sepatu.
“Saya mengamati,” katanya. “Anda bicara terlalu cepat.”
“Bohong.”
“…”
“Anda nggak bisa bohong, kan? Itu kata Anda sendiri.”
Dia diam.
Tiga detik. Lima detik. Delapan.
Dia nggak menjawab. Dan karena dia nggak bisa bohong, diamnya adalah jawaban.
Aku merasakan sesuatu yang hangat dan berbahaya merayap dari perutku ke dadaku. Aku memalingkan wajah ke arah laut sebelum dia bisa melihat apa pun di mataku.
“Boleh saya ukur denyut Anda?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh. “Apa?”
“Parameter. Hari pertama butuh baseline.” Dia mengulurkan tangan, telapaknya menghadap ke atas. Dia nggak menyentuhku. Dia menunggu. “Protokol slide dua puluh. Semua kontak fisik atas persetujuan.”
Aku menatap tangannya. Tangan yang sama yang menarikku dari bawah lampu gantung. Jari-jari panjang, kuku dipotong rapi, ada bekas luka kecil di buku jari telunjuk.
Aku meletakkan pergelangan tanganku di telapaknya.
Dia membalik tanganku dengan lembut, meletakkan dua jari di bagian dalam pergelangan, di nadi, dan menatap jam tangannya. Lima belas detik. Bibirnya bergerak tanpa suara, menghitung.
Lima belas detik itu adalah lima belas detik terpanjang dalam hidupku.
“Seratus dua belas,” katanya.
“Itu karena tangga.”
“Kita naik tangga dua puluh menit yang lalu. Denyut pemulihan normal kembali ke bawah seratus dalam lima sampai sepuluh menit.”
“Itu karena angin.”
“Angin menurunkan suhu tubuh. Seharusnya denyut turun.”
“Itu karena…” Aku kehabisan alasan. Aku menatap jarinya yang masih di nadiku. Dia belum melepaskan. “Pak Zayyan. Kalau tiap hari Anda ngukur denyut saya begini, saya mulai curiga itu cuma alasan buat pegang tangan saya.”
Dia menatapku.
Dan dia, laki-laki yang nggak bisa bohong, memikirkan pertanyaan itu dengan sangat serius selama empat detik.
“Nggak sepenuhnya salah,” katanya.
Lalu dia melepaskan tanganku, perlahan, dan memasukkan tangannya ke saku seolah tangan itu baru saja melakukan sesuatu tanpa izin pemiliknya.
Aku berdiri di sana dengan pergelangan tangan yang masih terasa hangat dan jantung yang kalau diukur sekarang mungkin sudah seratus dua puluh.
Ponselnya berdering dalam perjalanan turun. Dia melihat layar, menghela napas sangat pelan, dan mengangkatnya.
“Iya, Zia.”
Aku bisa mendengar suara di seberang, perempuan, lembut tapi cepat. Lalu suara laki-laki menyambar di latar belakang, keras dan riang: “TANYA DIA UDAH DIPUJI BELUM!”
“Belum,” kata Zayyan.
“BELUM?! Jey, ini udah jam lima sore!”
“Aku tahu jam berapa, Ziad.”
“PUJI SEKARANG! NOMOR DUA! JANGAN PAKAI KATA FAKTA!”
Zayyan mematikan telepon tanpa pamit. Dia menatap lurus ke tangga di depannya dan terus turun.
Aku menggigit bibir sekuat mungkin supaya nggak tertawa. Poin nomor lima. Aku nggak mau dia bertanya kenapa.
Dia mengantarku sampai depan gerbang rumah Menteng jam tujuh malam. Avanza silver itu berhenti di bawah lampu jalan, mesinnya masih menyala dan bergetar sedikit.
Aku melepas sabuk pengaman. “Terima kasih untuk hari ini, Pak Zayyan.”
“Sama-sama.”
Aku membuka pintu, satu kaki sudah di trotoar. Lalu dia bicara.
“Bu Rose.”
Aku menoleh.
Dia menatap setir. Kedua tangannya di setir, di posisi jam sepuluh dan jam dua, persis seperti di buku panduan mengemudi.
“SOP nomor dua,” katanya. “Belum saya laksanakan.”
“Oh.” Aku menunggu. “Silakan.”
Dia diam. Rahangnya bergerak sedikit. Lalu dia bicara, masih menatap setir.
“Rambut Anda diikat hari ini. Leher Anda kelihatan.” Jeda. “Saya memperhatikannya sepanjang hari.”
Aku membeku dengan satu kaki di trotoar.
“Itu pujian?” tanyaku pelan.
“Itu fakta.” Dia akhirnya menoleh ke arahku. Ujung telinganya merah lagi. “Tapi Zia bilang saya nggak boleh bilang fakta. Jadi itu pujian.”
Aku keluar dari mobil. Menutup pintu. Berjalan ke gerbang. Satpam membukakannya untukku.
Aku nggak menoleh.
Karena kalau aku menoleh, dia akan melihat wajahku, dan wajahku sekarang pasti terlihat seperti perempuan yang baru saja jatuh dari lantai delapan dan entah bagaimana nggak menyentuh tanah.
Di kamar, ponselku bergetar.
Kacamata Nyebelin: SOP Hari 1 selesai. Pelanggaran: 3 dari 6. Mohon maaf.
Aku menatap pesan itu sambil berbaring di tempat tidur, masih memakai sneakers.
Aku: Saya kasih nilai 8.
Kacamata Nyebelin: Dari berapa?
Aku: Dari 10. Jangan tanya kenapa.
Kacamata Nyebelin: Itu poin nomor 5.
Aku: Saya tahu.
Aku memeluk bantal, menatap langit-langit, dan sadar bahwa ini baru hari pertama.
Masih ada delapan puluh sembilan hari lagi.