Chapter Eight
Proposal 23 Slide
POV: Zayyan
Catatan Observasi — Rabu
Selasa: subjek R. duduk di meja saya selama 22 menit.
Makan roti: 2 potong.
Tertawa: 0 kali. Hampir tertawa: 3 kali.
Tangan Adrian Sasmita di pinggang subjek: 41 detik. Subjek menegang di detik ke-2.
Saya tidak suka detik ke-2 sampai ke-41. [dicoret]
Saya tidak suka. [tidak dicoret]
Email masuk jam enam pagi, seperti setiap tanggal satu awal kuartal.
Subject: Q3 Royalty Statement — Seismic Damper Patent Family (JP/CL/TR/ID)
Aku membacanya sambil mengunyah roti tawar tanpa selai. Bukan isinya, cuma pengirimnya. Kantor kuasa hukum di Tokyo, seperti biasa. Lampiran PDF empat belas halaman, seperti biasa.
Aku menekan tombol arsip.
“Lo arsipin itu?”
Ziad berdiri di belakangku dengan segelas kopi sachet dan rambut yang sepertinya ditata angin topan. Ia membungkuk melihat layar laptopku.
“Lo arsipin email yang isinya tiga koma dua miliar?”
“Tiga koma satu. Kurs yen turun.”
“Jey.” Ziad menegakkan badan. “Lo arsipin email TIGA MILIAR tanpa baca.”
“Subjeknya nggak mendesak.”
“Nggak mendesak.” Ziad menatap langit-langit seperti orang yang berdoa minta kesabaran. “Gue nunggu gaji bulanan kayak nunggu kekasih pulang perang, dan lo arsipin tiga miliar karena ‘nggak mendesak’.”
“Gaji kamu juga nggak kecil.”
“Gaji gue bisa beli motor, Jey. Royalti lo bisa beli dealer motornya.”
Ibu lewat di belakang kami membawa wajan berisi minyak panas.
“Minggir, Ziad. Ibu mau goreng tempe.”
“Bu, Jey dapet tiga miliar lagi.”
“Oh. Alhamdulillah.” Ibu meletakkan wajan di kompor. “Jey, nanti siang anter Ibu ke pasar, ya. Mobil Ibu mogok lagi.”
“Aku belikan mobil baru, Bu.”
“Nggak usah. Kata Ayah, karburatornya cuma butuh dibersihkan.” Ibu memasukkan tempe ke minyak, lalu berbalik mengacungkan sutil ke arahku. “Dan jangan kamu ganti diam-diam kayak oven itu. Ibu tahu itu bukan hadiah undian. Undian mana yang hadiahnya oven Jerman?”
Aku diam.
Ziad tertawa sampai kopinya tumpah ke lantai.
Itu keluargaku. Aset pribadiku, kalau dijumlahkan dari paten peredam gempa yang dilisensikan di empat negara, royalti, kontrak konsultansi dengan dua firma di Tokyo, dan reksa dana yang nggak pernah kusentuh, sekitar lima ratus miliar rupiah. Aku jarang menghitungnya. Angka yang perilakunya nggak berubah nggak perlu dipantau.
Keluargaku tahu semuanya. Dan mereka nggak peduli.
Ayah tetap naik motor ke sekolah. Ibu tetap jualan kue di pasar. Kak Zahra tetap ambil jaga malam di rumah sakit umum. Atap rumah tetap ditambal Ayah sendiri setiap musim hujan, karena waktu aku menawarkan untuk mengganti seluruh atap, Ayah menatapku lama dan bilang, “Atap itu Ayah yang tambal, Nak. Bukan uangmu.”
Aku nggak mengerti kalimat itu waktu umur dua puluh empat.
Aku mulai mengerti sekarang.
Jam sembilan pagi, Zia mengetuk pintu kamarku dengan ponsel di tangan.
“Kamu perlu lihat ini.”
Instagram Story milik Clarissa Weston. Foto meja makan panjang dengan bunga-bunga putih, dan teks di atasnya: Persiapan acara keluarga dua minggu lagi. Something special is coming ✨
Di bawahnya, foto kedua: Adrian Sasmita dan Hendra Weston berjabat tangan di sebuah lapangan golf.
“Aku nggak suka menyimpulkan dari media sosial,” kata Zia, “tapi probabilitas ‘something special’ itu pertunangan…”
“Delapan puluh dua persen,” kataku.
“Aku mau bilang sembilan puluh.”
Aku menatap foto itu. Tangan Adrian Sasmita menjabat tangan Hendra Weston. Tangan yang sama yang empat puluh satu detik berada di pinggang Rose.
Rose.
Aku jarang menyebut namanya, bahkan dalam kepala. Di buku observasi, ia selalu “R.” atau “subjek”. Menyebut namanya terasa seperti melepas sesuatu yang selama ini kupegang dengan sangat hati-hati.
“Jey,” kata Zia pelan. “Apa yang mau kamu lakukan?”
Aku menutup layar ponselnya.
“Aku butuh laptop. Dan proyektor.”
Nenek Halimah duduk di kursi rotannya di teras belakang, menghadap pohon jambu yang buahnya selalu dimakan kelelawar sebelum sempat matang.
“Kamu mau melamar,” katanya. Itu bukan pertanyaan.
“Bukan melamar, Nek. Mengusulkan uji coba.”
“Bedanya apa?”
“Lamaran itu permintaan dengan hasil biner. Uji coba punya periode observasi, parameter, dan opsi keluar yang jelas untuk kedua pihak.”
Nenek menatapku dengan mata yang sudah melihat delapan puluh tahun manusia bodoh. Lalu ia tertawa kecil.
“Kakekmu dulu melamar Nenek pakai gambar jembatan.”
“Aku tahu.”
“Nenek nggak ngerti gambarnya. Tapi Nenek ngerti kenapa dia gambar itu.” Nenek menepuk kursi di sebelahnya. Aku duduk. “Jey. Dengar. Wasiat Pak Arthur itu bukan buat dipaksa. Kakekmu sendiri nggak pernah mau wasiat itu ditulis. Kalau kamu maju, majulah karena kamu mau. Bukan karena kakek-kakekmu.”
“Aku punya sebelas alasan logis, Nek.”
“Dan satu alasan yang nggak logis?”
Aku nggak menjawab.
Nenek nggak mendesak. Ia menepuk tanganku dua kali, lalu menatap pohon jambu lagi.
“Jangan bilang soal yang lain,” katanya pelan. “Apa pun yang terjadi. Itu janji.”
“Iya, Nek.”
Presentasi itu kususun dalam dua hari.
Zia membantuku dengan bagian yang ia sebut “lapisan empati”, yang menurutku sebagian besar terdiri dari mengganti kata “subjek” menjadi “Bu Rose” dan menghapus semua angka probabilitas di bawah tiga puluh persen karena “itu kedengarannya seperti ancaman, Jey”.
Ziad menawarkan diri mendesain slide. Aku menolak setelah melihat draf pertamanya: latar belakang gradasi ungu-merah muda dengan animasi hati beterbangan.
“Ini proposal resmi, Ziad.”
“Ini proposal CINTA, Jey.”
“Ini proposal uji coba hubungan dengan parameter terukur.”
“Itu cinta versi orang yang kurang tidur.”
Kak Zahra membaca draf finalnya jam satu pagi, di sela jaga malam, dan mengirimkan tiga catatan lewat WhatsApp:
Slide 14 terlalu panjang. Potong 40%.
Slide 7 kosong. Sengaja?
Kalau mereka menghina Ayah, kamu jawab. Kalau mereka menghina kamu, kamu diam. Kalau mereka menghina perempuan itu, kamu jawab dua kali.
Aku membalas pesan terakhir itu dengan satu kata: Iya.
Surat permohonan pertemuan kukirim ke Hendra Weston lewat kurir, dengan kop surat resmi dan referensi pada lampiran wasiat Arthur Weston, pasal tambahan, halaman empat.
Jawabannya datang dalam enam jam. Kamis, jam tujuh malam, kediaman Weston, Menteng.
Ayah memaksa ikut. “Lamaran itu urusan orangtua,” katanya.
“Ini bukan lamaran, Yah.”
“Ayah nggak tanya,” kata Ayah sambil mengancingkan kemeja batik terbaiknya, yang cokelat dengan motif parang dan kerahnya sudah sedikit tipis.
Ruang tamu keluarga Weston lebih kecil dari ruang utama yang lampunya jatuh, tapi tetap lebih besar dari seluruh lantai satu rumah kami. Sofa kulit krem, karpet Persia, lukisan minyak pemandangan Eropa. Lubang di plafon ruang utama sudah ditambal, tapi dari pintu aku bisa melihat bekasnya. Catnya belum sama.
Hendra Weston duduk di kursi tunggal seperti raja. Clarissa di sofa sebelahnya. Miranda Weston di ujung sofa, tanpa kalung sama sekali malam ini. Kevin Weston bersandar di dinding dekat jendela dengan tangan terlipat dan senyum yang sudah ia siapkan sejak sore.
Dan dia.
Duduk sendiri di sofa kecil di sebelah kanan, kaki bersilang. Blus putih, celana panjang krem, rambut tergerai lurus. Tanpa riasan berlebihan, tanpa perhiasan selain anting mutiara kecil. Kelihatan seperti baru pulang kantor dan nggak berniat mengesankan siapa pun.
Dia tetap jadi hal paling terang di ruangan itu.
Detak jantungku: sembilan puluh satu. Aku sudah berhenti menyalahkan kafein.
“Pak Hasan. Dr. Zayyan.” Hendra Weston nggak berdiri. “Silakan. Saya punya waktu tiga puluh menit.”
“Saya butuh dua puluh,” kataku. “Boleh saya pakai layar?”
Hendra mengangkat alis, lalu memberi isyarat ke pelayan. Layar televisi delapan puluh lima inci di dinding menyala. Aku menyambungkan laptop.
Slide pertama muncul.
PROPOSAL PELAKSANAAN WASIAT ARTHUR WESTON Uji Coba Hubungan 90 Hari dengan Parameter Evaluasi Terukur
Kevin tertawa keras. Miranda menutup mulut dengan kipas. Clarissa menatap layar dengan mata membulat.
Dia nggak tertawa. Dia mencondongkan badan sedikit ke depan.
“Slide dua,” kataku. “Status hukum wasiat.”
Aku menjelaskan. Wasiat itu nggak mengikat secara hukum. Tapi keluarga Farad juga nggak pernah melepaskannya secara formal. Ketidakjelasan itu yang membuat sepuluh tahun terakhir penuh ketegangan: Weston merasa terancam, Farad merasa wajib hadir.
“Slide lima. Usulan.”
Sembilan puluh hari. Bu Rose dan saya menjalani periode observasi sebagai calon pasangan. Satu-satunya parameter evaluasi adalah penilaian Bu Rose sendiri. Bukan saya, bukan keluarga mana pun.
“Slide enam. Opsi keluar.”
Aku menatap Hendra Weston.
“Kalau di hari ke-90 Bu Rose menyatakan tidak, keluarga Farad menandatangani pelepasan wasiat secara notarial dalam tujuh hari. Selamanya. Keluarga Farad nggak akan datang lagi ke acara peringatan, nggak akan mengungkit wasiat, nggak akan menghubungi keluarga Weston kecuali untuk urusan profesional.”
Hendra Weston diam. Tapi matanya berubah. Aku melihat kilatan yang sama seperti waktu ia mendengar analisis dinding penahan tanah: orang yang sedang menghitung keuntungan.
“Slide tujuh.”
Slide itu hanya berisi satu judul di tengah layar, tanpa poin apa pun, tanpa grafik.
Motif Finansial: Tidak Ada.
Kevin tertawa sampai terbatuk. “Datanya mana, Pak Doktor? Biasanya Anda pakai data.”
“Slide itu memang tanpa data.”
“Kenapa?”
“Karena saya nggak mau menunjukkannya.”
“Atau karena nggak ada,” kata Miranda manis, mengipasi dirinya. “Lucu sekali.”
Ayah, yang duduk di sebelahku, menegang. Aku menyentuh lututnya sekali. Ayah menghela napas dan diam.
Di sofa kecil, dia menatap slide itu lama. Lalu menatapku. Alisnya berkerut tipis, seperti orang yang menemukan angka yang nggak cocok di tabel.
“Slide sembilan. Manfaat bagi Bu Rose.”
Ini bagian yang Zia minta kuhapus. Aku nggak menghapusnya.
“Satu. Alasan sah untuk menunda rencana perjodohan dengan keluarga Sasmita selama sembilan puluh hari.” Aku nggak melihat Hendra. Aku melihat Rose. “Pak Adrian bicara cukup keras di Lumière. Saya mendengar beliau menyebut rencana pertunangan dua minggu lagi.”
Hendra Weston menoleh tajam ke arah putrinya. Rose nggak menoleh balik. Matanya tetap di layar, tapi ujung bibirnya bergerak sangat sedikit.
“Dua. Weston Tower.” Aku menekan tombol. “Saya mengundurkan diri dari panel tim ahli untuk proyek Weston Tower mulai hari ini. Suratnya sudah saya kirim ke Prof. Harun pagi tadi. Dengan begitu nggak ada konflik kepentingan. Selama periode observasi, saya bisa meninjau desain pondasi baru Weston Tower sebagai konsultan independen. Tanpa biaya.”
Hening.
“Kamu mundur dari panel,” kata Rose pelan. Itu pertama kalinya ia bicara malam itu. “Demi ini?”
“Demi gedung Anda nggak roboh. Itu tetap tujuan utama saya.”
Rose menatapku. Aku menatapnya balik. Di belakangnya, Clarissa Weston melirik dari putrinya ke arahku dan kembali lagi, dengan ekspresi yang sangat mirip ekspresi Zia waktu sedang menganalisis.
Aku menyelesaikan slide sisanya dalam sembilan menit. Jadwal pertemuan mingguan. Protokol privasi: nggak ada pengumuman publik. Batasan fisik: semua kontak fisik atas persetujuan kedua pihak. Slide dua puluh tiga hanya berisi satu kata.
Pertanyaan?
Hendra Weston menyandarkan punggung ke kursinya. Ia mengetukkan jari di sandaran tangan. Satu, dua, tiga.
“Sembilan puluh hari,” katanya. “Lalu kalian pergi selamanya.”
“Kalau Bu Rose menyatakan tidak.”
“Dia akan menyatakan tidak.”
“Itu juga data yang valid.”
Hendra tersenyum. Itu bukan senyum yang ramah. Itu senyum orang yang yakin baru saja memenangkan transaksi.
“Baik. Saya setuju. Tanpa pengumuman publik, dan Adrian tetap jadi opsi setelah hari ke-90.” Ia menoleh ke putrinya. “Rose?”
Semua kepala berpaling ke sofa kecil.
Rose berdiri. Ia berjalan pelan ke arah layar, berhenti di sebelahku, dan menatap slide terakhir dengan tangan terlipat. Dari jarak ini aku bisa mencium parfumnya lagi. Jeruk dan sesuatu yang pahit.
“Dua puluh tiga slide,” katanya.
“Iya.”
“Ada slide dua puluh empat?”
“Nggak.”
Ia menoleh. Matanya cokelat terang, seperti madu yang disinari matahari sore. Matanya nyaris tersenyum.
“Slide dua puluh empatnya mana, Pak Zayyan? Yang isinya Anda suka sama saya.”
Kevin tersedak. Miranda menjatuhkan kipasnya. Clarissa menutup mulut dengan dua tangan. Ayah, di sebelahku, berpura-pura membetulkan peci yang nggak ia pakai.
Aku menatap Rose.
“Belum ada datanya,” kataku.
“Ya udah,” katanya ringan. “Kumpulin.”
Lalu ia mengulurkan tangan, seperti orang yang menyetujui kontrak.
“Saya terima. Sembilan puluh hari.” Matanya nggak lepas dari mataku. “Satu syarat tambahan.”
“Silakan.”
“Kalau dalam sembilan puluh hari itu saya jatuh cinta, Anda yang tanggung jawab.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya dingin. Aku curiga tanganku sendiri juga nggak terlalu hangat.
“Itu hasil yang saya harapkan,” kataku.
Seseorang di ruangan itu, kemungkinan besar Kevin, menjatuhkan gelas.
Ayah berdiri, merapikan batiknya, dan menghadap Hendra Weston dengan senyum ramah.
“Pak Hendra,” katanya, “Kerbau mandi di Kali Bekasi.”
Hendra menatapnya bingung.
“Momentum kekal tidak bisa dihindari,” lanjut Ayah dengan bangga. “Terima kasih atas waktunya. Kami permisi.”
Di motor, Ayah bicara melawan angin malam.
“Pantun Ayah tadi bagus, kan?”
“Rimanya nggak ada, Yah.”
“Tapi semua orang diam.”
“Karena bingung.”
“Bingung itu tanda sedang berpikir.” Ayah tertawa. Lalu, setelah lampu merah di Matraman, suaranya berubah. “Nak. Slide tujuh. Kenapa kamu nggak isi?”
Aku memandang punggung Ayah, kemeja batik yang kerahnya sudah tipis, dan bahu yang sudah tiga puluh satu tahun membawa tas berisi kertas ulangan.
“Karena itu bukan alasan dia harus memilih, Yah.”
Ayah diam sampai lampu hijau. Lalu tangannya terulur ke belakang dan menepuk lututku dua kali, seperti waktu aku masih kecil dan duduk di depan tangki motornya.
Malam itu aku menulis di buku observasi.
Hari 0.
Proposal diterima.
Subjek bertanya soal slide 24.
Slide 24: sedang dikumpulkan datanya.
[Catatan: datanya sudah ada sejak halaman pertama buku ini. Belum boleh ditunjukkan.]