← Alasannya Apa, Jey?

Chapter Three

Lampu Gantung

POV: Rose

Rumah keluargaku di Menteng punya tiga belas kamar, dua kolam renang, dan satu lampu gantung kristal di ruang utama yang beratnya hampir setengah ton.

Kakek Arthur membelinya dari Praha tahun 1991. Katanya, waktu lampu itu dipasang, ia berdiri di bawahnya lama sekali dan menangis. Bukan karena lampunya indah, tapi karena ia ingat dulu pernah tidur di bedeng proyek dengan lampu minyak.

Itu satu dari sedikit cerita Kakek yang kuingat dengan jelas. Kakek meninggal waktu aku tujuh belas tahun. Sepuluh tahun lalu, malam ini.

“Bu Rose, Anda kelihatan seperti dewi yang mau menghukum seseorang,” kata Tiara di telepon.

“Kamu nggak lihat aku.”

“Saya lihat Instagram Story Bu Clarissa. Dia posting Ibu lagi didandani. Gaun hijau zamrud, punggung terbuka, rambut digerai. Komentarnya udah empat ratus. Ada yang nulis ‘ini manusia atau render 3D’.”

Aku menatap cermin besar di kamarku.

Gaun itu pilihan Mama. Hijau zamrud yang jatuh lurus sampai mata kaki, potongan punggungnya rendah. Rambutku dibiarkan tergerai bergelombang sampai pinggang. Aku memakai anting mutiara peninggalan Nenek Weston dan lipstik yang lebih lembut dari biasa.

Aku kelihatan cantik. Aku tahu itu. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku nggak merasa menang.

Tiga hari sejak sidang. Tim konsultan tanah sudah dipanggil. Pengeboran ulang di zona timur laut dijadwalkan minggu depan. Kevin masih bersikeras itu “kesalahan administratif kecil”, tapi aku sudah membaca ulang memo April itu sebelas kali, dan setiap kali, kalimat laki-laki berkacamata itu terdengar lagi di kepalaku.

Cuma bakal roboh.

“Tiara, hasil pencarian?”

“Masih nihil, Bu. Nama belakangnya nggak ketemu di mana-mana. Kayak hantu yang pinter fisika.”

“Lanjutkan.”

“Siap, Bu. Selamat malam. Jangan bikin orang pingsan, ya.”


Ruang utama penuh lilin putih dan bunga lili. Foto besar Kakek Arthur berbingkai emas berdiri di atas penyangga dekat tangga. Dalam foto itu ia tersenyum lebar dengan helm proyek kuning di kepala. Foto lamanya dari tahun delapan puluhan, sebelum Weston jadi Weston yang sekarang.

Tamu-tamu berdatangan: kolega bisnis Papa, beberapa pejabat, teman-teman Mama dari klub sosialita, sanak keluarga jauh yang hanya muncul setahun sekali.

Papa berdiri di dekat pintu menyambut tamu. Hendra Weston: tinggi, rambut perak yang disisir rapi, jas hitam tanpa satu lipatan pun yang salah. Mama di sebelahnya, Clarissa Weston, dengan kebaya modern warna perak dan senyum yang sudah dilatih selama tiga puluh tahun menjadi istri orang kaya.

Tante Miranda, adik Papa sekaligus ibu Kevin, sudah menempati sofa terbaik bersama gelas sampanye dan kalung berlian yang lebarnya hampir seukuran telapak tangan.

“Rose, Sayang,” panggilnya. “Kamu kurusan. Stres, ya? Kevin cerita proyekmu ditolak.”

“Perbaikan, Tante. Bukan ditolak.”

“Ah, sama saja. Kalau Tante dulu…”

Aku nggak mendengarkan sisanya, karena pintu depan terbuka dan pelayan mengumumkan kedatangan tamu berikutnya.

“Keluarga Bapak Hasan Farad.”

Ruangan itu nggak mendadak hening. Tapi ada perubahan kecil yang bisa kurasakan, seperti suhu yang turun satu derajat. Beberapa kepala menoleh. Beberapa bibir menyunggingkan senyum yang bukan senyum.

Aku tahu soal keluarga Farad. Semua orang di keluarga Weston tahu. Mereka keluarga sahabat Kakek Arthur yang datang setiap tahun ke acara ini, duduk di ujung, makan dengan sopan, dan pulang paling awal. Papa menyebut mereka “tamu wajib”. Tante Miranda menyebut mereka “tamu yang nggak tahu diri”. Aku nggak pernah benar-benar memperhatikan mereka. Waktu kecil aku pernah bertemu mereka beberapa kali, tapi ingatanku samar, seperti foto yang terendam air.

Seorang bapak berkemeja batik cokelat masuk lebih dulu, wajahnya ramah dan kalem. Seorang ibu di sebelahnya membawa kotak kue besar bertali rafia. Seorang nenek bungkuk berkerudung putih dituntun perempuan muda bermata lembut. Seorang perempuan lain berwajah tegas, rambutnya diikat ketat, berjalan seperti mau masuk ruang operasi. Seorang laki-laki berambut ikal sedang memotret lampu gantung dengan ponselnya, lalu ditegur oleh perempuan tegas itu dengan satu tatapan.

Lalu yang terakhir masuk.

Kemeja putih. Celana bahan hitam. Tanpa jas. Kacamata berbingkai tipis.

Gelas air di tanganku hampir tumpah.

“Pak Zayyan?”

Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya, cukup keras sampai beberapa orang menoleh.

Dia melihatku. Tatapannya turun sedetik ke gaunku, lalu naik lagi ke wajahku. Ekspresinya nggak berubah sedikit pun.

“Bu Rose.”

“Zayyan… Farad?”

“Iya.”

Tante Miranda mendengus keras di sofa. “Oh, jadi ini yang bikin proyek Rose ditolak? Cucu Farad?” Ia tertawa, tawanya tinggi dan tajam. “Kevin! Kevin, kemari. Lihat siapa yang datang.”

Kevin muncul dari arah bar, wajahnya berubah dari bingung jadi geli dalam dua detik. “Ya ampun. Pantas.”

“Pantas apa?” tanyaku dingin.

“Pantas dia nolak, Rose. Farad. Mereka dari dulu nyari celah buat nempel ke kita. Sekarang cucunya pakai jalur tim ahli.” Kevin mengangkat gelasnya ke arah Zayyan. “Strategi bagus, Bro. Kreatif.”

Zayyan menatap Kevin tiga detik. Lalu ia menoleh ke ibunya, mengambil kotak kue dari tangannya dengan gerakan lembut, dan menyerahkannya ke pelayan terdekat.

“Tolong taruh di meja. Kue lapis. Dibuat tadi pagi,” katanya ke pelayan.

Dia nggak menjawab Kevin sama sekali.

Kevin menunggu, senyumnya pelan-pelan memudar. Lalu ia mendengus dan kembali ke bar.

Aku berdiri di tempat dengan perasaan aneh. Seharusnya aku marah. Laki-laki ini menghancurkan proyekku, dan ternyata dia cucu keluarga yang selama ini dibilang benalu. Kevin mungkin benar. Mungkin itu memang strategi.

Tapi kenapa yang kulihat malah laki-laki yang memilih mengurus kue ibunya daripada membalas hinaan?


Makan malam disajikan di meja panjang yang memuat tiga puluh orang.

Keluarga Farad duduk di ujung, seperti biasa. Aku duduk di dekat Papa, seperti biasa. Tapi entah kebetulan atau bukan, Mama mengatur kartu nama sedemikian rupa sehingga dari kursiku aku bisa melihat Zayyan dengan jelas, tepat di seberang diagonal.

Dia makan dengan sangat rapi. Terlalu rapi. Setiap potongan daging dipotong dengan ukuran yang sama. Kakaknya yang berambut ikal, yang kemudian kuketahui bernama Ziad, sedang berbisik ke pelayan menanyakan password wifi. Kakak perempuannya yang tegas, Zahra, mengoreksi cara Ziad memegang pisau. Perempuan bermata lembut, Zia, sesekali melirik ke arahku, lalu ke Zayyan, lalu ke arahku lagi, seperti sedang menghitung sesuatu.

Tante Miranda duduk dua kursi dari mereka. Dan Tante Miranda nggak pernah bisa membiarkan malam berlalu tanpa korban.

“Bu Laila,” katanya manis, sangat manis, kepada ibu Zayyan, “garpunya pakai yang paling luar dulu, ya. Yang kecil itu buat salad.” Ia tersenyum ke seluruh meja. “Takutnya di rumah belum pernah lihat garpu salad. Wajar, kok. Nggak semua orang dibesarkan dengan peralatan makan lengkap.”

Beberapa orang tertawa kecil. Ibu Zayyan tersenyum kaku dan meletakkan garpu yang sudah ia pegang, yang sebenarnya sudah benar.

Aku melihat tangan Zayyan berhenti.

Hanya sedetik. Pisaunya berhenti di tengah potongan daging. Lalu ia meletakkan pisau dan garpu sejajar di piring, mengangkat kepala, dan menatap Tante Miranda.

“Tahu, Bu,” katanya. Suaranya biasa saja, datar dan rendah, tapi terdengar jelas di seluruh ujung meja. “Ibu saya tahu garpu salad. Saya juga tahu kalung Ibu imitasi.”

Hening.

“Berlian asli indeks biasnya dua koma empat dua. Cahayanya terpecah jadi spektrum, ada kilatan warna. Kalung Ibu memantulkan lampu putih polos. Itu zirkonia kubik, mungkin kualitas bagus, tapi bukan berlian.” Ia mengambil kembali pisau dan garpunya. “Tadinya saya diam karena itu bukan urusan saya. Sampai barusan.”

Lalu dia lanjut makan.

Mama tersedak anggur. Seorang tamu di dekat Tante Miranda menunduk sangat dalam dan bahunya bergetar. Ziad menutupi mulutnya dengan serbet, matanya berair. Zahra menatap lurus ke depan tanpa ekspresi, tapi tangannya menepuk lutut adiknya dua kali di bawah meja.

Tante Miranda merah padam dari leher sampai dahi. Tangannya refleks menutupi kalung itu.

Dan aku, Managing Director Weston Construction yang terkenal nggak pernah kehilangan wibawa di depan umum, menggigit bagian dalam pipiku sekeras mungkin supaya nggak tertawa.

Aku tahu kalung itu imitasi. Seluruh keluarga tahu. Tante Miranda menggadaikan yang asli dua tahun lalu karena kalah investasi. Tapi nggak pernah ada satu orang pun yang berani bilang.

Papa berdeham panjang. “Keluarga Farad datang setiap tahun,” katanya, suaranya dingin seperti ruang sidang kemarin. “Saya selalu heran kenapa.”

Pak Hasan, ayah Zayyan, meletakkan sendoknya dengan tenang.

“Karena dulu Pak Arthur minta, Pak Hendra.”

Itu saja. Nggak ada pembelaan. Nggak ada kemarahan. Lalu ia lanjut makan, persis seperti anaknya.


Setelah makan malam ada sambutan.

Mama memintaku berbicara mewakili cucu-cucu Kakek. Aku sudah menyiapkan tiga paragraf: tentang Kakek yang mulai dari nol, tentang helm kuning di foto itu, tentang lampu gantung yang membuatnya menangis.

Aku berdiri di tengah ruang utama, tepat di bawah lampu kristal raksasa itu. Para tamu melingkar dengan gelas di tangan. Lilin-lilin berkedip.

“Kakek saya pernah bilang…”

Aku berhenti.

Zayyan berdiri di barisan paling belakang. Dia nggak melihatku. Dia melihat ke atas, ke lampu gantung, dengan kepala sedikit miring. Tatapannya fokus, bibirnya bergerak tanpa suara. Seperti sedang menghitung.

Sejak tadi dia sudah begitu. Aku menyadarinya sekarang. Setiap kali aku melirik ke arahnya selama makan malam, dia melirik ke atas, ke arah yang sama.

Aku tadinya mengira dia melihatku.

Ternyata dia melihat lampu.

Aku nggak tahu kenapa itu membuatku sedikit kesal.

“Kakek saya pernah bilang,” ulangku, “bahwa gedung yang baik bukan gedung yang tinggi, tapi gedung yang—”

Zayyan bergerak.

Cepat sekali. Aku bahkan nggak melihatnya menerobos kerumunan. Yang kutahu tiba-tiba dia sudah di depanku, satu tangannya melingkar di pinggangku, tangan yang lain menahan punggungku yang terbuka, dan tubuhku ditarik kuat ke samping.

Kami berdua terhuyung tiga langkah. Punggungku menabrak dadanya.

Lalu lampu itu jatuh.

Suaranya seperti dunia pecah. Kristal-kristal berhamburan, menyebar ke lantai marmer seperti hujan es. Seseorang menjerit. Lilin-lilin padam. Sebuah kepingan kecil memantul dan menggores lenganku, perih sedikit, tapi aku hampir nggak merasakannya.

Karena aku masih di pelukannya.

Telapak tangannya di kulit punggungku. Hangat. Napasnya di dekat telingaku sedikit terengah, satu-satunya tanda bahwa dia baru saja bergerak secepat itu. Jantungku berdebar keras sekali sampai aku yakin dia bisa merasakannya.

Lima detik. Sepuluh. Dia nggak melepaskanku.

Pelan-pelan aku memutar kepala. Wajahnya dekat sekali. Kacamatanya sedikit miring. Dari jarak ini aku bisa melihat warna matanya. Bukan hitam. Cokelat yang sangat gelap, dengan lingkaran lebih terang di sekitar pupil.

“Anda nggak apa-apa?” tanyanya.

“Saya…” Suaraku keluar serak. “Pak Zayyan, Anda bisa… melepas saya.”

Dia menatapku. Dia nggak langsung melepaskan.

“Anda cantik,” katanya.

Aku mengerjap.

“Itu fakta,” lanjutnya, datar, seperti sedang membacakan hasil uji tekan beton. “Bukan pujian. Saya nggak memuji.”

Lalu, baru lalu, dia melepaskanku. Dia mundur satu langkah, membetulkan kacamatanya, dan menoleh ke tumpukan kristal di lantai seolah barusan nggak mengatakan apa-apa.

Aku berdiri di sana dengan wajah terbakar dan otak kosong.

Dia bilang aku cantik dengan nada orang membaca laporan cuaca.

Kenapa itu terdengar lebih jujur dari semua pujian yang pernah kudengar seumur hidup?


Kekacauan setelahnya berlangsung empat puluh menit. Petugas keamanan, pelayan yang menyapu kristal, Mama yang hampir pingsan, tamu-tamu yang buru-buru pamit sambil memotret puing lampu.

Papa berdiri di tengah ruangan, wajahnya kaku. Ia menatap Zayyan.

“Kamu tahu lampu itu akan jatuh.”

“Iya, Pak.”

“Sejak kapan?”

“Sejak saya datang. Ada retak rambut di plafon gipsum sekitar dudukan angkur, polanya radial. Selama makan malam, retaknya memanjang. Angkurnya bergeser kira-kira dua milimeter.” Zayyan menunjuk ke atas, ke lubang menganga di plafon. “Kemungkinan baut angkurnya berkarat. Lampu itu sudah tiga puluh lima tahun, dan plafonnya sepertinya pernah direnovasi tanpa memperkuat dudukan.”

“Kalau tahu, kenapa nggak bilang dari tadi?”

“Saya bilang ke kepala pelayan Bapak satu jam yang lalu. Beliau bilang acara nggak boleh diganggu.” Zayyan menoleh ke kepala pelayan, yang wajahnya langsung pucat. “Lalu Bu Rose berdiri tepat di bawahnya.”

Papa terdiam. Lalu matanya menyipit.

“Atau kamu yang membuatnya jatuh. Supaya bisa jadi pahlawan di depan keluarga saya.”

Aku menoleh tajam. “Pa.”

Zayyan nggak kelihatan tersinggung. Dia hanya menjawab dengan nada yang sama seperti tadi, ketika menjelaskan indeks bias berlian.

“Kalau saya mau menjatuhkannya, Pak, saya nggak akan berdiri di bawahnya.”

Lalu dia mengangguk sopan pada Papa, pada Mama, dan sekilas padaku, dan berjalan keluar untuk membantu ibunya memakai sandal di teras.


Malam itu, setelah semua tamu pulang, Papa memanggilku ke ruang kerjanya.

Ruangannya berbau kulit dan cerutu. Di dinding ada foto-foto proyek Weston dari tiga dekade. Papa berdiri di depan jendela, membelakangiku.

“Kamu sudah tahu siapa dia sekarang,” katanya.

“Zayyan Farad.”

“Cucu Yusuf Farad. Sahabat kakekmu.” Papa berbalik. Wajahnya keras. “Keluarga itu sudah empat puluh tahun menempel pada kita, Rose. Dan sekarang cucunya mulai bergerak. Menolak proyekmu, menyelamatkanmu di depan semua orang. Kamu pikir itu kebetulan?”

Aku nggak menjawab.

“Hati-hati,” kata Papa. “Mereka benalu. Besok Papa jelaskan semuanya.”

Aku keluar dari ruang kerja itu dan naik ke kamar.

Di cermin, gaun hijau zamrud itu masih sama. Ada goresan kecil di lengan kiriku yang sudah berhenti berdarah. Dan di punggungku, di kulit yang terbuka, aku masih bisa merasakan jejak telapak tangan yang hangat.

Laki-laki yang menolak gedungku ternyata cucu keluarga yang katanya benalu.

Dan aku masih bisa merasakan pelukannya.

Aku mematikan lampu kamar dengan kasar, seolah itu salah lampunya.