Chapter Six
Berapa yang Kalian Mau?
POV: Rose
Ruanganku di lantai tiga puluh delapan punya dinding kaca di dua sisi. Dari sini aku bisa melihat Sudirman sampai Semanggi, dan kalau cuaca cerah, puncak-puncak gedung di Kuningan, termasuk lahan kosong tempat Weston Tower seharusnya berdiri.
Aku berdiri membelakangi pemandangan itu, tangan terlipat, menunggu.
Dia masuk tiga puluh detik setelahku. Menutup pintu dengan pelan, seperti orang yang menghargai engsel. Lalu ia berdiri di tengah ruangan, tas di tangan kanan, wajah datar seperti biasa.
Dia nggak duduk. Aku juga nggak menyuruhnya duduk.
Di balik pintu kaca buram, aku bisa melihat bayangan Tiara mondar-mandir dengan map di dada. Map itu kosong. Aku tahu karena aku yang menyuruhnya membuang isinya minggu lalu.
“Pak Zayyan.” Aku menjaga suaraku tetap rendah. “Saya mau tanya satu hal, dan saya mau jawaban jujur.”
“Saya cuma punya jawaban jujur, Bu Rose.”
“Berapa yang keluarga Anda mau?”
Hening.
Dia nggak bereaksi. Nggak tersinggung, nggak kaget, nggak tersenyum sinis. Dia cuma menatapku, kepala sedikit miring, seperti sedang memeriksa sambungan yang gambarnya nggak sesuai.
“Mau untuk apa?”
“Untuk berhenti.” Aku melangkah ke meja dan menekankan dua telapak tangan di atasnya. “Untuk berhenti datang ke acara keluarga saya setiap tahun. Untuk berhenti membawa-bawa wasiat kakek saya. Untuk berhenti menolak proyek saya demi menunjukkan bahwa Weston butuh Farad.” Aku menatapnya lurus. “Papa saya bilang keluarga Anda sudah empat puluh tahun menempel pada kami. Saya nggak suka teka-teki. Sebut angkanya.”
Dia diam tiga detik.
“Alasannya?”
“Apa?”
“Alasan Anda menyimpulkan saya menolak proyek Anda demi keluarga saya.” Nadanya sama sekali nggak berubah. “Temuan saya soal pondasi itu salah?”
Aku membuka mulut. Lalu menutupnya lagi.
“Bukan itu intinya.”
“Itu satu-satunya inti, Bu. Kalau temuan saya salah, Anda punya alasan menuduh saya punya motif lain. Kalau temuan saya benar, motif saya nggak relevan. Gedungnya tetap bakal roboh.” Ia memindahkan tas ke tangan kiri. “Jadi saya ulangi pertanyaannya. Temuan saya salah?”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik. Di luar, bayangan Tiara berhenti mondar-mandir dan menempel di kaca.
“Nggak,” kataku akhirnya. Pelan. Hampir nggak terdengar. “Nggak salah.”
“Saya tahu.”
“Anda… tahu?”
“Anda tahu saya benar sebelum rapat tadi. Anda membuka desain konsep versi Maret di laptop. Dua kali, waktu saya menjelaskan efek kelompok tiang. Saya lihat pantulannya di kaca jendela di belakang Anda.” Ia berhenti sebentar. “Anda membandingkan. Itu yang dilakukan insinyur, bukan pewaris.”
Aku merasakan wajahku memanas.
Dia memperhatikan pantulan laptopku di kaca jendela. Di tengah menjelaskan analisis struktur di depan dua puluh orang, dia memperhatikan apa yang kulihat di layarku.
Aku nggak tahu harus merasa ditelanjangi atau dipuji.
Aku berjalan mengitari meja. Pelan-pelan, satu langkah demi satu langkah, dengan cara yang dulu kupelajari dari Mama dan kusempurnakan di ruang-ruang rapat penuh laki-laki tua: cara berjalan yang membuat orang menahan napas.
Aku berhenti tepat di depannya. Jaraknya setengah meter.
Kerah kemejanya miring. Sisi kiri terlipat ke dalam, mungkin sejak ia mengikat tali tas pagi tadi. Detail kecil yang nggak penting. Tapi aku sudah menghabiskan tiga hari merasa kalah dari laki-laki ini, dan aku butuh menang dalam sesuatu. Apa saja.
Aku mengangkat tangan dan merapikan kerahnya.
Pelan. Sangat pelan. Ujung jariku menyentuh lehernya sedikit, sengaja, waktu aku menarik lipatan itu keluar. Aku merasakan kulitnya hangat, dan jakunnya bergerak sekali ketika ia menelan ludah.
Ah. Jadi dia manusia juga.
“Kerah Anda miring, Pak Zayyan,” kataku, menatap matanya dari jarak yang terlalu dekat untuk percakapan profesional. “Ternyata orang genius bisa berantakan juga, ya.”
Aku menunggu dia mundur. Laki-laki selalu mundur kalau aku melakukan ini. Mereka gugup, tertawa canggung, mengalihkan pandangan, atau membuat lelucon yang nggak lucu.
Dia nggak mundur.
Dia maju.
Satu langkah. Pelan, tenang, tanpa ragu, sampai jarak di antara kami hilang. Aku bisa melihat bulu matanya, pori-pori kecil di hidungnya, bayangan wajahku sendiri di lensa kacamatanya. Wajahnya turun sedikit, sampai mungkin hanya sepuluh sentimeter dari wajahku.
Napasku tertahan di tenggorokan.
“Bu Rose,” katanya. Suaranya rendah, dan dari jarak sedekat ini aku bisa merasakan getarnya. “Kalau saya mau uang Weston, saya cukup diam waktu sidang.”
Aku nggak bergerak.
“Gedung Anda disahkan. Dibangun. Tujuh tahun lagi, mungkin sepuluh, ada gempa di sesar terdekat. Zona timur laut turun delapan belas sentimeter. Gedungnya miring atau lebih buruk.” Matanya nggak berkedip. “Lalu ada sidang di pengadilan, dan pengadilan butuh saksi ahli yang bisa menjelaskan kenapa gedung itu gagal. Saksi ahli dibayar mahal, Bu. Sangat mahal. Apalagi kalau dia satu-satunya yang punya catatan bahwa ia sudah memperingatkan dari awal.”
Ia berhenti.
“Kalau saya mau uang Weston, itu cara paling mudah. Saya cukup diam.”
Lalu dia menunggu. Dia nggak mundur, nggak tersenyum, nggak menunjukkan apa pun. Dia cuma berdiri sepuluh sentimeter dari wajahku dan menunggu aku memproses kalimat itu.
Dan yang mundur duluan adalah aku.
Satu langkah ke belakang. Pinggulku menabrak tepi meja. Aku memegang tepiannya dengan dua tangan, berusaha terlihat santai, berusaha nggak terlihat seperti perempuan yang baru saja kehilangan semua kata dalam bahasa Indonesia.
Dia nggak mengikutiku. Dia berdiri di tempat yang sama, membetulkan kacamatanya dengan satu jari, dan kembali ke jarak setengah meter seolah nggak ada apa-apa.
“Terima kasih soal kerahnya,” katanya.
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk antara ingin melemparnya keluar jendela dan ingin dia melangkah lagi.
Dua-duanya sangat nggak profesional.
“Anda nggak pernah bohong, ya?” tanyaku setelah beberapa saat. Suaraku sudah kembali normal. Kurang lebih.
“Nggak.”
“Sama sekali?”
“Bohong itu nggak efisien. Harus diingat versinya, harus dijaga konsistensinya, harus diantisipasi risikonya. Jujur lebih hemat energi.”
“Itu alasan paling nggak romantis untuk jadi orang jujur yang pernah saya dengar.”
“Saya nggak bilang saya romantis.”
“Jelas.”
Aku duduk di kursiku. Dia tetap berdiri. Matahari sore masuk dari jendela samping, membuat setengah wajahnya terang dan setengahnya gelap. Kalau dia bukan laki-laki paling menyebalkan di Jakarta, aku mungkin akan bilang itu pemandangan yang bagus.
“Jadi,” kataku, “keluarga Anda nggak mau apa-apa?”
“Saya nggak bisa bicara untuk keluarga saya.” Untuk pertama kalinya ada jeda yang lebih panjang sebelum ia melanjutkan. Bukan ragu. Lebih seperti orang yang memilih kata dengan sangat hati-hati. “Yang bisa saya bilang: keluarga saya nggak pernah meminta apa pun dari Weston. Nggak sekali pun.”
“Tapi ada transfer bulanan. Bertahun-tahun. Papa saya punya catatannya.”
Dia diam.
Diam yang berbeda dari diamnya yang biasa. Biasanya diamnya terasa seperti orang yang sedang menghitung. Kali ini rasanya seperti pintu yang ditutup pelan-pelan.
“Saya nggak bisa menjelaskan soal itu,” katanya.
“Nggak bisa atau nggak mau?”
“Nggak boleh.”
“Siapa yang melarang?”
“Seseorang yang saya hormati.”
Aku menyipitkan mata. “Itu jawaban paling mencurigakan yang bisa Anda berikan, Pak Zayyan.”
“Saya tahu.” Dia membetulkan tali tasnya. “Tapi itu jawaban jujur.”
Aku nggak tahu harus bilang apa. Logikaku berteriak bahwa ini persis yang dibilang Papa: ada rahasia, ada transfer, ada sesuatu yang disembunyikan. Tapi laki-laki di depanku baru saja menunjukkan bahwa dia lebih memilih kehilangan bayaran saksi ahli daripada membiarkan gedungku roboh. Dan dia mengakui ada rahasia, alih-alih berbohong bahwa nggak ada apa-apa.
Penipu nggak akan mengaku punya rahasia.
Atau mungkin penipu yang sangat pintar akan mengaku, supaya terlihat jujur.
Aku memijat pelipisku. Laki-laki ini membuat otakku bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.
“Nomor Anda,” kataku.
“Untuk keperluan?”
“Revisi pondasi. Pengeboran ulang minggu depan. Saya mau Anda lihat datanya sebelum diserahkan ke panel.”
“Itu konflik kepentingan. Saya anggota panel.”
“Kalau begitu sebagai konsultan independen. Weston akan bayar Anda.”
“Saya nggak bisa dibayar oleh pemohon yang proyeknya sedang saya nilai.”
“Gratis, kalau begitu.”
“Gratis juga konflik kepentingan, Bu. Malah lebih buruk.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah orang yang sedang membaca pasal peraturan dalam kepalanya.
“Pak Zayyan,” kataku pelan, “saya cuma minta nomor telepon.”
Dia diam satu detik. Dua detik. Lalu ia mengambil sticky note kuning dari mejaku, mengambil pulpen dari gelas pulpenku, dan menulis dua belas angka dengan tulisan tangan yang sangat rapi. Di bawahnya, ia menambahkan satu baris kecil.
Hanya untuk keperluan struktur.
Ia menempelkan sticky note itu di tepi monitorku, tepat di tengah, sejajar sempurna dengan bingkai layar.
“Selamat sore, Bu Rose.”
Ia keluar dan menutup pintu dengan pelan.
Tiga detik kemudian, pintu itu terbuka lagi dan Tiara menyerbu masuk.
“BU.”
“Kamu nguping.”
“Saya nggak nguping, Bu, kacanya tipis!” Tiara memeluk map kosongnya erat-erat. “Bu. Bu. Saya lihat bayangannya. Dia maju. Dia MAJU, Bu. Saya kira dia mau…”
“Dia nggak mau apa-apa.”
“…terus Ibu yang mundur! Ibu Rose Florence Weston yang bikin direktur keuangan nangis di rapat budget tahun lalu, MUNDUR!”
“Tiara, keluar.”
“Saya keluar, Bu.” Ia berbalik, lalu berbalik lagi. “Bu, boleh saya update polling?”
“Nggak.”
“Opsi (d) udah tujuh puluh tiga persen, Bu.”
“Keluar!”
Tiara keluar sambil tertawa. Aku sendirian di ruangan dengan pemandangan Jakarta dan sticky note kuning di monitorku.
Hanya untuk keperluan struktur.
Aku menatap tulisan itu lama sekali. Lalu aku mengambil ponselku, menyimpan nomornya, dan mengetik nama kontak.
Pak Zayyan (Struktur)
Aku menghapusnya. Mengetik lagi.
Zayyan Farad
Menghapusnya lagi.
Aku memandangi layar kosong itu, lalu, sebelum aku sempat berpikir, mengetik:
Kacamata Nyebelin
Dan menyimpannya.
Malam itu, jam sebelas lewat, aku masih di kantor. Laporan pengeboran ulang menunggu dibaca, tapi aku justru menatap ponsel. Pesan terakhir di layar adalah dari Papa: Selasa, Lumière, jam 7. Jangan telat. Adrian sudah konfirmasi.
Di bawahnya, kontak Kacamata Nyebelin belum pernah kukirimi apa pun.
Aku mengetik.
Pak Zayyan. Ini Rose. Pengeboran ulang zona timur laut dijadwalkan Kamis. Berapa titik yang Anda rekomendasikan?
Itu pertanyaan struktur. Sah. Profesional. Sesuai syarat sticky note.
Balasan masuk dalam dua belas detik.
Enam. Kedalaman minimal 45 m. Uji CPTu di sela titik bor.
Lalu, tiga detik kemudian, pesan kedua.
Anda masih di kantor.
Aku mengerutkan dahi. Kok tahu?
Jam 23.14. Pertanyaan teknis. Bahasanya formal. Orang yang bertanya dari rumah biasanya menunggu besok pagi.
Aku menatap layar. Lalu mengetik sebelum otakku sempat menghentikan jariku.
Itu termasuk keperluan struktur?
Kali ini balasannya butuh waktu lebih lama. Empat puluh detik. Aku menghitungnya, dan aku membenci diriku sendiri karena menghitungnya.
Struktur tubuh manusia butuh tidur minimal tujuh jam. Jadi ya, termasuk.
Aku tertawa.
Sendirian, di lantai tiga puluh delapan, jam sebelas malam, aku tertawa keras sampai satpam yang lewat di koridor menoleh ke arah pintuku.
Lalu aku mematikan laptop, mengambil tas, dan pulang.
Aku nggak membalas pesannya. Tapi aku nggak menghapusnya juga.