Chapter One
Ditolak dalam Empat Menit
POV: Rose
Ada dua hal yang aku tahu pasti pagi itu.
Pertama, aku cantik.
Itu bukan sombong. Itu data. Sejak umur lima belas, orang berhenti bicara kalau aku masuk ruangan. Waktu umur dua puluh, aku belajar memakai itu sebagai senjata. Sekarang, di umur dua puluh tujuh, dengan blazer putih gading, rambut cokelat gelap yang kugelung rendah, dan lipstik merah bata yang Tiara bilang “warna orang yang nggak bisa ditolak”, aku tahu persis efekku pada ruang rapat mana pun.
Kedua, Weston Tower akan disahkan hari ini.
Yang pertama tetap benar sampai sore.
Yang kedua runtuh dalam empat menit.
Ruang sidang Tim Ahli Bangunan Gedung di lantai sembilan itu dinginnya keterlaluan. AC-nya disetel seperti ingin mengawetkan orang. Lima kursi panel berjejer di balik meja panjang berlapis kain hijau. Di seberangnya, kursi untuk pemohon: aku, Kevin, tiga orang konsultan struktur, dan Tiara yang memeluk laptop seperti memeluk anak sendiri.
“Bu,” bisik Tiara, “kalau hari ini lolos, saya boleh minta cuti setengah hari? Saya mau tidur dua belas jam.”
“Kalau hari ini lolos, kamu boleh tidur dua minggu.”
“Wah. Saya doain, Bu. Doa orang yang mau tidur itu mustajab.”
Aku menahan senyum. Tiara sudah tiga tahun jadi asistenku, dan dia satu-satunya orang di Weston Construction yang berani bercanda di depanku lima menit sebelum presentasi paling penting dalam karierku.
Weston Tower. Tujuh puluh dua lantai. Kawasan Kuningan. Gedung tertinggi yang pernah dibangun keluargaku, dan yang pertama dengan namaku sebagai penanggung jawab proyek. Dua tahun desain. Delapan bulan revisi. Ratusan malam di kantor dengan kopi yang makin lama makin pahit.
Kevin, sepupuku yang duduk di sebelah kanan, merapikan dasinya untuk keempat kalinya.
“Santai,” katanya. “Panelnya orang-orang lama. Prof. Harun itu kenal Om Hendra. Paling cuma formalitas.”
“Nggak ada sidang tim ahli yang formalitas, Kev.”
“Buat Weston, ada.”
Aku nggak menjawab. Kevin memang begitu. Direktur Operasional yang percaya bahwa nama belakang kami bisa menggantikan perhitungan. Aku nggak suka cara berpikir itu, tapi aku juga nggak punya waktu untuk berdebat sekarang.
Pintu samping terbuka. Panel masuk satu per satu.
Prof. Harun duduk di tengah, rambut putih, kacamata melorot. Lalu dua profesor lain yang wajahnya kukenal dari seminar. Lalu seorang ibu dari dinas teknis.
Lalu dia.
Orang terakhir yang masuk jauh lebih muda dari yang lain. Mungkin akhir dua puluhan. Kemeja abu-abu polos, lengan digulung sampai siku, tanpa dasi, tanpa jas. Kacamata berbingkai tipis. Rambut hitam yang kelihatannya dipotong sendiri. Dia nggak membawa apa-apa selain satu bolpoin, dan dia duduk di kursi paling ujung seperti orang yang salah masuk ruangan.
Papan nama di depannya bertuliskan: Ir. Zayyan F., M.Eng., Ph.D.
Aku memperhatikannya dua detik lebih lama dari yang perlu.
Bukan karena dia tampan. Oke, dia tampan, dengan cara yang menyebalkan. Rahangnya tegas, hidungnya lurus, dan bulu matanya terlalu panjang untuk laki-laki yang jelas nggak peduli penampilan. Tapi yang membuatku memperhatikan adalah ekspresinya.
Nggak ada.
Benar-benar nggak ada. Wajahnya datar seperti permukaan air yang belum disentuh angin. Kalau ketampanan bisa dihitung, aku curiga dia sudah menghitungnya dan memutuskan itu nggak relevan.
“Silakan, Ibu Rose,” kata Prof. Harun.
Aku berdiri.
Presentasiku berjalan empat puluh menit, dan aku tahu itu bagus.
Aku menjelaskan sistem struktur: inti beton bertulang, outrigger di lantai tiga puluh enam dan enam puluh, pondasi rakit dengan tiang bor. Aku menunjukkan hasil analisis gempa, simulasi angin, dan kurva kinerja. Aku menjawab pertanyaan ibu dari dinas soal parkir basement dengan senyum yang membuatnya mengangguk dua kali.
Prof. Harun mengangguk. Dua profesor lain mengangguk. Ibu dari dinas mencatat sesuatu lalu mengangguk.
Laki-laki di ujung meja nggak mengangguk.
Dia juga nggak mencatat. Selama empat puluh menit, dia cuma membalik-balik gambar kerja cetak di depannya. Pelan. Satu lembar, berhenti lama, lembar berikutnya. Seperti orang yang sedang membaca novel dan sudah tahu akhir ceritanya.
“Terima kasih, Ibu Rose. Sangat komprehensif,” kata Prof. Harun. Ia menoleh ke kiri. “Dr. Zayyan, ada tanggapan?”
Laki-laki itu mengangkat kepala.
“Ada. Satu.”
Suaranya rendah dan rata. Nggak keras, tapi entah kenapa seluruh ruangan langsung diam.
Dia mengangkat satu lembar gambar. Aku mengenalinya dari jauh: S-104, denah pondasi.
“Pondasinya diubah.”
Kevin menyandarkan punggung. “Diubah dari apa, Pak?”
“Dari desain konsep tahun lalu. Yang diajukan di pra-sidang bulan Maret.” Dia meletakkan lembar itu, lalu menunjuk satu area dengan ujung bolpoin. “Versi Maret benar. Versi ini, jarak tiang bor diperlebar dari tiga kali diameter jadi empat setengah kali. Diameternya dikecilkan dari satu koma dua meter jadi satu meter. Jumlah tiang berkurang dua ratus empat belas. Hemat biaya kira-kira sebelas persen.”
Kevin tersenyum tipis. “Itu namanya optimasi.”
“Itu namanya mengubah. Pondasinya diubah. Alasannya?”
“Efisiensi.”
“Efisiensi itu kalau hasilnya sama dengan biaya lebih kecil, Pak. Ini hasilnya beda.”
Dia nggak menaikkan suara sama sekali. Dia cuma bicara, seperti sedang membacakan jadwal kereta.
“Di kedalaman tiga puluh dua meter ada lapisan lempung lunak, tebalnya enam sampai sembilan meter. Di desain Maret, tiang-tiangnya rapat, jadi bekerja seperti satu kelompok. Bebannya terbagi. Di desain ini, tiangnya terlalu jarang. Masing-masing bekerja sendiri-sendiri.” Dia mengetuk satu sudut. “Zona timur laut paling parah. Untuk gempa rencana periode ulang dua ribu lima ratus tahun, kira-kira setara 7,2 di sesar terdekat, penurunan tak seragam di zona itu bisa mencapai delapan belas sentimeter. Sambungan tiang dan rakit di sana punya probabilitas gagal sekitar tiga puluh empat persen.”
Hening.
“Saya nggak akan tanda tangan untuk tiga puluh empat persen,” lanjutnya. “Saya juga nggak akan tanda tangan untuk tiga persen.”
Aku merasakan darahku naik ke pipi. Bukan malu. Belum. Itu marah.
“Pak Zayyan,” kataku, berusaha supaya suaraku tetap tenang, “analisis kami memakai data penyelidikan tanah dari empat belas titik bor. Asumsi lempung lunak di zona timur laut nggak didukung data.”
Dia menatapku untuk pertama kalinya.
Tatapannya lurus, tanpa basa-basi, dan sama sekali nggak terpengaruh. Aku sudah terbiasa ditatap laki-laki. Biasanya mereka terpesona, gugup, atau sok berani. Dia bukan ketiganya. Dia menatapku seperti menatap gambar kerja: membaca, mengukur, mencatat.
“Dua belas,” katanya.
“Maaf?”
“Data Anda dari dua belas titik bor, Bu Rose. Bukan empat belas.” Dia membalik ke lampiran laporan tanah, lalu mengangkat dua lembar sekaligus. “BH-13 dan BH-14, dua titik di zona timur laut, nilai N-SPT-nya identik dengan BH-07. Sama persis di setiap kedalaman, sampai desimal.” Dia meletakkan kertas itu. “Tanah nggak sesopan itu. Dua titik itu disalin dari titik lain. Lapisan lempung di zona timur laut nggak pernah diuji.”
Seseorang di belakangku menelan ludah cukup keras sampai terdengar.
Aku menunduk ke laptop Tiara, membuka lampiran yang sama, dan membandingkan.
Dia benar.
Angkanya sama. Setiap baris, setiap kedalaman. Bagaimana mungkin nggak ada satu pun dari kami, nggak aku, nggak tiga konsultan, nggak tim internal, yang melihatnya selama delapan bulan?
Dan dia melihatnya sambil membolak-balik kertas seperti membaca menu.
“Desain Anda bagus, Bu Rose,” katanya. Nadanya sama sekali nggak berubah. “Cuma bakal roboh. Itu dua hal yang beda.”
Kalimat itu menancap di dadaku seperti paku.
Prof. Harun berdeham panjang. “Baik. Terima kasih, Dr. Zayyan. Kalau begitu,” ia membetulkan kacamata, kelihatan nggak enak hati, “hasil sidang hari ini: perbaikan. Pemohon diminta melakukan penyelidikan tanah ulang di zona timur laut dan meninjau kembali desain pondasi. Sidang berikutnya dijadwalkan setelah dokumen perbaikan masuk.”
Perbaikan.
Bukan disahkan. Perbaikan.
Di sebelahku, Tiara berbisik sangat pelan, “Empat menit dua belas detik, Bu.”
“Apa?”
“Dari dia bilang ‘ada, satu’ sampai Prof. Harun bilang ‘perbaikan’. Saya hitung.” Ia meringis. “Maaf, Bu. Refleks. Saya panik, jadi saya ngitung.”
Aku nggak tahu harus tertawa atau menangis.
Aku menyusulnya di depan lift.
Aku nggak merencanakannya. Kakiku berjalan sendiri, meninggalkan Kevin yang sedang menelepon konsultan sambil menggerutu, meninggalkan Tiara yang sibuk membereskan kabel proyektor.
Dia berdiri sendirian menunggu lift, kacamatanya dilepas. Dia sedang membersihkan lensanya dengan sehelai sapu tangan.
Sapu tangannya aneh. Kainnya sudah kusam, warna putihnya berubah jadi gading tua, ujung-ujungnya mulai berbulu. Di satu sudut ada bordiran kecil berwarna merah muda pudar, terlalu samar untuk kubaca. Sapu tangan seperti itu biasanya dipakai nenek-nenek, bukan pria dengan gelar Ph.D. yang baru saja menghancurkan dua tahun kerjaku.
“Pak Zayyan.”
Dia menoleh. Tanpa kacamata, matanya kelihatan lebih gelap, dan tatapannya sedikit nggak fokus. Untuk sedetik dia kelihatan lebih muda. Hampir manusiawi.
Lalu dia memasang kacamatanya lagi, dan wajah datar itu kembali.
“Bu Rose.”
“Anda bisa menyampaikan temuan itu secara tertulis,” kataku. “Nggak perlu di depan semua orang.”
“Kalau tertulis, Anda baca dua minggu lagi. Kalau lisan, Anda dengar hari ini.” Dia melipat sapu tangan itu dengan rapi dan sangat hati-hati, lalu memasukkannya ke saku kemeja. “Gempa nggak nunggu dua minggu.”
“Anda tahu siapa saya?”
Pertanyaan itu keluar lebih angkuh dari yang kuniatkan. Aku langsung menyesalinya. Tapi dia nggak kelihatan tersinggung. Dia malah menjawab, seolah itu pertanyaan ujian.
“Tahu. Rose Florence Weston. Dua puluh tujuh tahun. Managing Director Weston Construction sejak dua tahun lalu. Sarjana teknik sipil, cum laude. Tugas akhir Anda tentang perilaku sambungan balok-kolom pada gempa siklik.”
Aku terdiam.
Tugas akhirku. Bahkan ayahku nggak ingat judul tugas akhirku.
“Bagaimana Anda—”
“Saya membacanya.” Pintu lift berdenting terbuka. Dia melangkah masuk, lalu berbalik menghadapku. “Dan Anda tadi benar soal satu hal.”
“Apa?”
“Desainnya bagus.”
Pintu lift menutup.
Aku berdiri di depan pintu besi yang memantulkan wajahku sendiri. Pipiku merah. Aku nggak tahu itu marah, malu, atau sesuatu yang jauh lebih menyebalkan dari keduanya.
“Nggak ada Instagram,” lapor Tiara di mobil. Ponselnya dipegang dua tangan, wajahnya serius seperti detektif. “Nggak ada TikTok. Nggak ada Facebook. LinkedIn-nya nggak pakai foto, cuma tulisan ‘Structural Engineer’ sama daftar publikasi. Publikasinya, Bu…” Ia menggulir. “Tiga puluh satu. Judulnya panjang-panjang semua. Saya baca satu, kepala saya pusing.”
“Nama lengkapnya?”
“Cuma ‘Zayyan F.’ di semua tempat. Kayak nyembunyiin sesuatu.”
“Atau memang nggak peduli.”
“Itu lebih serem, Bu.” Tiara menggulir lagi, lalu mendadak tertawa. “Ya ampun. Saya nemu satu foto. Lomba jembatan stik es krim tingkat nasional, tahun 2011. Juara satu.” Ia menyodorkan ponselnya.
Di layar ada foto buram seorang remaja kurus berseragam SMA, memegang piala di sebelah jembatan kecil dari stik es krim. Semua orang di sekitarnya tersenyum lebar. Dia nggak. Wajahnya persis sama dengan yang tadi: datar, tenang, seperti sedang menunggu foto ini cepat selesai supaya dia bisa pulang.
“Dari kecil udah begitu mukanya,” kata Tiara kagum. “Konsisten banget. Saya respek.”
Kevin, yang duduk di depan sebelah sopir, mendengus. “Orang kayak gitu cuma cari panggung. Nolak proyek besar biar namanya naik. Minggu depan pasti dia nongol di seminar, cerita soal ‘menyelamatkan Jakarta dari Weston Tower.’”
“Kevin.” Suaraku dingin. “BH-13 dan BH-14 itu disalin. Siapa yang menyalin?”
Hening sebentar.
“Konsultan tanah,” kata Kevin akhirnya. “Nanti aku urus.”
“Dan siapa yang menyetujui perubahan pondasi dari versi Maret?”
“Kamu, Rose. Tanda tanganmu ada di memo.”
Aku menatap jendela.
Itu benar. Kevin membawakan memo optimasi itu bulan April, lengkap dengan analisis biaya dan rekomendasi konsultan. Aku membacanya di sela tiga rapat lain dan menandatanganinya karena angkanya masuk akal dan semua orang bilang aman.
Aku menandatanganinya tanpa memeriksa ulang.
Rasanya seperti ditampar dua kali: sekali oleh laki-laki berkacamata itu, sekali oleh diriku sendiri.
“Tiara,” kataku pelan.
“Ya, Bu?”
“Cari tahu siapa dia. Semuanya. Keluarganya, dari mana asalnya, kenapa orang secerdas itu mau duduk di kursi paling ujung.”
Tiara mengangguk cepat dan langsung mengetik. Di kaca jendela mobil, bayangan Jakarta yang macet bergerak lambat. Aku memejamkan mata dan mendengar suaranya lagi.
Desain Anda bagus. Cuma bakal roboh.
Aku nggak tahu bahwa tiga hari lagi, di peringatan sepuluh tahun wafat kakekku sendiri, aku akan mendapatkan jawabannya.
Dan jawabannya jauh lebih buruk dari yang kubayangkan.