← Alasannya Apa, Jey?

Chapter Five

Ujian di Atas Serbet

POV: Zayyan

Catatan Observasi — Rabu

Undangan rapat direksi Weston Construction. Pengirim: Kevin Weston, Direktur Operasional.
Isi undangan: “klarifikasi teknis”.
Isi sebenarnya: probabilitas jebakan 87%.
Keputusan: hadir.
Alasan: undangan resmi kepada anggota tim ahli wajib dipenuhi sesuai prosedur.
Alasan kedua: [tidak ditulis]

“Kamu mau datang ke kandang singa,” kata Kak Zahra tanpa mengangkat kepala dari jurnal bedah yang ia baca sambil sarapan, “tanpa pelindung.”

“Aku bawa laptop.”

“Itu bukan pelindung. Itu target.”

Ziad muncul dari dapur dengan roti di mulut dan dua kaus kaki yang beda warna. “Jey. Jey. Dengar. Kalau mereka nyerang lo pakai pertanyaan teknis, lo jawab. Kalau nyerang pakai hinaan, lo diam. Kalau nyerang pakai Subjek R…” Ia menyeringai. “Lo telepon gue. Gue mau nonton.”

“Nggak ada yang akan menyerang pakai Subjek R.”

“Itu yang lo pikir.” Ziad menunjukku dengan roti. “Video lo meluk dia sepuluh detik udah ditonton dua ratus ribu kali, Bro. Di TikTok ada yang bikin versi slow motion pakai lagu galau.”

Aku berhenti mengikat tali sepatu.

“Sepuluh detik itu waktu yang dibutuhkan untuk memastikan nggak ada serpihan kristal lanjutan yang jatuh.”

“Lo ngomong gitu ke dua ratus ribu orang?”

Zia, yang sedang menyeduh teh di sudut dapur, berkata dengan lembut, “Jey. Serpihan terakhir jatuh di detik ketiga. Aku sudah tonton videonya dua puluh kali.”

Aku menatapnya.

Zia tersenyum dan meniup tehnya.

Aku berangkat tanpa sarapan.


Kantor pusat Weston Construction ada di Sudirman, gedung tiga puluh delapan lantai berlapis kaca biru gelap. Aku tahu gedung ini. Aku tahu sistem strukturnya, rasio inti terhadap luas lantai, dan bahwa dinding geser di lantai dua puluh pernah diperkuat tahun 2019 karena retak akibat penurunan tanah.

Aku tahu karena aku pernah mengecek ulang semua perhitungannya.

Nggak ada yang memintaku. Nggak ada yang tahu.

Ruang rapat direksi di lantai tiga puluh tujuh. Meja oval panjang dari kayu jati. Layar raksasa di ujung. Dua puluh kursi, dan hampir semuanya terisi: direktur keuangan, direktur pemasaran, direktur pengembangan bisnis, sepuluh insinyur senior dari divisi teknik. Lalu Kevin Weston di sisi kanan kepala meja, dengan senyum yang lebarnya sudah ia ukur sebelum bercermin.

Di kepala meja, Hendra Weston duduk dengan tangan terlipat.

Di sebelah kirinya, dia.

Hari ini blazer hitam. Rambutnya digelung tinggi, memperlihatkan leher. Ada plester tipis warna kulit di lengan kirinya, bekas goresan kristal malam itu. Ia sedang menggigit ujung pulpen. Kebiasaan itu sudah kucatat sejak sidang. Ia selalu menggigit pulpen di detik ketiga sebelum mengambil keputusan.

Dia menatapku waktu aku masuk. Tatapannya cepat, lalu turun ke dokumen di depannya.

Detak jantungku: delapan puluh empat.

Kopi pagi ini nol gelas. Hipotesis kafein gugur.

“Dr. Zayyan,” Kevin berdiri dan membuka tangan seperti pembawa acara. “Selamat datang. Silakan duduk.”

Kursi yang disediakan untukku ada di ujung meja yang berlawanan dengan Hendra Weston. Kursi paling jauh, dekat pintu. Itu bukan kebetulan, tapi aku nggak keberatan. Dari posisi itu aku bisa melihat semua wajah sekaligus, termasuk wajahnya.

“Terima kasih.”

“Kami mengundang Anda,” kata Kevin, “karena temuan Anda di sidang membuat tim kami bertanya-tanya. Anda bilang pondasi kami bermasalah. Tim teknik kami terdiri dari insinyur-insinyur terbaik yang sudah bekerja belasan tahun. Kami ingin mendengar penjelasan Anda langsung.” Ia tersenyum. “Dan, kalau Anda nggak keberatan, kami juga punya satu pertanyaan kecil di luar Weston Tower. Anggap saja studi kasus.”

“Silakan.”

Kevin memberi isyarat. Layar menyala.

“Weston Harbour Residence. Apartemen dua puluh lima lantai di Pluit, Jakarta Utara. Basement tiga lantai. Dinding penahan tanahnya bergeser enam sentimeter dalam tiga bulan terakhir. Retak di beberapa titik. Tim kami sudah menambah angkur tanah, sudah memperkuat dinding, sudah melakukan semua prosedur standar.” Kevin menyilangkan tangan. “Pergeserannya nggak berhenti. Malah makin cepat. Tiga bulan kami cari solusinya.” Senyumnya melebar. “Kalau Anda bisa memberi pencerahan, kami akan sangat berterima kasih.”

Seorang insinyur senior di sebelah Kevin, pria paruh baya berkacamata tebal, kelihatan tersinggung tapi diam. Beberapa orang lain bertukar pandang.

Aku mengerti.

Masalahnya nyata. Kevin nggak mengharapkan aku menyelesaikannya. Ia mengharapkan aku gagal, di depan sepuluh insinyur senior, supaya semua orang di ruangan ini menyimpulkan bahwa anggota tim ahli muda yang menolak Weston Tower cuma beruntung.

Dan di kepala meja, dia menatapku. Pulpennya berhenti di bibir.

“Boleh saya lihat data pemantauannya?” tanyaku.

Kevin mengangkat alis, sedikit terkejut aku nggak menolak. “Tentu.”

Insinyur berkacamata tebal itu, Pak Rudy dari papan namanya, menggeser setumpuk dokumen ke arahku. Data inklinometer. Data piezometer. Log pemasangan angkur. Gambar potongan tanah. Foto retakan.

Aku membacanya.

Ruangan diam. Seseorang mengetuk-ngetuk meja dengan jari. Kevin melirik jam tangannya dengan gerakan berlebihan.

Tiga menit kemudian, pintu terbuka dan dua pelayan masuk membawa troli kopi. Jeda istirahat, sesuai agenda. Mereka meletakkan cangkir di depan setiap orang, lengkap dengan serbet kain putih yang dilipat segitiga.

Aku mengambil serbet di depanku, membukanya, dan menghamparkannya di atas dokumen. Kain putih, permukaan rata, ukuran empat puluh kali empat puluh sentimeter.

Lalu aku mulai menggambar.

“Dr. Zayyan,” suara Kevin geli, “kami punya kertas, lho. Dan papan tulis.”

“Ini lebih dekat.”

Aku menggambar potongan tanah. Dinding penahan. Angkur-angkur yang ditambahkan dalam tiga bulan. Lalu satu garis putus-putus di bagian atas: muka air tanah.

Di sisi kanan gambar, di luar batas proyek, aku menggambar kotak kecil dan menulis satu kata.

Tetangga.

“Enam sentimeter dalam tiga bulan,” kataku. Aku nggak menaikkan suara, tapi bunyi sendok di cangkir-cangkir berhenti. “Pergeserannya dimulai bulan Juli. Data piezometer menunjukkan muka air tanah di sisi timur turun dua koma tiga meter sejak Juni. Sisi barat stabil. Proyek Anda nggak melakukan dewatering di sisi timur sejak Mei.” Aku mengetuk kotak kecil di serbet. “Berarti ada yang menyedot air dari luar. Di sebelah timur proyek Anda ada lahan kosong. Dari citra satelit bulan Juni, lahan itu mulai dibangun. Pondasi dalam. Mereka melakukan dewatering besar-besaran.”

Pak Rudy mencondongkan badan.

“Tanah di Pluit itu lempung lunak jenuh air,” lanjutku. “Kalau airnya disedot, tanahnya mampat. Konsolidasi. Tanah di belakang dinding Anda turun dan menekan ke arah dalam. Tim Anda menambah angkur.” Aku mencoret angkur-angkur di gambarku satu per satu. “Tapi angkurnya ditanam di lapisan lempung yang sama, yang sedang bergerak. Itu seperti menahan pintu yang didorong dengan memaku engselnya ke tembok yang ikut didorong. Setiap angkur baru menambah beban vertikal ke tanah yang sedang mampat. Itu kenapa pergeserannya makin cepat.”

Hening total.

Aku menggambar tiga hal lagi di serbet itu, cepat, sambil menjelaskan.

“Satu. Hentikan penambahan angkur. Dua. Pasang sumur resapan di sisi timur, di dalam batas proyek Anda, untuk mengembalikan muka air tanah. Koordinasi dengan proyek tetangga supaya dewatering mereka dipantau. Kalau perlu, laporkan ke dinas, karena dewatering mereka kemungkinan melanggar izin. Tiga. Kalau masih perlu angkur, jangan di lempung. Lapisan pasir padat di data bor Anda mulai di kedalaman delapan belas meter. Angkur ke sana, lebih panjang, lebih sedikit. Empat buah per bentang, bukan sebelas.”

Aku meletakkan pulpen.

“Pantau inklinometer harian selama dua minggu. Pergeserannya seharusnya melambat dalam tujuh sampai sepuluh hari setelah sumur resapan beroperasi.”

Pak Rudy menarik serbet itu ke arahnya. Ia menatap gambarku lama. Lalu ia membuka laptopnya, mengetik cepat, membuka citra satelit, dan memperbesar lahan di sebelah timur Weston Harbour.

Ada crane. Ada lubang galian besar. Ada pompa.

“Ya Tuhan,” gumam Pak Rudy. “Tiga bulan…” Ia menoleh ke rekannya. “Tiga bulan kita lihat ke dalam. Nggak ada yang lihat ke sebelah.”

Di kepala meja, Hendra Weston nggak bergerak. Tapi matanya menyipit, dan itu bukan tatapan meremehkan lagi. Itu tatapan orang yang sedang menghitung ulang.

“Berapa lama?” tanya seseorang di ujung meja.

Di sebelahku, seorang perempuan muda dengan rambut setengah dicepol mengangkat ponselnya. Aku mengenalinya sebagai asisten yang duduk di belakang dia waktu sidang.

“Enam menit, empat puluh detik,” bisiknya, terlalu keras. Lalu ia menutup mulutnya sendiri. “Maaf. Refleks.”

Seseorang tertawa kecil. Lalu yang lain.

Kevin nggak tertawa.

Ia berdiri, wajahnya sedikit merah, dan senyumnya tinggal separuh.

“Analisis yang menarik,” katanya. “Sangat teoritis. Tapi lapangan itu beda, Dr. Zayyan. Lapangan butuh pengalaman, bukan cuma buku.” Ia tertawa, berusaha santai. “Maklum lah. Anak guru fisika. Kebiasaan ngajarin orang. Tapi Weston bukan murid SMA.”

Beberapa orang berhenti tertawa.

Aku menatap Kevin. Lalu menatap serbet di tangan Pak Rudy.

Biasanya aku diam. Hinaan itu data yang nggak berguna, dan menanggapinya membuang waktu. Tapi ada kata-kata yang nggak berguna dan ada kata-kata yang menyentuh ayahku, dan aku sudah lama memutuskan bahwa kategori kedua harus ditanggapi.

“Guru fisika itu yang ngajarin konsep beban, Pak Kevin,” kataku. “Gaya, reaksi, keseimbangan. Pelajaran kelas sepuluh.”

Aku meraih cangkir kopiku dan menyesapnya. Pahit, terlalu panas.

“Pantas Anda nggak paham kenapa dinding Anda geser.”

Ruangan itu meledak.

Bukan secara harfiah. Tapi seseorang tersedak kopi. Dua insinyur muda di ujung meja menunduk sambil bahunya berguncang. Direktur keuangan, perempuan setengah baya berwajah serius, menutup mulut dengan tangan dan pura-pura batuk. Asisten di sebelahku memukul-mukul lututnya sendiri tanpa suara.

Pak Rudy menatapku dengan ekspresi yang baru pertama kali kulihat dari orang yang lebih tua dariku di dunia konstruksi.

Hormat.

Kevin berdiri kaku. Mulutnya terbuka, menutup, terbuka lagi. Lalu ia duduk tanpa mengatakan apa-apa.


Setelah itu rapat berjalan lebih cepat dari jadwal. Aku menjelaskan ulang temuan Weston Tower dengan detail. Kali ini nggak ada yang menyela. Pak Rudy bertanya tiga hal, semua relevan. Hendra Weston nggak bertanya apa-apa. Ia hanya menatapku selama empat puluh menit dengan wajah orang yang sedang membaca kontrak yang nggak ia suka.

Dan dia?

Dia nggak bertanya. Dia mendengarkan. Pulpennya terus berada di bibirnya, tapi nggak lagi digigit. Hanya ditempelkan, seolah ia lupa sedang memegangnya.

Dua kali, waktu aku menjelaskan efek kelompok tiang, matanya bergerak ke layar laptop di depannya. Aku bisa melihat pantulannya di kaca jendela di belakangnya. Itu desain konsep versi Maret. Polanya rapat. Seperti jaring.

Dia sedang membandingkan.

Dia sudah tahu aku benar sebelum aku datang ke ruangan ini.

Aku nggak tahu kenapa itu membuat dadaku hangat dengan cara yang nggak bisa kujelaskan secara termodinamika.

Pukul sebelas lewat dua puluh, Hendra Weston menutup rapat dengan satu kalimat.

“Terima kasih, Dr. Zayyan. Tim kami akan mempelajarinya.”

Itu bukan terima kasih. Itu cara orang kaya mengusir tamu dengan sopan. Aku mengangguk dan membereskan dokumen.

Orang-orang keluar satu per satu. Pak Rudy berhenti di sebelahku, menjabat tanganku dengan kedua tangan.

“Kapan-kapan,” katanya pelan, “saya boleh telepon Bapak?”

“Boleh, Pak.”

Ia pergi dengan serbet itu terlipat rapi di saku kemejanya, seperti membawa dokumen penting.

Lalu tinggal aku, asisten berambut setengah dicepol yang pura-pura sibuk mengatur kursi, dan dia.

Dia berdiri dari kepala meja. Merapikan blazer. Berjalan pelan mengitari meja oval itu, dari ujung sana ke ujung sini, dengan langkah yang sangat terukur. Hak sepatunya berbunyi di lantai kayu. Satu, dua, tiga… sebelas langkah.

Ia berhenti tepat di depanku. Jaraknya enam puluh sentimeter. Dari jarak ini aku bisa mencium parfumnya. Sesuatu yang segar dengan sedikit rasa pahit di ujungnya. Seperti jeruk yang kulitnya ikut diperas.

“Pak Zayyan.”

“Bu Rose.”

“Ruangan saya.” Ia menatapku lurus, mata cokelat terangnya tajam seperti ujung pisau. “Sekarang.”

Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu tanpa menunggu jawaban.

Asisten di belakangku menjatuhkan kursi.

Aku berdiri diam satu detik.

Detak jantungku: sembilan puluh enam.

Kopi yang kuminum tadi cuma tiga teguk. Secara farmakologis, itu nggak cukup untuk menjelaskan sembilan puluh enam.

Aku tetap mencatatnya, dalam kepala, sebagai efek kafein.

Lalu aku mengambil tas dan mengikutinya.