Chapter Two
Catatan Observasi: Subjek Marah
POV: Zayyan
Catatan Observasi — Senin
Subjek: R.
Lokasi: Ruang Sidang TABG, lantai 9.
Durasi presentasi: 40 menit 17 detik. Tidak ada jeda “eee”. Tidak membaca slide.
Kontak mata dengan saya: 4,2 detik. Rahang mengeras di detik kedua.
Status emosional: marah.
Tetap cantik. [dicoret: tidak relevan]
Tindak lanjut: tidak ada.
Aku menutup buku itu sebelum Ziad sempat mengintip.
Terlambat setengah detik.
“Subjek R,” baca kakakku keras-keras dari balik bahuku. Ia menarik kursi di sebelahku dan duduk terbalik, dagu di sandaran. “Wah. Wah, wah, wah. Jey punya subjek. Ibu! Jey punya subjek!”
“Itu catatan kerja.”
“Catatan kerja nggak pakai kata ‘cantik’, Jey.”
“Itu dicoret.”
“Justru yang dicoret itu yang paling jujur.” Ziad nyengir. “Itu teori gue. Belum dipublikasi, tapi valid.”
Aku memasukkan buku itu ke tas dan memutuskan nggak melanjutkan percakapan. Dengan Ziad, setiap jawaban hanya menambah bahan bakar. Itu bukan teori. Itu hasil pengamatan selama dua puluh sembilan tahun.
Rumah kami ada di Rawamangun. Dua lantai, cat hijau yang sudah pudar jadi warna lumut, pagar besi yang berbunyi setiap kali dibuka. Ayah membelinya tahun 1995 dengan uang tabungan guru, dan sampai sekarang belum lunas sepenuhnya karena atapnya bocor tiap tahun dan Ayah selalu memilih memperbaikinya sendiri.
Meja makan kami cukup untuk delapan orang kalau semua menahan siku.
Malam itu kami bertujuh. Ayah di ujung, masih memakai kemeja batik dari sekolah. Ibu di sebelahnya, sibuk mengatur piring berisi ayam goreng, sayur asem, dan sambal terasi yang aromanya bisa membangunkan tetangga. Nenek Halimah di kursi rotan khusus yang punya bantal tambahan. Lalu kami berempat: Kak Zahra, Ziad, Zia, dan aku.
“Pergi ke pasar membeli tomat,” kata Ayah sambil mengambil nasi. Ia diam sebentar dengan dramatis. “Gaya gesek bikin gerak lambat.”
Hening.
“Ayah,” kata Zia lembut, “itu nggak rima.”
“Tomat, lambat. Rima.”
“Itu asonansi, Yah. Bukan rima.”
“Murid-murid saya ketawa.”
“Murid-murid Ayah takut nilai, Yah.”
Ayah mengangguk pelan, menerima kekalahan dengan martabat seorang guru fisika yang sudah mengajar tiga puluh satu tahun dan memakai pantun gagal sebagai metode pengajaran. Ibu menepuk tangannya penuh simpati.
“Pantunmu bagus, Mas,” kata Ibu. “Yang salah tomatnya.”
“Duduk yang benar,” kata Kak Zahra ke Ziad, tanpa melihat. “Kursi itu bukan kuda. Siku di meja maksimal sepuluh detik. Makan, jangan ngomong.”
Kak Zahra dokter bedah. Ia bicara di meja makan dengan nada yang sama seperti di ruang operasi: instruksi, singkat, dan tidak bisa dibantah. Ziad membalik kursinya dengan gerakan berlebihan, lalu duduk dengan punggung tegak seperti siswa yang dihukum.
“Kak, aku punya kabar penting,” kata Ziad. “Grup alumni teknik heboh. Katanya Jey bikin anak triliuner nangis di sidang TABG.”
“Dia nggak nangis,” kataku.
“Tapi beneran anak triliuner?”
“Managing Director.”
“Weston?” tanya Ibu.
Sendok Ibu berhenti di tengah jalan menuju piring Ayah. Ayah ikut berhenti mengunyah. Bahkan Kak Zahra mengangkat kepala.
Di kursi rotan, Nenek Halimah membuka matanya yang sejak tadi setengah terpejam.
Aku mengangguk. “Weston Tower. Saya, aku, merekomendasikan perbaikan.”
“Kenapa?” tanya Ayah.
Ayah satu-satunya orang di rumah ini yang pertanyaannya selalu kujawab lengkap. Ia yang mengajariku bahwa setiap benda punya alasan untuk tetap berdiri atau jatuh, dan tugas kita adalah menemukan alasan itu sebelum benda itu menemukan kita.
“Pondasinya diubah dari desain konsep. Jarak tiang diperlebar, diameter dikecilkan. Di zona timur laut ada lapisan lempung lunak yang nggak diuji. Data dua titik bornya disalin dari titik lain.”
Ayah mengangguk pelan. Ia nggak bertanya lebih jauh. Tapi ia melirik Nenek.
Aku melihat lirikan itu. Aku selalu melihat lirikan seperti itu. Masalahnya, aku nggak selalu tahu artinya.
“Kamu menyebut ‘dia’ tiga kali tadi,” kata Zia tiba-tiba.
Aku menoleh. Zia, kakak ketigaku, psikolog klinis, sedang mengupas tempe goreng dengan gerakan sangat santai. Terlalu santai. Itu tandanya ia sedang menganalisis.
“Kapan?”
“Waktu cerita di teras tadi sore ke Ayah. ‘Dia presentasi empat puluh menit.’ ‘Dia nggak membaca slide.’ ‘Dia benar soal satu hal.’” Zia menggigit tempenya. “Biasanya kamu menyebut orang pakai jabatan. ‘Ketua panel.’ ‘Konsultan struktur.’ ‘Direktur Operasional.’ Bukan ‘dia’.”
“Itu variasi linguistik.”
“Itu data, Jey.”
“Data dengan sampel tiga nggak signifikan.”
“Sampelnya memang tiga,” Zia tersenyum. “Tapi kamu belum pernah punya sampel satu pun sebelumnya.”
Ziad bersiul panjang. Kak Zahra menendang kakinya di bawah meja tanpa mengubah ekspresi. Ibu menyodorkan sambal ke arahku dengan wajah penuh harap yang sangat nggak halus.
“Dia cantik, Nak?” tanya Ibu.
Aku mengambil sambal.
“Bu, itu nggak relevan.”
“Berarti cantik,” simpul Ibu, puas.
Setelah makan, aku naik ke kamarku.
Kamarku di lantai dua, paling ujung, menghadap jemuran tetangga. Ukurannya tiga kali tiga setengah meter. Isinya kasur, meja kerja, dua rak buku penuh jurnal dan buku teks gempa, dan satu lemari kayu jati tua yang dulu milik Kakek.
Aku membuka lemari itu.
Di rak paling bawah, di balik tumpukan selimut cadangan, ada map plastik tebal. Aku nggak perlu membukanya untuk tahu isinya. Tapi aku membukanya juga.
Fotokopi gambar tangan. Kertasnya sudah kuning, garisnya dari pensil dan tinta, tulisannya miring ke kanan dengan huruf “g” yang ekornya selalu melengkung terlalu panjang. Pola tiang-tiang yang tersusun rapat, saling mengunci dengan balok pengikat dalam formasi seperti jala. Di pojok kanan bawah ada tahun yang sudah setengah pudar: 1983.
Waktu aku kecil, gambar aslinya tergantung di dinding kamar Kakek. Aku sering berdiri di depannya lama sekali, menghitung jumlah tiangnya, sampai Kakek menepuk kepalaku dan bilang, “Kamu lihat apa, Nak?”
“Kenapa tiangnya rapat-rapat, Kek?”
“Supaya kalau satu capek, yang lain bantu pegang.”
Desain konsep Weston Tower versi Maret, yang tadi pagi kubilang benar, memakai pola ini.
Versi yang diajukan hari ini sudah merusaknya. Tiangnya dijarangkan. Dibuat bekerja sendiri-sendiri. Kalau satu capek, nggak ada yang bantu pegang.
Aku menatap gambar itu lama. Lalu kumasukkan kembali ke map, ke bawah selimut, dan kututup lemarinya.
Itu bukan urusanku. Itu janji keluarga.
Aku sudah berjanji pada Nenek untuk nggak membicarakannya.
Ketukan pelan di pintu.
“Masuk.”
Nenek Halimah berdiri di ambang pintu. Badannya kecil dan bungkuk, kerudungnya putih bersih. Tangannya berpegangan pada kusen. Umurnya delapan puluh tahun, tapi matanya masih tajam. Di keluarga ini, semua kecerdasan kami katanya turun dari Kakek. Aku curiga sebagian besar sebenarnya turun dari Nenek, dan Kakek cuma pintar mengambil kredit.
“Weston lagi,” kata Nenek.
“Iya, Nek.”
Ia masuk perlahan dan duduk di tepi kasurku. Aku duduk di kursi kerja, menghadapnya.
“Kamu nggak bilang apa-apa, kan? Selain soal pondasi.”
“Nggak, Nek.”
“Bagus.” Nenek menepuk lututku. “Yang lain, jangan. Kakekmu sudah minta. Kita jaga.”
“Nek.” Aku jarang bertanya soal ini. Aku tahu jawabannya selalu sama. Tapi malam ini aku bertanya juga. “Alasannya apa? Masih harus dijaga sampai kapan?”
Nenek tersenyum. Senyumnya lelah tapi lembut.
“Sampai yang dijaga nggak butuh dijaga lagi, Nak.”
Itu bukan jawaban. Secara logika, itu definisi melingkar. Tapi aku nggak membantah. Ada beberapa orang di dunia ini yang kalimat nggak logisnya tetap kuterima. Daftarnya pendek sekali.
Nenek berdiri. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.
“Anak perempuan itu,” katanya, “masih cantik?”
Aku membuka mulut. Menutupnya lagi.
Nenek tertawa kecil, tawa yang jarang sekali kudengar, lalu berjalan pelan ke kamarnya tanpa menunggu jawaban.
Lima menit kemudian, pintu kamarku terbuka lagi. Kali ini tanpa ketukan.
“Jey.” Ziad menyelinap masuk dengan laptop di tangan, lalu duduk di lantai bersandar ke kasur seolah ini kamarnya sendiri. “Gue riset.”
“Riset apa?”
“Subjek R.” Ia memutar laptopnya ke arahku. “Website resmi Weston Construction. Halaman ‘Leadership’. Foto profil Managing Director.”
Aku nggak melihat layar.
“Jey. Lihat.”
“Aku sudah lihat orangnya langsung. Data primer lebih valid dari data sekunder.”
Ziad melongo. Lalu ia menatap layar, menatapku, menatap layar lagi.
“Bro,” katanya pelan, penuh rasa hormat. “Lo barusan nolak lihat foto cewek secantik ini pakai argumen metodologi penelitian.”
“Itu argumen yang benar.”
“Itu argumen orang yang udah hafal mukanya.” Ziad menyipitkan mata. “Lo udah hafal mukanya?”
Aku mengambil jurnal di meja dan membukanya di halaman acak.
“Jey.”
“Aku sedang membaca.”
“Jurnal lo kebalik.”
Aku melihat jurnal di tanganku. Judul artikelnya memang terbalik.
Ziad tertawa sampai berguling di lantai. Ia tertawa begitu keras sampai Kak Zahra menggedor dinding dari kamar sebelah, dan Ibu berteriak dari bawah menanyakan apakah ada yang jatuh dari tangga.
“Nggak, Bu!” teriak Ziad, masih tersengal. “Yang jatuh cuma Jey! Tapi bukan dari tangga!”
Aku membalik jurnal itu ke posisi yang benar dan memutuskan untuk menganggap Ziad sebagai gangguan akustik sampai ia keluar sendiri. Butuh tiga menit dua puluh detik.
Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi.
“Serius, Jey,” katanya, kali ini tanpa bercanda. “Kalau keluarga itu nyakitin lo, bilang gue. Gue bisa bikin semua lampu di rumah mereka nyala-mati kayak diskotek.”
“Itu ilegal.”
“Makanya gue nawarin, bukan ngelakuin.” Ia mengedipkan sebelah mata dan menghilang.
Jam sepuluh malam, Ibu naik membawa amplop.
“Undangan,” katanya. “Datang tadi siang, kurir dari Menteng.” Ia meletakkannya di mejaku. Kertasnya krem tebal, dengan lambang huruf W bersepuh emas. “Peringatan sepuluh tahun wafatnya Pak Arthur. Sabtu malam.”
“Kita diundang tiap tahun.”
“Dan tiap tahun kita datang, lalu tiap tahun kita dihina.” Ibu menghela napas, tapi bibirnya tersenyum tipis. “Ibu bawa kue lapis lagi. Tahun lalu Bu Miranda bilang kue Ibu kayak kue pasar. Ya memang kue pasar. Ibu jualannya di pasar.”
“Kenapa kita tetap datang, Bu?”
Pertanyaan itu sudah kutanyakan sejak umur dua belas. Jawabannya juga selalu sama.
“Karena Kakek minta.”
Ibu mengusap rambutku, seperti waktu aku masih kecil, lalu keluar.
Aku menatap undangan itu.
Secara logis, aku nggak perlu datang. Aku sudah menjalankan tugasku sebagai anggota tim ahli. Datang ke rumah keluarga yang proyeknya baru saja kutolak, ke acara yang dalam sepuluh tahun terakhir selalu berakhir dengan Ibu menyetir pulang sambil diam, nggak punya nilai tambah apa pun.
Probabilitas acara itu berjalan buruk: tinggi.
Probabilitas aku bertemu dia di sana: hampir pasti.
Aku mengambil buku observasi dari tas. Kubuka bukan di halaman terakhir, tapi di halaman pertama.
Halaman pertamanya sudah menguning. Tulisannya besar-besar, miring, dengan huruf “R” yang terlalu tebal karena ditekan terlalu keras. Tulisan anak sembilan tahun.
Aku nggak membacanya. Aku sudah hafal isinya.
Aku membalik ke halaman terakhir, mengambil pulpen, dan menulis satu baris baru.
Sabtu: hadir.
Alasan: Kakek minta.
Aku menatap kalimat itu, lalu menambahkan satu baris lagi di bawahnya, lebih kecil.
Alasan kedua: [tidak ditulis]
Lalu aku melepas kacamata dan mengambil sapu tangan dari saku kemeja.
Kainnya sudah tipis. Kalau diterawang ke lampu, cahayanya tembus. Bordiran di sudutnya hampir hilang, benangnya tinggal setengah. Tiga huruf yang dulu merah muda terang sekarang lebih mirip bayangan.
Aku nggak perlu melihatnya untuk tahu bunyinya.
Aku membersihkan lensa kacamataku pelan-pelan, satu sisi, lalu sisi yang lain. Kebiasaan dua puluh tahun. Lalu kulipat sapu tangan itu menjadi empat, persis di lipatan yang sama seperti biasa, dan kumasukkan kembali ke saku.
Di bawah, terdengar suara Ziad berteriak ke Zia.
“Taruhan! Gocap! Sabtu nanti Jey ngomong sama Subjek R lebih dari sepuluh kalimat!”
“Seratus ribu,” jawab Zia. “Lebih dari dua puluh.”
“Kalian berdua,” suara Kak Zahra memotong dari kamar mandi, “tidur. Sekarang.”
Aku mematikan lampu.
Di gelap, aku menghitung. Bukan domba. Aku menghitung hari sampai Sabtu.
Empat.
Detak jantungku tujuh puluh delapan. Normalnya enam puluh dua.
Aku mencatatnya, dalam kepala, sebagai efek sambal terasi.