← Alasannya Apa, Jey?

Chapter Four

Benalu

POV: Rose

Sarapan di rumah Menteng selalu terasa seperti rapat direksi yang kebetulan menyajikan croissant.

Papa di kepala meja dengan koran bisnis dan kopi hitam. Mama di sebelah kanannya dengan jus seledri dan tablet berisi jadwal arisan. Aku di sebelah kiri, sudah memakai blazer kerja, rambut sudah digelung, dan sudah memeriksa tiga email sebelum duduk.

Lubang di plafon ruang utama sudah ditutup terpal biru. Tukang dijadwalkan datang siang ini. Mama bilang terpal itu “merusak energi rumah”.

“Duduk, Rose,” kata Papa tanpa menurunkan koran. “Kita bicara.”

Aku duduk. Pelayan menuangkan kopi. Papa melipat korannya dengan gerakan yang sangat lambat, seperti sedang mempersiapkan pidato.

“Kamu tahu soal wasiat kakekmu.”

“Soal perjodohan dengan keluarga Farad.”

“Ya.” Papa menyesap kopi. “Kakekmu menulisnya sendiri. Satu kalimat, di lampiran wasiat. Anak cucu Weston dijodohkan dengan anak cucu Farad. Nggak ada penjelasan. Nggak ada alasan.” Ia meletakkan cangkir. “Pengacara bilang kalimat itu nggak mengikat secara hukum. Tapi kakekmu menulisnya. Dan keluarga Farad tahu itu.”

“Mereka pernah menuntutnya?”

“Belum.” Papa menatapku. “Mereka lebih pintar dari itu.”

Ia lalu bercerita. Aku pernah mendengar sebagian versinya dari Tante Miranda di acara keluarga, potongan-potongan bisik-bisik, tapi belum pernah dari Papa langsung, belum pernah selengkap ini.

Yusuf Farad dan Arthur Weston bertemu di proyek pelabuhan tahun tujuh puluhan. Kakek Arthur waktu itu mandor muda. Yusuf Farad lulusan teknik yang bekerja sebagai pengawas lapangan. Mereka bersahabat. Lalu Kakek mendirikan Weston Construction, dan perusahaan itu tumbuh, dan tumbuh, dan tumbuh.

“Dan keluarga Farad?” tanyaku.

“Tetap di tempat yang sama.” Papa tersenyum tipis, bukan senyum yang hangat. “Yusuf Farad nggak pernah punya perusahaan. Nggak pernah jadi apa-apa. Anaknya cuma guru SMA. Tapi setiap bulan, selama empat puluh tahun, ada transfer dari rekening yayasan kakekmu ke rekening keluarga Farad. Papa baru tahu setelah kakekmu meninggal.”

Aku meletakkan garpu.

“Berapa?”

“Cukup untuk membuat Papa bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mereka pegang dari kakekmu.” Papa menyandarkan punggung. “Papa hentikan transfer itu sepuluh tahun lalu. Tapi mereka tetap datang setiap tahun. Duduk di meja kita. Makan makanan kita. Menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu kesempatan, Rose. Wasiat itu senjata. Mereka cuma butuh waktu yang tepat untuk menggunakannya. Dan sekarang cucu laki-lakinya muncul. Menolak proyekmu, menyelamatkanmu di depan semua tamu.” Papa menatapku lurus. “Itu bukan kebetulan. Itu langkah pertama.”

Aku diam.

Mama menyentuh lenganku. “Sayang, Mama juga nggak suka mereka. Kamu lihat sendiri semalam, anak itu mempermalukan Tante Miranda di depan semua orang.”

“Kalungnya memang imitasi, Ma.”

“Itu bukan intinya!”

Intinya memang bukan itu. Aku tahu. Tapi entah kenapa aku nggak bisa melupakan bagaimana Zayyan memilih mengurus kotak kue ibunya daripada membalas Kevin. Bagaimana dia baru membalas ketika ibunya yang dihina.

Benalu nggak membela orang lain. Benalu cuma menyelamatkan dirinya sendiri.

Atau mungkin aku cuma masih terguncang karena lampu gantung itu.

“Karena itu,” kata Papa, “Papa mau kamu bertemu seseorang.”

Aku tahu ke mana arahnya bahkan sebelum ia melanjutkan.

“Adrian Sasmita. Putra sulung Pak Gunawan Sasmita. Sasmita Steel.” Papa menyebut nama itu seperti menyebut nilai saham. “Dia baru kembali dari Singapura, mengambil alih operasional. Dua tahun lebih tua darimu. Pintar, tampan, punya visi.”

“Dan Sasmita Steel adalah pemasok baja terbesar kita.”

“Merger kecil di tingkat keluarga akan membuat semuanya lebih efisien.”

“Aku bukan aset merger, Pa.”

“Bukan. Kamu putri Papa. Dan Papa ingin kamu bersama seseorang yang setara.” Papa berdiri, merapikan jasnya. “Selasa malam. Makan malam di Lumière. Papa sudah konfirmasi.”

“Papa sudah konfirmasi tanpa tanya aku?”

“Papa tahu jawabanmu, Rose. Kamu selalu mengambil keputusan yang logis.”

Papa keluar dari ruang makan.

Aku menatap kopiku yang sudah dingin.

Logis. Aku memang selalu mengambil keputusan yang logis. Itu yang membuatku jadi MD di umur dua puluh lima. Itu yang membuat orang-orang di kantor takut dan hormat padaku.

Tapi kali ini kata “logis” terdengar seperti pintu yang dikunci dari luar.


“Bu!” Tiara menyerbu ruanganku jam sembilan lewat dua menit dengan laptop terbuka dan rambut setengah dicepol. “Saya nemu! Saya nemu semuanya! Saya nggak tidur!”

“Kamu kan kemarin minta tidur dua belas jam.”

“Itu kalau proyeknya lolos, Bu. Proyeknya nggak lolos, jadi saya kerja.” Ia meletakkan laptop di mejaku dengan dramatis. “Setelah tahu nama belakangnya Farad, semuanya kebuka. Siap?”

“Siap.”

“Zayyan Farad. Dua puluh sembilan tahun. Anak keempat dari empat bersaudara. Ayahnya Hasan Farad, guru fisika SMA negeri di Jakarta Timur, tiga puluh satu tahun mengajar. Ibunya Laila, punya usaha katering kue rumahan. Nama usahanya ‘Dapur Bu Laila’, jualan di Pasar Rawamangun sama online. Rating Google-nya 4,9, Bu. Kue lapisnya katanya juara.”

Aku teringat kotak kue bertali rafia semalam.

“Lanjut.”

“Lulus ITB umur sembilan belas. Tiga tahun, Bu. S1 teknik sipil tiga tahun. Terus S2 sama S3 di Tokyo Institute of Technology, bidang rekayasa gempa, beasiswa penuh. Disertasinya tentang…” Tiara memicingkan mata ke layar. “‘Perilaku Kelompok Tiang pada Tanah Lunak di Bawah Beban Siklik Gempa.’ Saya nggak ngerti, tapi kedengarannya sangat relevan dengan hidup Ibu sekarang.”

Aku menahan diri untuk nggak memutar mata.

“Terus yang ini, Bu, ini yang paling aneh.” Tiara menggeser layar. “Dia pernah ditawari kerja di Singapura, perusahaan konsultan struktur internasional. Nolak. Ditawari di Dubai, buat proyek gedung tinggi. Nolak. Ditawari jadi peneliti tetap di Jepang. Nolak. Dia pulang ke Jakarta, jadi dosen tamu di dua kampus, sama jadi anggota tim ahli bangunan gedung. Anggota termuda dalam sejarah, katanya.”

“Gajinya?”

“Kecil banget, Bu. Dibanding tawaran yang dia tolak, ini kayak dari steak ke… ke kerupuk.”

“Dia tinggal di mana?”

“Masih di rumah orangtuanya. Rawamangun.”

Aku bersandar di kursi.

Laki-laki dengan otak seperti itu, yang bisa bekerja di mana saja dengan gaji sepuluh kali lipat, memilih tinggal di rumah orangtuanya di Rawamangun dan duduk di kursi paling ujung ruang sidang tim ahli.

Kenapa?

Versi Papa: karena dia menunggu. Karena dia mengincar sesuatu yang lebih besar dari gaji Singapura. Karena dia mengincar Weston.

Itu logis. Itu masuk akal. Itu cocok dengan semua yang Papa ceritakan.

Lalu kenapa ada bagian kecil dalam diriku yang menolak percaya?

“Bu.” Tiara memiringkan kepala. “Muka Ibu aneh.”

“Muka saya nggak aneh.”

“Ibu lagi mikirin dia, ya?”

“Saya lagi mikirin pondasi.”

“Pondasi yang pakai kacamata?”

“Tiara.”

“Maaf, Bu.” Tiara menunduk, lalu mengangkat ponselnya pelan. “Tapi, Bu, satu lagi. Grup WhatsApp kantor. Kemarin video Ibu ditarik dari bawah lampu gantung itu bocor. Ada yang upload dari tamu.”

“Apa?”

Tiara menyodorkan ponselnya. Video berdurasi dua belas detik, diambil dari sudut ruangan: aku di bawah lampu, lalu sosok laki-laki berkemeja putih menerobos kerumunan, menarikku, lalu lampu itu jatuh. Dan setelahnya, yang paling memalukan, kami berdua berdiri berpelukan selama sepuluh detik penuh tanpa bergerak.

Di bawahnya ada ratusan komentar dari karyawan Weston Construction.

“YA AMPUN BU ROSE”

“siapa itu cowok kacamata, kok ganteng gitu”

“10 detik nggak dilepas ya Tuhan”

“kalau gue jadi bu rose gue pingsan sekalian biar lama”

“Dan Bu,” kata Tiara dengan suara sangat kecil, “ada polling.”

“Polling apa?”

Tiara menggeser layar. Polling di grup “WESTON CONSTRUCTION – ALL STAFF”:

Mas Kacamata itu… (a) ganteng (b) nyebelin (c) dua-duanya (d) suami Bu Rose suatu hari nanti

Opsi (d) memimpin dengan 61 persen.

“Siapa yang bikin polling ini?”

Tiara menatap langit-langit.

“Tiara.”

“Saya cuma bikin opsi a sampai c, Bu! Opsi d ditambahin orang lain! Saya bersumpah!”

“Hapus.”

“Nggak bisa, Bu. Saya bukan admin. Adminnya Pak Bambang dari HRD, dan Pak Bambang milih d.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.


Siang itu aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan sejak jadi MD.

Aku membuka ulang seluruh perhitungan pondasi Weston Tower, bukan ringkasannya, bukan memo optimasi, tapi lembar demi lembar analisis aslinya. Aku menghabiskan empat jam. Aku membatalkan dua rapat dan menunda satu panggilan dengan investor.

Dan di setiap halaman, aku menemukan hal yang sama.

Dia benar.

Asumsi tanah di zona timur laut nggak didukung data. Kelompok tiang yang dijarangkan kehilangan efek kelompoknya. Faktor keamanannya masih memenuhi standar minimum, tapi pas-pasan sekali, setipis kertas. Kalau lapisan lempung lunak itu memang ada, dan pengeboran ulang minggu depan mungkin akan membuktikannya, maka faktor keamanan itu runtuh.

Gedungku runtuh.

Aku menatap layar sampai mataku pedih. Lalu aku membuka file lain: desain konsep versi Maret, yang sudah kutinggalkan.

Pola tiangnya rapat. Saling mengunci dengan balok pengikat dalam formasi yang… cantik. Aku nggak tahu kata lain untuk itu. Seperti jaring. Setiap tiang terhubung ke enam tiang lain di sekitarnya.

Siapa yang merancang pola ini? Aku ingat tim konsultan bilang mereka mengambil referensi dari “sistem lama Weston”. Sistem yang dipakai di proyek-proyek pertama Kakek. Aku nggak pernah bertanya lebih jauh.

Ponselku bergetar. Kevin.

“Rose. Rapat direksi besok jam sepuluh.”

“Agendanya?”

“Klarifikasi hasil sidang. Aku udah undang anggota tim ahli itu untuk menjelaskan langsung temuannya di depan direksi dan tim teknik kita.”

Aku menegakkan badan. “Kamu mengundang Zayyan Farad?”

“Kenapa nggak? Dia bikin klaim besar. Biar dia buktikan di depan insinyur sungguhan, bukan cuma di depan panel profesor yang udah pikun.” Kevin tertawa. “Lagian, aku punya satu masalah teknis yang mau kutanyakan. Masalah yang tim kita belum bisa selesaikan tiga bulan. Kalau dia sejenius itu, harusnya gampang, kan?”

“Kevin, ini bukan acara hiburan.”

“Memang bukan. Ini pembuktian.” Suara Kevin berubah, lebih rendah. “Om Hendra setuju, Rose. Kalau dia gagal jawab, kita punya alasan untuk mengajukan keberatan resmi atas hasil sidang. Bilang anggota tim ahlinya punya konflik kepentingan. Cucu Farad. Bias pribadi. Selesai.”

Aku diam lama.

Secara strategis, itu langkah yang cerdas. Kalau Zayyan terlihat nggak kompeten di depan direksi, keberatan kami punya dasar. Weston Tower bisa diajukan ulang dengan panel berbeda. Proyekku bisa jalan lagi.

Logis.

“Rose?”

“Dia benar soal pondasi, Kev.”

“Apa?”

“Aku baru cek ulang semuanya. Dia benar.”

Hening di seberang sana. Lalu Kevin tertawa pendek.

“Benar atau nggak, itu nggak penting. Yang penting siapa yang kelihatan benar di depan direksi. Jam sepuluh, Rose. Jangan telat.”

Telepon ditutup.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menatap layar laptop. Pola jaring di desain Maret masih terbuka. Rapat, saling mengunci, saling menopang.

Di luar jendela kantorku di lantai tiga puluh delapan, Jakarta terbentang abu-abu di bawah langit mendung. Gedung-gedung berdiri berjejer. Sebagian dibangun Weston. Sebagian dibangun Kakek.

Aku mengambil ponsel lagi, membuka kontak, dan menyadari aku bahkan nggak punya nomornya.

Laki-laki yang menolak gedungku, yang menyelamatkan nyawaku, yang bilang aku cantik dengan nada laporan cuaca. Aku nggak punya nomornya.

“Tiara,” panggilku.

Kepalanya muncul di pintu dalam setengah detik. Jelas ia menguping.

“Ya, Bu?”

“Besok jam sepuluh, rapat direksi. Siapkan ruangan.”

“Siap, Bu.” Tiara ragu sebentar. “Bu, Mas Kacamata… eh, Pak Zayyan, datang?”

“Datang.”

Mata Tiara berbinar seperti orang yang baru dapat tiket konser.

“Saya siapkan kursi paling depan, Bu.”

“Buat dia?”

“Buat saya, Bu.”